19

1632 Kata
Setelah Angelo pergi menuju tempat bermain yang tak jauh dari meja Sugito dan Azura. Lelaki paruh baya itu menatap Azura. Tatapan Sugito seakan bertanya ada masalah apa sebenarnya ini dan ingin meminta penjelasan pada mantan menantunya. “Bisa kamu katakan apa yang terjadi Ra?” tanya Sugito penasaran. Azura sebenarnya malas menjelaskan kejadian tadi pagi yang membuatnya sangat marah dan kesal. Apakah jika ia berbicara tentang kelakuan Rieka akan merubah keadaan, tapi jika tidak mengatakannya akan berdampak tidak baik. “Begini Pak tadi pagi Rieka datang ke rumah saya dengan marah - marah,” ucap Azura. Sugito mengerutkan dahinya. “Kenapa Rieka datang ke rumah kamu? Ada urusan apa? Dan kenapa marah - marah?” Azura menggelengkan kepalanya perlahan, ia sendiri juga tidak tahu kenapa Rieka marah - marah padanya. Mungkin saja masih berhubungan dengan kejadian beberapa hari yang lalu saat ia datang ke rumah Winarti untuk mencari Ben. “Mungkin si Rieka ga suka kalau saya mencari Ben, Pak,” ujar Azura. “Hanya karena masalah seperti itu sampai si Rieka marah - marah datang ke rumahmu?” Sugito menatap tak percaya, “dia saja yang merusak rumah tanggamu, kamu tidak memperdulikannya. Benar - benar sudah salah memilih wanita.” “Saya tidak bisa menjawab apapun Pak. Mau gimana lagi itu pilihannya Ben.” “Pilihan yang salah dan saya yakin suatu saat nanti Ben akan menyesalinya.” Azura hanya diam. Ia tak ingin mengatakan apapun. “Lalu apa saja yang dilakukan si Rieka ke kamu dan cucuku?” “Saya sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan amarahnya Rieka, tapi saya paling tidak suka kalau Rieka mengatai Elo dan Elo kutu kupret. Apa salah anak-anak saya sampai Rieka begitu membencinya sampai hati bilang si kembar kutu.” Mata Azura berkaca - kaca. “Memang kurang ajar! Lihat saja dia akan ku tegur habis - habisan lalu apa lagi yang dia buat?” Azura menceritakan tentang awal kedatangan Rieka ke rumahnya. Menampar pipinya dan ia membalas tamparan Rieka dua kali mengucapkan kata - kata kurang pantas dan sumpah serapah. Bahkan Angela dan Angelo ikut membantunya mengusir Rieka. Walau dalam keadaan marah - marah akhirnya Rieka pun pergi. “Memang perempuan tidak berpendidikan! Perempuan kasar dan urakan berani - beraninya mengatai cucuku kutu, dia sendiri malah tai nya kutu malah lebih rendah lagi." Sugito emosi sendiri. "Dasar si Ben bodoh! katanya dosen termuda malah memilih wanita yang hanya bisa membuat malu. Ben kali ini benar - benar memang salah memilih wanita.” Tak ada keinginan dari Azura untuk membenarkan ataupun menyalahkan perkataan Sugito. Baginya mau salah atau tidak salah itu merupakan keputusan yang dibuat oleh Ben. Ben sudah dewasa dan seharusnya tahu mana yang terbaik untuk dirinya sendiri bukan orang lain. “Seandainya kamu mau sedikit lebih bersabar dalam menghadapi Ben tentu rumah tangga kalian tidak akan bercerai,” ucap Sugito yang sangat kehilangan Azura sebagai menantunya. “Saya bukannya tidak mau bersabar dengan Ben, Pak. Hanya saya benar - benar sudah tak sanggup lagi bersama Ben. Terlalu banyak luka batin dan fisik yang harus saya hadapi. Ben tidak pernah sedikitpun menghargai saya.” Sugito tidak mampu berkata - kata lagi. Di satu sisi ia merasa kasihan pada Azura kalau terus menerus berumah tangga dengan anaknya, tapi di sisi lainnya ia juga ingin Azura tetap menjadi menantunya. “Semenjak kamu bercerai dengan Ben, anak itu sudah berubah. Tak pernah lagi mau mendengar perkataan saya sebagai bapaknya, selalu membantah semua saran - saran, dan nasihat - nasihat yang saya ucapkan.” Sugito hanya bisa meratapi nasib putranya. “Ben hanya mendengarkan perkataan Rieka dan semuanya tentang Rieka. Jika Rieka sudah bilang tidak boleh, tidak mau si Ben langsung nurut. Ben sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya tak bisa berbuat apapun lagi. Benar - benar aneh." Di dalam hatinya Azura berkata bukan urusanku. Mau dengerin Rieka, Risa, atau siapapun. Kalau perlu mati aja sekalian si Ben. “Apa kamu tidak menyesal bercerai dengan Ben? Walau bagaimanapun Ben sama kamu sudah memiliki 2 anak. Apa Ben tidak ada artinya untukmu?” Sugito mencoba membuat Azura menyadari betapa berartinya Ben. Azura melihat Sugito dengan senyuman. “Maaf Pak bukannya mau menyinggung perasaannya Pak Sugito. Bagiku Ben sudah tak berarti lagi dalam hidupku. Nama Ben hanya membuat aku semakin menderita.” Semburat kekecewaan terlukis di wajah Sugito. Walau apa yang dikatakan Azura memang dari dalam hatinya, tapi apakah perlu sampai segamblang itu mengucapkannya. “Pak sebenarnya apa yang ingin anda katakan pada saya?” tanya Azura yang sudah lelah berbasa - basi dengan Sugito. Bukannya Azura tidak mau mendengarkan perkataan Sugito, tapi ia benar - benar lemah, letih, lesu untuk membahas tentang Ben. Masih banyak hal lain yang bisa dilakukannya dari pada tentang Ben dan Rieka. “Ooh iya saya jadi lupa dan malah melantur ke mana-mana. Maafkan saya.” “Ga apa - apa Pak. Gimana apa hal penting yang ingin Bapak katakan.” “Kita pesan makanan dan minuman dulu lah. Itu dari tadi pelayan restoran udah ngeliatin terus Ra jadi ga enak sendiri.” “Ooh iya benar juga yaa Pak.” Azura memanggil Angela dan Angelo untuk ikut memesan makanan apa yang mereka inginkan. Inilah yang paling disukai Azura kalau Angela dan Angelo mulai memesan makanan. Angela yang akan mengatur makanan apa yang harus dimakan Angelo, tapi Angelo tak ingin diatur dan ujung - ujungnya saling beradu pendapat. Peperangan dalam memesan makanan pun terjadi. “Kakak ga boleh makan itu. Masa ayam - ayam terus sih, di rumah ayam, di restoran ayam lama - lama kakak bertelur loh kalau ayam melulu,” celoteh Angela. “Biarin aku bertelur. Suka - suka aku lah, kan yang mau makan aku bukan kamu,” sahut Angelo tak mau kalah. “Begini nih kakak kalau dibilangin susah banget, omongannya juga ketus.” Angela melotot melihat Angelo. Sugito tertawa terbahak - bahak melihat kedua cucunya yang saling tak mau mengalah. Angelo yang pendiam dan dingin bisa juga terbawa cerewet jika ada Angela. Ia sangat merindukan peperangan cucunya tentang makanan. “Sudah… sudah… kalian pesan makanan sesuai keinginan masing-masing. Ela jangan mengatur apa yang Elo mau makan dan Elo jangan berkata seperti itu ke adikmu. Jaga kesopananmu!” Azura berkata dengan tegas pada anak - anaknya. Tanpa diperingatkan dua kali Angela dan Angelo menuruti perkataan Azura. Mereka berdua hanya menurut pada mamanya. Pelayan restoran pun mencatat semua makanan dan minuman yang mereka pesan. “Mama, aku sama kakak mau main lagi yaa,” ujar Angela. “Aku ga mau main. Aku bosan dengan permainan anak kecil,” ucap Angelo. “Memangnya kakak sudah usia 15 tahun apa kok bisa-bisanya bilang permainan anak kecil. Usia kakak juga baru 5 tahun jangan sok merasa dewasa deh,” cibir Angela. “Kamu ga usah cerewet. Diam aja sana main pergi sendiri. Aku mau main game dulu.” “Mama, kak Elo ga mau diajak main. Terlalu banyak main game ga baik kak buat matanya nanti bisa rusak loh kena radiasinya.” “Yang rusak kan mataku bukan mata kamu.” Azura hanya bisa menghela napasnya. Jika perdebatan Angela dan Angelo tidak ditengahi bisa membuat mereka semakin pandai bersilat lidah dan ujung - ujungnya salah satu diantara anak kembarnya ada menangis dan bisa dipastikan itu suara tangisan Angela. “Stop! Sudah cukup kalian saling bersilat lidah dan perang mulut. Elo temani adikmu main dan jangan main ponsel terus. Mana ponsel kamu.” Azura menengadahkan tangannya meminta ponsel Angelo untuk diberikan padanya. Dengan berat hati Angelo mengeluarkan ponselnya dari saku celana pendeknya. Ia sangat tidak rela jika ponsel kesayangannya harus lepas darinya walau hanya sesaat. Tangan Angelo mengulurkan secara perlahan ponselnya ke tangan Azura. Secara cepat Azura langsung merebut ponsel Angelo. Ia harus segera memasukkannya di dalam tas sebelum Angelo berubah pikiran lagi. Dengan langkah berat Angelo mengekori Angela pergi ke area permainan anak. “Ada - ada aja kelakuan si kembar,” ucap Sugito terkekeh. “Ya begitulah mereka Pak,” ujar Azura. “Apa mereka selalu bertengkar kalau memutuskan mau makan apa?” “Ga juga sih Pak. Hanya saat - saat tertentu aja.” “Tapi kok beberapa kali makan bersama keluarga dulu mereka ga kayak gitu. Diam dan nurut semua.” “Mereka takut sama Ben, Pak. Mana mungkin berani bersuara nanti bisa - bisa pulang rumah dipukuli lagi sama Ben.” Sugito terkejut mendengar kata - kata Azura yang Ben sering memukuli cucu - cucunya. “Apa Ben sering memukuli Ela dan Elo?” “Ga sering kok Pak. Hanya jika anak - anak berisik dan bertengkar. Pas Ben lagi capek jadinya emosi dan memukuli dua - duanya, tapi mau bagaimana lagi begitulah Ben yang tidak menginginkan Ela dan Elo.” “Kenapa kamu dulu tidak pernah mengatakan semuanya ke saya? Setelah bercerai begini baru kamu bilang. Ibu macam apa kamu membiarkan anak - anaknya sendiri dipukuli.” “Seandainya semudah itu saya mengatakan semuanya tentu perceraian ini tidak terjadi. Jika saya membuka semua aib rumah tangga saya yang ada saya pasti masuk rumah sakit. Ben kalau memukuli saya itu tanpa pandang bulu sampai dia puas. Kalau dia ga puas saya akan terus dipukuli sampai lelah sendiri. Sudah cukup semua kelakuan dan perbuatan yang Ben lakukan ke saya. Saya juga manusia yang punya hak untuk hidup bukan hanya di pukuli oleh anak bapak yang tukang pukul itu!” Azura berkata dengan nada tinggi. Emosinya tersulut karena perkataan Sugito. Sugito menyadari kesalahannya. Seharusnya ia tidak terpancing emosinya, hatinya sakit saat tahu cucu - cucunya menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan anaknya kandungnya sendiri. Azura sudah banyak terluka baik lahir dan batin akibat perbuatan Ben. “Memang anak itu tidak punya otak! Beraninya cuman sama perempuan dan anak kecil. Memang pengecut si Ben!” Sugito kesal sendiri pada kelakuan putranya. Sugito menghela napasnya. Sekarang saatnya ia berbicara serius dengan Azura dan ini semua menyangkut masa depan mantan menantu dan cucunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN