22

1160 Kata
Ben dan Azura saling melihat dengan tatapan tak suka. Azura sudah tak tahan lagi harus berhadapan lama-lama dengan Ben. Begitu juga Ben, entah mengapa berada di dekat Azura selalu membangkitkan emosinya. Dulu saat mereka berumah tangga selalu saja bertengkar dan makin parah semenjak kehadiran Rieka. Bagi Ben apapun yang dilakukan Azura, baik itu baik maupun buruk selalu saja salah di matanya. Mendengar suara Azura walaupun bersuara lembut, tapi baginya seperti marah-marah. Entah kenapa kalau melihat wajah Azura membuatnya marah, benci, dan jijik. Hingga tak sudi lagi menatap wajah Azura. Namun, semua itu berbanding terbalik saat bersama Rieka. Mendengar suara Rieka yang bertutur kata lembut bisa membuatnya merasakan kenyamanan. Senyuman Rieka bisa membangkitkan semangatnya dan hanya Rieka lah yang paling mengerti dan memahaminya. Wajah Rieka selalu terbayang-bayang di mana dan kapanpun. “Yaa udah sekarang kamu bilang apa maumu!” ucap Azura. “Kamu bisa ga kalau tidak mengganggu Rieka,” ujar Ben dengan serius. “Hahaha, aku ingin sekali ketawa Ben. Serius deh perkataanmu bikin aku ngakak sakit perut.” Azura berpura-pura ketawa mengejek Ben. “Jadi kamu anggap perkataanku cuman main-main Ra! Aku peringatkan kamu untuk yang terakhir kalinya, jangan mengganggu Rieka.” “Bisa ga kalau kata-katanya dibalik. Bisa ga si Rieka itu tidak mengganggu aku.” Ben mengerutkan dahinya. Ia merasa Azura kurang waras. Selama ini yang mengganggu hubungannya dengan Rieka adalah dia sendiri. “Ga mungkin Rieka mengganggumu.” Ben melirik Azura rendah. “Yang ada kamu, yang ganggu Rieka.” “Sorry to say, Ben. Rieka itu ga penting banget gitu loh,” ucap Azura dengan suara mengejek Ben. “Waktu ku lebih berharga dari pada ganggu si Nyai Lakor.” “Jaga perkataan kamu! Jangan kamu mengejek Rieka, Nyai Lakor.” Ben sangat kesal Azura mengatai Rieka, Nyai Lakor. “Up’s sorry keceplosan, hehehe. Ga usah marah-marah lah Bro. Hidup ini dibawa santai sebentar jangan serius-serius amat.” Ben menghela napasnya. Ia lelah terus bertengkar dengan mantan istrinya. “Kenapa kamu menghela napas begitu? Apa kamu capek dengan semua permasalahan ini?” tanya Azura. “Iya aku capek. Gara-gara kamu sekarang wajah Rieka jadi bengkak-bengkak, peradangan, dan iritasi. Aku bisa saja laporkan kamu ke pihak yang berwajib.” Ben ngancam Azura. “Wah, kalau begitu sama dong. Aku juga mau melaporkan Rieka.” “Atas dasar apa kamu mau melaporkan Rieka. Tidak ada kesalahan apapun yang dilakukannya.” “Hahaha, maaf aku jadi tertawa terus nih abis lucu sih, hahaha.” Azura ketawa mengejek. “Sudah-sudah cukup aku ketawanya. Begini Ben Yulius yang terhormat. Aku cuman mau bilang jangan selalu menilai aku salah, tidak ada asap kalau tidak apinya jadi tanyakanlah pada wanita yang sangat-sangat kamu cintai itu, kenapa bisa aku menamparnya?” “Kamu menampar Rieka karena kamu cemburu sama dia. Dia wanita yang ku cintai bukan kamu!” Tawa Azura semakin keras. Ia tak tahan lagi mendengar perkataan Ben yang semakin tak masuk akal baginya. “Ben di rumah kamu ada cermin gede ga? Pasti ada dong, masa orang kaya raya sedunia kayak kamu ga ada cermin,” ucap Azura masih mengejek Ben. “Kurang ajar! kamu ngejek aku ya,” ucap Ben geram. “Astaga anda sensi sekali Pak Ben. Aku memujimu loh bukan menghina kamu. Kenapa malah jadi marah-marah begitu, biasa aja kali Ben.” “Dasar wanita ga tau malu!” ejek Ben. “Dasar pasangan ga tau malu!” Azura membalas perkataan Ben. “Kamu yaa.” Ben mengangkat tangannya lagi hendak memukul Azura. “Maling!” Azura berteriak. Mendengar teriakan Azura membuat Ben gelagapan sendiri, tangannya yang hendak menampar Azura langsung diturunkannya. Ben tak mengira kalau Azura akan berteriak senekat itu. “Kenapa? Kenapa kamu ga mukul aku? Kamu mau pukul aku lagi kayak dulu. Ayoo cepetan mukul, katanya kamu orang tampan, gagah, pemberani,” ejek Azura. “Tutup mulutmu, Azura! Kamu bisa membuat orang lain salah paham,” bisik Ben ketakutan. “Kenapa kamu takut? Dulu kamu ga pernah ada takutnya saat memukuli aku. Kenapa sekarang kamu malah takut pas dengar aku cuman teriak maling.” Ben menghela napasnya. Ia mencoba untuk meredakan emosinya, jika terus menerus bertengkar dengan Azura tidak akan menemukan titik permasalahan mereka. “Kamu bisa ga sih, ga memancing emosiku! Aku ke sini dengan niat baik bukan mau bertengkar.” “Niat baik apa! Kamu ke sini hanya untuk menyuruhku menjauhi Rieka. Seharusnya Rieka lah yang menjauhi ku. Dia ke rumah pagi-pagi datang-datang main tampar pipi aku jadilah ku balas. Memangnya salah aku membalas perbuatan orang yang buruk ke aku.” Azura berkata dengan emosi. “Belum lagi mulutnya yang beracun bilang Ela dan Elo kutu! Seorang ibu mana yang tidak sakit kalau anaknya diperlakukan seperti itu. Aku… aku… ga tahan kalau selalu saja dihina dan diperlakukan seperti sampah.” Ben hanya diam saja. Ia tak bisa menjawab semua perkataan Azura. Terkadang harus diakuinya kalau Rieka sedikit keterlaluan, rasa cemburu Rieka begitu besar. Apa lagi kalau menyangkut Azura pasti Rieka bisa seperti kebakaran jenggot. Bisa-bisa marah sampai seminggu. “Jadi Rieka yang datang duluan ke sini,” ucap Ben tak percaya. “Iya. Rieka duluan ke sini sambil marah-marah lalu menampar aku dan menghina anak-anak kamu, Ben. Coba kamu bayangkan betapa marah dan kesalnya aku waktu itu jadilah dia ku hajar.” Ben terkejut menatap Azura. Ia mengenal mantan istrinya tersebut. Dulu Azura sangat sabar bahkan saat Winarti menghinanya juga selalu sabar. “Lalu kenapa wajahnya Rieka sampai merah-merah, peradangan, dan iritasi seperti itu? Ga mungkin kan cuman dari tamparan itu aja bisa menyebabkan dia jadi begitu.” “Nah, itu lain lagi ceritanya. Di saat Rieka mencaci maki aku, Ela datang membawa gayung lalu menyiram Rieka, eeh belum selesai sampai di situ Elo datang bawa garam di dapur ke tubuh dan wajah Rieka.” Ben terkejut. Lagi-lagi ia tak percaya kalau anak kembarnya yang selalu penurut, baik, dan tidak pernah marah bisa melakukan hal seperti itu. “Aku sama sekali tidak pernah mengajarkan anak-anak kita melakukannya. Ela dan Elo merupakan anak-anak yang penurut, baik, dan sopan. Tentu saja kamu tau sifat dan kelakuan anak-anakmu.” “Maafkan semua perbuatan Rieka. Aku ga tau kalau Rieka sampai berbuat senekat ini. Mungkin dia takut kehilangan aku jadinya berbuat kayak gitu,” ucap Ben dengan penyesalan. Mendengar perkataan Ben membuat Azura kesal. Bisa-bisanya laki-laki ini tetap membela kekasihnya dibandingkan anak-anaknya sendiri. “Makanya dari itu aku meminta sama kamu agar si Rieka lah yang kamu kontrol bukan aku.” “Iya maafkan Rieka.” “Terkadang tanpa Rieka sadari dia itu takut kamu akan meninggalkannya lalu kembali ke aku. Hasil dari merebut suami orang tentu membuatnya sangat khawatir kalau akan direbut oleh orang lain.” Ben hanya bisa diam. Ia mengerti perasaan Azura dan juga Rieka. “Begini saja Ra. Dari pada Rieka terus datang mengganggu kamu dan anak-anak bagaimana kalau kalian pindah saja dari Semarang,” ucap Ben. Azura mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa Ben berkata seperti itu, sedangkan dia dari dulu dilahirkan dan dibesarkan di Semarang. Harus ke mana ia pergi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN