Di dalam mobil Nura menyetir dengan perasaan bahagia. Rasanya ada kepuasan tersendiri sudah berhasil menaklukan Angelo. Perasaan puas sekali sudah bisa memeluk, menggendong, dan membuat anak laki-laki Azura berputar-putar. Berbeda dengan perasaan puas Nura. Bagi Angelo itu merupakan kutukan. Hanya demi sebuah kuota game ia rela merendahkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Ia tak yakin bagaimana melanjutkan hidupnya kelak jika harga dirinya sudah terinjak-injak. Azura menyadari kalau putranya sangat malu. Wajah Angelo terlihat begitu suram seperti mau nangis, tapi bercampur dengan rasa malu. Ia sangat tahu kalau putranya tersebut memiliki harga diri yang tinggi. “Elo, kamu kenapa nak kok diam aja? Apa mau pup?” tanya Azura sengaja menggoda putranya. Elo hanya menjawab dengan

