Airsya P.O.V
“Sya? Mau beli baju buat wisuda nanti ga?? Cari kuy!” ajak Jesi yang membuat ku semangat dan menganggukan kepala ku. Emil tersenyum menatap ku yang membuat ku bingung. “Ngapa Mil?” tanya ku. “Lo sahabat gw yang kuat, Sya. Gw harap lo bisa selalu bahagia kapanpun dan dimana pun.” Kata Emil yang ku jawab anggukan dan senyuman. “Gw ga akan bisa sedih Mil. Gw selalu di kelilingin sama sahabat gw yang always ngehibur gw saat gw sedih.” Kata ku seraya tersenyum. “Mau kemana nih nyari nya?” tanya Aul. “Ke Etta’s Boutique aja.” Kata Jesi. “Kok kayak nama kakak lo, Jes? Kakak lo pemilik butik nya?” tanya ku. “Hooh dia sama Bang Tirta di izinin ngediriin usaha butik. Deket kok sama kontrakan kita.” Kata Jesi yang ku jawab anggukan.
Kami berempat langsung menuju ke butik yang dimaksud dan saat sampai, aku tersenyum. Desain butiknya bagus! Aku bahkan udah liat banyak kebaya dari luar butik. “Sya? Beli dua kebaya ya yang satu nya biar kita ada yang kompakan.” Kata Jesi yang ku jawab anggukan. Kami berempat masuk ke dalam butik dan melihat Ka Etta sedang duduk di sofa. “Yo guys! Kalian ngapain kesini? Mau magang?” tanya Ka Etta. “Enak aja. Kita dateng mau beli kebaya kak.” Kata Emil. “Oh gitu. Yaudah dipilih gih! Mau kebaya yang udah jadi atau kain doang? Nanti biar langsung di tunjukin.” Kata Ka Etta. “Kita bahan nya aja kak.” Kata ku cepat. “Yaudah yuk!” ajak Ka Etta. Kami pun mengikuti Ka Etta dan melihat banyak kebaya yang sudah jadi. “Sya? Nanti lo jadi pengantin sekolah ya. Emil udah jadi pengantin kelas sedangkan Aul kepilih jadi pembaca pidato.” Kata Jesi. “Lo?” tanya ku. “Gw yang ngewakilin ayah buat ngasih cenderamata ke kepala sekolah.” Kata Jesi yang ku jawab anggukan. “Pasangan gw siapa?” tanya ku. “Nanti katanya di pilihin. Gw sih belum tau.” Kata Jesi yang lagi-lagi ku jawab anggukan. “Nah, kalian bisa pilih bahan nya ya. Nanti kalau udah langsung aja ke kasir. Jesi? Lo bilang ya ke Kasir kalo lo adek gw jadinya bisa gratis. Sya? Nanti kamu sama Aul dan Emil tenang aja. Gratis juga kok.” Kata Ka Etta. “Beneran kak?” tanya ku. “Iya. Dah yah gw tinggal dulu si abang nelfon.” Kata Ka Etta yang kami jawab anggukan.
Setelah Ka Etta pergi, aku dan ketiga shabaat ku mulai mencari bahan yang kami sukai. Aku menemukan kain brukat warna hitam dan kain batik berwarna hitam dengan motif bunga mawar warna emas. Aku yang tertarik langsung mengambil dua kain itu dan ku simpan. “Cuy! Buat kebaya kita berempat mau warna apa nih?” tanya ku. “Warna hijau aja. Tapi yang Hijau Tua jangan hijau muda.” Kata Emil. “Boleh juga tuh. Yaudah sekalian beli bahan yang warna hijau ya.” Kata Jesi. Aku memilih kain brukat berwarna hijau tua, kain batik berwarna hijau tua dengan pola yang biasa di temukan di batik pada umumnya, dan kain satin warna hijau tua juga. “Sya? Ambilin bahannya buat berempat ya.” Kata Emil. Aku mengambil bahan yang berwarna hijau yang sudah ku ambil untuk ketiga sahabat ku juga. “Ga salah kan gw percayain ke Airsya. Pilihan bahannya always bagus. Btw kalo buat gw, bagusnya warna apa ya?” tanya Emil. “Warna biru navy, Mil.” Kata Jesi. “Setuju!” kata ku. “Kalo buat gw?” tanya Aul. “Warna merah maroon, Ul.” Kata ku yang dijawab anggukan Jesi. “Kalo buat gw?” tanya Jesi. “Warna pink sama ungu tua menurut gw sih.” Kata ku. “Abis ini kita ke ruang pengukuran ya. Biar sekalian di jahit.” Kata Jesi yang kami jawab anggukan. “Gw udah nih.” Kata ku seraya membawa 14 kain. “Tungguin kita, Sya.” Kata Jesi yang ku jawab anggukan. Aku melihat Jesi membawa 6 kain. “Lo ngapain beli 6 kain??” tanya ku. “Gw beli 3 buat lo, Emil, sama Aul. Sisanya buat gw.” Kata Jesi yang ku jawab anggukan. Setelah kami selesai memilih bahan, kami langsung ke ruang penjahit dan kami mulai di ukur. Setelah itu, kami menjelaskan desain yang kami mau dan untuk mempermudah, kami menggambar desainnya di kertas dan mencantumkan nama kami.
Aku langsung menggambar atasannya dulu. Aku membuat atasan dengan lengan panjang dan kerah yang berbentuk V Neck. Setelah selesai, aku langsung menyambungkan desain atasan ke gambar ku selanjutnya yakni bawahan berbentuk mermaid skirt. Yakni rok berbentuk ekor duyung yang bagian paha nya mengetat. Aku juga menambahkan ekor pada bagian belakang rok. “Wow. Bagus ish jadi kayak gaun nikah beneran.” Kata Emil melihat desain ku. Aku melihat desain nya. Bagus juga kok. Tapi kalau dia lebih nambahin beberapa ekor di bagian pinggang tapi ga sampai depan. Pasti bagus. “Mil? Menurut gw baju lo bagusnya ada ekor di bagian pinggang tapi ga sampai ke depan. Jadinya cuman nutupin pinggang sampai bawah gitu. Gimana?” tanya ku. “Iya yah, Sya. Tapi menurut lo kalau misalkan gw nagian ekor tangan gw ubah jadi ekor punggung. Jadinya nutupin punggung ke bawah gitu. Menurut lo gimana?” tanya Emil. Hey! itu brilliant! “Kalau gw sih setuju mil. Karna itu brilliant banget idenya.” Kata ku tersenyum. “Sya? Menurut lo desain gw apa yang kurang?” tanya Aul. Aku meneliti desainnya. “Lo kan baca pidato atau puisi gitu Ul. Jadinya jangan kepanjangan ekornya. Coba ekor tangan lo dipendekin nah sisa kainnya lo bikin jadi penghias bagian pinggang. Semacam gesper tapi kalau ini dari kain.” Kata ku menyarankan. “Kalo gw, Sya? Menurut lo apa yang kurang?” Tanya Jesi. Aku memperhatikan desainnya. “Coba bagian d**a nya di tutupin. Jadi kain yang buat ekor lo jangan dipakai semua. Bikin juga buat bagian dadanya.” Kata ku yang dijawab anggukan Jesi. “Sya? Kalau yang buat kita kompakan gimana nih enak nya? Coba deh lo gambar.” Kata Emil. Aku mulai mencari inspirasi dan akhirnya ketemu. Aku langsung menggambar bagian atasnya yang sedikit memperlihatkan belahan d**a kami dan bermodel one shoulder jadinya hanya satu tangan kami yang tertutup yang menggunakan kain brukat, lalu untuk bagian bawahnya memakai kain baik yang berbentuk mermaid skirt dan untuk tambahan, kain satin akan di bentuk menjadi dua bagain yaitu sebagai selendang dan untuk ekor rok. “Nih udah.” Kata ku yang langsung membuat ketiga sahabat ku melihat desain yang ku gambar dan mereka tersenyum. “Bagus. Fiks! Lo jadi pj desain baju aja dah!” kata Jesi.
Setelah kami selesai, kami langsung meminta nota nya ke kasir walau sempat di tolak sama kasir itu karna tau kalau Jesi adiknya Ka Etta tapi akhirnya kami membayar karna kami membujuk kasir. “Ok, untuk baju selesai. Yang belum tinggal aksesoris.” Kata Aul. “Yaudah kita beli aja. Mau sekarang?” tanya ku. “Ayo deh. Hari ini kita full cari buat perpisahan kita seangkatan.” Kata Jesi. Kami mencari aksesoris namun ga ada yang cocok gitu. “Sya? Aksesoris nanti aja lewat online. Kalo kalian mau pakai cincin, mendingan cari sekarang jangan di online karna kadang ga muat.” Kata Emil yang ku jawab anggukan. “Kita cari high heels nya kuy!” Ajak Jesi yang kami jawab anggukan. Kami mencari high heels yang cocok untuk kami dan kami mmebeli nya. Aku membeli high heels yang bermodel Stiletto Heel Tom Ford yang sempat ikonis di tahun 1950-an yang tingginya sekitar 10 cm. Jesi membeli yang bermodel pumps yang tinggi nya sekitar 5 cm. Emil memilih membeli Ankle Strap Heel yang tinggi nya hanya 5 cm. Sedangkan Aul membeli High heels bermodel Peep Toe Heel dan kami membelinya sama-sama warna hitam.
Kami segera pulang ke kontrakan dan beristirahat di ruang tamu. “Gimana, Sya? Apa ada yang komen di ig kita yang perihal hubungan lo sama Maul?" tanya Jesi. “Ada. Tapi udah deh ga usah di pikirin.” Kata ku. “Eh nyanyi kuy! Kalian ga bosen apa?” tanya Emil. “Mendingan kita cari aksesoris aja, Mil. Gw lagi mager nyanyi.” Kata ku. Saat aku sedang membuka aplikasi online shop, aku mendengar ada yang mengetuk-ngetuk pintu. “Eh ada yang ketuk pintu. Gw buka dulu ya.” Kata ku seraya berjalan ke depan pintu dan melihat ada kurir pengantar paket. “Paket!” kata kurir itu. Aku langsung membuka pintu dan melihat si kurir itu tersenyum. “Permisi, apa benar ini rumah Mbak Airsya?” tanya kurir itu. “Iya dengan saya sendiri. Ada apa ya?” tanya ku. “Ini ada paket untuk mbak. Dan ini ada paket untuk mabk Emil, Mbak Jesi, dan Mbak Aulia.” Kata kurir itu seraya memberikan 4 paket. “Dari siapa ya?” tanya ku. “Itu dari alamat yang tertera, mbak.” Kata kurir itu seraya tersenyum. “Oh gitu, ya sudah makasih ya.” Kata ku tersenyum seraya membawa 4 paket itu.
Aku masuk ke dalam dan membuat ketiga sahabat ku penasaran. “Nih Jes paket lo.” Kata ku memberikan paket atas nama Jesi. “Ini buat Emil.” Kata ku. “Ini buat Aul.” Kata ku seraya memberikan paket. “Ini dari siapa dah?” tanya Jesi. “Ga tau. Coba aja liat pengirimnya.” Kata ku seraya mencari nama pengirimnya. Saat ketemu ternyata dari ayah di Solo. “Gw dari mama gw.” Kata Jesi. “Iya gw juga.” Kata Emil. “Kalo gw dari teteh gw.” Kata Aul. “Buka barengan yuk!” ajak ku. Kami mulai bersiap lalu membuka paket nya barengan. Aku melihat Jesi tersenyum mendapatkan Gelang Mutiara yang sangat berkilau. Sedangkan Emil mendapatkan gelang Bangle yang terbuat dari Emas sebanyak 6 gelang. Aul mendapatkan gelang tangan emas putih dengan ukiran di gelangnya. Sedangkan aku mendapatkan gelang yang di sambung dengan cincin berwarna emas. Di dalam paket yang ku terima ada satu surat juga.
Aku tersenyum membaca surat dari ayah ku. Memang sih keluarga ku dengan ketiga sahabat ku sudah saling kenal jadinya orang tua kami berteman bahkan kadang kalau orang tua kami datang ke kontrakan, mereka akan sama-sama main catur dan kadang ngobrol bersama. Itu sih yang aku suka dari orang tua ku dan ketiga sahabat ku. Mereka bisa kompak.
Aku bahkan masih inget pas kelas 11, orang tua kami jalan-jalan bareng keliling Jakarta. Well, itu bagus karna artinya mereka saling kenal. “Wih!! Lumayan nih jadinya ga perlu beli gelang.” Kata Jesi yang ku jawab anggukan seraya tersenyum. “Iya juga ya.” Kata Aul. “By the way, Jes? Baju nya kapan jadi deh?” tanya Emil. “Kemungkinan sih minggu depan. Kenapa emang?” tanya Jesi. “Enggak sih. Gw mau ngeliat sama nyoba. Jadinya kan bisa tau bagusnya pake aksesoris apa. Gw ada dua pilihan nih antara Jawa Tengah sama Sunda.” Kata Emil. “Gw sih Jawa.” Kata ku. “Wah iya gapapa, Sya. Identitas lo kan emang itu.” Kata Jesi yang ku jawab anggukan seraya tersenyum.
“Gw mau kayak yang di Jogja aja deh.” Kata Emil yang ku jawab anggukan. “Aul? Lo mau gimana?” tanya Jesi. “Beliin aja gw cundhuk mentul satu.” Kata Aul. “Lo emang mau kayak gimana Ul?” tanya ku. “Ada nanti gw yang arahin, kalian yang pasangin.” Kata Aul yang kami jawab anggukan. “Kalo gw nanti cuman di sanggul kecil aja sama nanti di tambahin hiasan bunga melati.” Kata Jesi yang kami jawab anggukan. “Mau langsung di pesen sekarang juga?” tanya Aul yang ku jawab anggukan. “Mendingan sekarang, jadinya nanti bisa tenang kalo udah mendekati hari H.” kata ku. “Yaudah pakai HP siapa nih?” tanya Jesi. “Pakai HP gw aja. Kita langsung beli.” Kata Emil yang ku jawab anggukan. “Beli yang warna silver aja. Biar kompak.” Kata ku yang dijawab anggukan ketiga sahabat ku. “Jes? Kira-kira ada latihan buat nanti kapan ya?” tanya ku. “Nanti gw tanya ke pihak TU dulu ya.” Kata Jesi yang ku jawab anggukan. “Sya? Kalau semisalnya nanti yang di jadiin pasangan lo si Maul gimana, Sya? Kan lo tau sendiri banyak guru di sekolah yang ngefans sama dia.” Kata Aul yang membuat ku menaikan satu alis.
“Kalaupun emang sama Maul, ya gw sebisa mungkin bersikap profesional lah. Gw ga mau malu-maluin.” Kata ku seraya tersenyum. “Serius ga keberatan?” tanya Jesi yang ku jawab anggukan. “Tapi usahain lah jangan sama dia. Coba cari yang lain.” Kata ku yang membuat Jesi dan Aul tertawa sedangkan Emil menggelengkan kepala nya. “Mil? Lo nanti sama Rey aja gimana? Gw mah tau kok lo suka sama dia.” Kata Jesi yang membuat Emil kaget. “Lo tau dari mana?” tanya Emil. “Keliatan aja dari tatapan lo ke dia kalo kalian ngomong. Lagian kayaknya Rey suka juga lho sama lo.” Kata Jesi. “Ekhem! Kayaknya ada yang mau jadian nih!!” kata ku meledek Emil. “Sya? Kita kapan nih mulai buka usaha yang Lemon? Kuy lah besok kita jualan.” Kata Aul yang ku jawab anggukan. “Iya, Ul. Tapi kan sayang banget kalo tempat Catlyn,dkk ga di pakai. Mendingan ada juga yang ngurus fotocopyan mereka.” Kata ku. “Gini aja, Sya. Kita ajak aja beberapa anak disini yang nyari kerja sampingan.” Kata Jesi yang ku jawab anggukan. “Ya udah kita mulai besok. Jangan lupa chat si ibu.” Kata Emil. “Lo aja Jes yang ngechat. Gw mau ambil buku. Kita harus belajar nih.” Kata ku seraya berdiri dan menuju ke kamar ku. Aku mengambil buku berisikan penguasaan materi untuk UN nanti. Tanpa ku sadari, aku tersenyum mengingat sebentar lagi aku akan lulus SMA dan akan segera pulang bertemu keluarga. Aku berjalan menghampiri ketiga sahabat ku dan meletakan buku di meja. “Cuy! Nanti abis wisuda, kalian mau pulang ke rumah kalian masing-masing atau di kontrakan dulu?” tanya ku. “Gw mau balik ke Sumedang.” Kata Aul. “Gw mau ke Cirebon.” Kata Emil. “Nah kalo gw mau ke Manado.” Kata Jesi. “Kalian mau langsung kuliah atau istirahat?” tanya ku. “Istirahat dulu sih kalo gw mah.” Kata Jesi yang dijawab anggukan ku, Emil, dan Aul. “Lo sendiri, Sya?” tanya Aul. “Gw langsung balik ke Solo dan kemungkinan langsung kuliah kalo gw.” Kata ku seraya tersenyum.