Tubuh Khatrine terasa lemas ketika pandangannya tertuju pada sesuatu di atas meja ruang tamu. Ia langsung terduduk memeluk lututnya sendiri. Perlahan air mata Khatrine turun, ia menelungkupkan wajahnya dilutut dan terisak pelan. Tangis yang awalnya pelan itu berubah jadi kencang dan memilukan. Kenangan-kenangan yang sudah Khatrine coba lupakan kini kembali melintas dikepalanya, membuat Khatrine merasa pusing dan ingin muntah. Ia lantas berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Tapi setelah berjongkok di kloset, tidak ada apa-apa yang keluar selain cairan putih. Jujur saja, semenjak beberapa hari yang lalu, Khatrine memang jarang sekali makan. Dan ia ingat jika kemarin ia sama sekali tidak makan dan hanya meminum air putih saja. Dengan tubuh lemasnya, Khatrine terduduk denga

