Kebahagian bukan hanya tentang materi. Bisa bertegur sapa atau saling memberi kabar dengan teman bisa menjadi salah satu kebahagiaan walau hanya dari telekomunikasi. Inilah yang dirasakan Azura saat bisa berhubungan kembali dengan sahabatnya, Nura.
Setelah berbicara dengan Nura, sahabatnya membuat Azura menjadi lebih bahagia. Akhirnya setelah berbulan - bulan bahkan bertahun - tahun mengalami permasalahan yang seakan tidak ada jalan keluarnya membuatnya merasa lebih tenang.
“Sepertinya aku harus bersantai sejenak dari pada spaneng begini bikin kerutan - kerutan ku semakin banyak lagi,” keluh Azura menatap dirinya di depan cermin.
“Me time. Aku harus me time biar lebih fresh. Kalau aku kelihatan tua nanti si lucknut dan si pelakor merasa menang lagi. Aku harus semangat!” Azura memberi semangat untuk dirinya sendiri.
“Sambil nulis dengerin lagu dulu deh biar aku semangat.” Azura mengambil headsetnya lalu mendengar lagu Yang Terdalam yang dinyanyikan oleh Ariel Noah.
“Takkan pernah aku menanti… takkan hilang cintaku ini… bila saat kau tak kembali, kan ku kenang di hati saja,” ujar Azura bersenandung pelan mengikuti lirik lagu Yang Terdalam.
Saat menendangkan lagu tersebut membuat Azura teringat pada Vino. Vino dulu cinta pertamanya. Seorang pria yang selalu bisa membuatnya tertawa dan bahagia bersama, tapi tak bisa ia perjuangkan karena temannya juga mencintai Vino. Demi persahabatan ia merelakan tidak bisa memiliki Vino.
“Astaga, kenapa malah jadi inget Vino sih.” Azura tersenyum sendiri. “Eh, kabar Vino sekarang gimana ya.” Ia penasaran dengan kabar cinta pertamanya tersebut.
“Udahlah Azura… ingat kamu bukan anak gadis lagi. Kamu itu emak-emak beranak pinak, bukan cuma 1 lagi, tapi 2.” Azura menggelengkan kepalanya, tapi ia kenangannya bersama Vino kembali menghantuinya. “Kenapa aku jadi begini sih? Aaakh kenapa!”
Azura menatap laptop yang ada di depannya dengan horor. Semakin ia mencoba fokus menulis cerita Only You, semakin membuat tak bisa untuk untuk tetap melanjutkan ceritanya.
“Alamak kenapa jadi begini. Vino pergilah kamu dari pikiranku. Pergilah yang jauh Vino.” Azura meletakkan kepalanya di atas meja. “Vino… Vino… kenapa aku dulu begitu bodoh melepaskanmu.”
Bulir-bulir air mata terjatuh di pipi Azura. Kenangan bersama Vino membuat hatinya sakit. Cinta pertama yang berakhir dengan kegagalan seakan tak ada harapan. Tanpa terasa Azura menutup matanya dan terlelap di atas meja.
*****
“Mama… mama,” panggil Angela menggoyangkan tubuh Azura yang tertidur sambil duduk dengan kepala di atas meja.
Azura tidak mendengar suara Angela, putrinya. Telinganya masih menempel headset yang dari tadi malam tak kunjung ia lepaskan. Namun, ia terbangun saat merasakan tubuhnya bergoyang. Dengan membuka matanya yang nyaris tak terbuka melihat secara sayup - sayup wajah putrinya.
“Ela,” ujar Azura melepaskan headsetnya.
“Mama kok tidur di sini? Memangnya ga sakit badannya?” tanya Angela heran.
“Maaf mama ketiduran. Sudah jam berapa sekarang?”
“Jam 8 pagi ma.”
“Ooh masih jam 8 pagi,” ucap Azura dengan menggeliatkan badannya yang terasa begitu lelah, tapi matanya jadi terbuka lebih lebar saat menyadari sudah jam 8 pagi. “Astaga, kalian harus sekolah.”
Kepanikan melanda Azura. Sekarang sudah jam 8 pagi, ia bergegas menuju dapur sambil teriak-teriak agar anak-anaknya segera mandi.
“Mama sudahlah ini sudah terlambat,” ucap Angelo yang kesal melihat Azura kebingungan sendiri.
“Tapi kalian harus sekolah. Mama juga mau mengurus pindahan sekolah kalian,” ucap Azura.
Apapun yang dikatakan anak - anaknya seakan tak didengar oleh Azura. Saat ia membuatkan s**u formula untuk anak-anaknya malah tumpah dan semuanya jadi berantakan hingga mengenai tangannya.
“Aah, panas,” teriak Azura.
Dengan cepat ia mengalirkan air untuk membasuh tangannya yang kena air panas.
“Mama!” Angela dan Angelo berlari menuju Azura.
“Mama cukup mama! Mama harus lebih tenang jangan panik seperti itu.” Angelo menatap Azura.
Air mata sudah tak sanggup ditahan Azura. Ia menangis tersedu - sedu, bukan menangis dengan rasa sakit karena tangannya terluka, tapi hatinya yang merasakan sakit. Entah kenapa hidupnya menjadi begitu berantakan. Ingin sekali ia protes pada Sang Maha Pencipta dengan apa yang telah terjadi. Namun, tak mungkin ia melakukan hal tersebut itu sama saja ia melawan takdir yang telah digariskan Tuhan untuknya.
Angelo menatap Azura dengan sedih. Ia seakan tahu apa yang dirasakan mamanya. Ingin sekali ia mengobati hati mamanya yang terluka, membuat mama nya yang sekarang sedang rapuh menjadi lebih kuat untuk menghadapi cobaan hidup. Angela juga merasakan hal yang sama seperti perasaan kakak kembarnya, Angelo. Seandainya ia bisa membuat mama nya lebih bahagia pasti akan dilakukannya.
“Mama jangan menangis lagi, mama,” ujar Angela yang ikut menangis.
Azura melihat anak kembarnya yang terlihat begitu sedih menatap keadaannya.
“Maafin aku yang membuat mama jadi begini,” ucap Angela lagi.
“Ga sayang, ga Nak. Ini bukan kesalahan Ela dan Elo. Ini kesalahan mama sendiri yang kurang hati-hati,” ujar Azura menutupi rasa sakit dihatinya.
“Ela obati yaa tangan Mama. Kak ambilin salep yang di laci meja.” Angela menyuruh Angelo.
“Iya.”
Dengan perlahan dan hati-hati Angela mengoleskan salep di tangan Azura. Kali ini Azura merasa seperti tertampar. Ia sangat menyesal atas perasaannya sendiri, anak yang dulu seakan menjadi kesalahannya malah sekarang menjadi penolong dan pengobat rasa luka di dalam hatinya.
“Nah, sudah rata deh,” ucap Angela yang puas telah berhasil mengobati luka bakar di tangan Azura.
“Terima kasih Ela dan Elo.” Azura memeluk kedua anaknya.
Saat mereka sedang dalam rasa saling menyayangi terdengar suara pintu rumah yang diketuk dan suara seorang wanita memanggil nama Azura dengan keras.
“Azura! Azura! Buka pintunya! Aku tau kamu di dalam buka pintunya jangan sembunyi.” Teriak seorang wanita dibalik pintu.
Azura menyerngitkan dahinya begitu juga dengan Angela dan Angelo. Mereka bertiga saling bertatapan heran.
“Kenapa mama sembunyi? Lah dari tadi mama aja belum keluar rumah,” ujar Angela heran.
“Siapa yaa kok pagi - pagi udah teriak - teriak begitu,” ujar Azura yang tak kalah herannya.
“Azura buka pintunya! Jangan sembunyi kamu!” Suara wanita tersebut semakin menjadi - jadi.
“Biar aku yang buka, Ma,” ucap Angelo.
“Elo jangan. Biar mama aja yang buka pintunya. Ini kok aneh banget bilang mama jangan sembunyi.”
Angelo menuruti Azura. Ia sedang tak ingin berdebat dengan mamanya sendiri. Angela dan Angelo saling bertatapan mereka penasaran siapa yang datang di rumah milik mendiang neneknya, Ninis.
Azura melangkahkan kakinya menuju pintu rumah. Ia terkejut melihat sosok wanita yang menjadi perusak rumah tangganya muncul di depan rumahnya dengan wajah marah.
“Rieka? Ngapain kamu ke sini?” tanya Azura heran.
Plak!
Azura makin terkejut saat tangan Rieka mendarat di pipinya. Rasa panas menjelajar di wajahnya. Ia sama sekali tak menyangka kalau pagi - pagi belum sarapan, belum mandi sudah mendapatkan tanda merah di pipinya.