Elina duduk di ujung sofa, menatap kosong ke arah jendela yang dipenuhi embun tipis. Pikiran dan perasaannya berkecamuk. Rasa curiga itu tak bisa lagi dia abaikan. Bagaimana jika benar Radit—pria yang kini begitu dekat dengannya—adalah dalang dari kematian mantan suami dan anaknya? Jika itu kenyataannya, maka selama ini dia hanya bermain dalam jebakan yang disusun dengan rapi. “Bi, aku izin keluar ya,” katanya pelan, setengah bicara pada diri sendiri, setengah memberitahu Bi Yati yang tengah menyuapi Jio biskuit. Bi Yati menoleh. “Mau ke mana, Non?” Elina menghela napas pelan, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. “Aku ingin berkunjung ke rumah mertuaku. Ada yang perlu aku pastikan.” Baru saja dia melangkah menuju pintu, suara ketukan terdengar. Saat pintu dibuka, dua sosok familiar

