Tragedi Lampau

2080 Kata
Mereka berempat duduk terdiam memandang raut muka Zek. Teman Canuto yang baru saja dipanggil tadi. Mereka semua terlalu terkejut mendengar penjelasan dari Zek. Tentu saja, ini hampir satu jam mereka berada di sini, setelah terbawa oleh portal itu. Dosen dan teman mereka yang ada di dunia yang biasa mereka tinggali pasti mencari mereka jika tidak segera kembali. Tapi apa yang baru saja mereka dengar. Katanya, mustahil mengembalikan mereka untuk saat ini. "Pasti ada cara lain, Paman." Kyra tetap memohon agar mereka bisa kembali sekarang. "Memang ada, tapi dalam waktu secepat ini, itu mustahil, Nak. Maaf, karena perbuatanku tidak sengaja membawa kalian ke sini." Zek ikut kecewa karena tidak bisa membantu. Sungguh, dia sendiri tidak bermaksud demikian. "Apa kita bisa berinteraksi dengan klan lainnya? Mamaku Fairy , aku juga, kami bisa melakukan interaksi jatuh jauh meskipun tanpa alat elektronik." Lea mengusulkan pendapat, karena klannya bisa melakukan itu. "Tidak bisa, Nak. Tempat ini telah dilindungi dengan ketat. Kekuatan apapun, keahlian apapun, bahkan sinyal apa pun yang dimiliki para klan sangat sulit untuk ditembus." "Memangnya tempat apa ini sebenarnya?" Alif mengerutkan dahi, hanya dia yang dari tadi bisa bersikap tenang di antara yang lainnya, tapi tetap saja, sebenarnya di dalam hatinya dia cemas. "Ini adalah sentral gudang rahasia dari sejarah para klan, ada banyak benda dan info penting di sini. Kami juga penjaga gerbang antar Klan. Kami di sini sudah ratusan tahun. Benteng pertahanan di sini sangat kuat, tidak ada satu pun yang berhasil menembusnya, kecuali perang yang terjadi dua puluh tahun silam." Zek mengangguk, dia membenarkan penjelasan Canuto. Mereka berdua memang sudah lama menjaga di sini. Meski pun Canuto lebih dulu menempati tempat ini, tapi Zek tidak bisa dibilang sebentar berada di sini. "Kalau tempat ini sepenting itu, lalu bagaimana bisa, kamu membawa kita kemari, jika semua yang dijelaskan saja terasa mustahil." Alif masih belum bisa memahami di antara penjelasan rumit itu, jika demikian ketat, bagaimana mungkin mereka mampu menembus benteng pertahanannya. "Itu yang tadi dilakukan, Zek. Dia tidak sengaja menemukan buku kuno yang memberi tahu caranya membuat portal rahasia yang bisa menembus pertahanan benteng paling kuat, dan setelah sekian lama mencoba, dia akhirnya berhasil melakukannya." "Aku tidak tahu kalau itu bisa berhasil, Canuto. Aku kira itu gagal. Jika saja remaja ini tidak datang ke sini, pasti aku mengira percobaanku kembali sia-sia." Zek ikut menimpali, antara senang dan merasa bersalah. "Tetap saja kamu membuat mereka kesusahan, Zek. Lihat! Raut muka menyedihkan yang terpancar di sana." Zek mengamati satu persatu wajah remaja yang ada di depannya, semuanya nampak cemas kecuali Alif. "Maafkan aku, aku belum bisa menemukan solusi saat ini mungkin dua-tiga hari kalian bisa kembali ke dunia kalian?" "Apa? Itu sangat lama. Mama pasti khawatir, Ra." Lea semakin panik. "Pasti ada cara lain yang lebih cepat. Aku mohon bantu kami." Kyra terlihat sangat memohon. "Sebenarnya ada cara cepat untuk solusi ini, tapi aku tidak bisa melakukannya." "Kenapa?" Randai ikut bertanya setelah sekian lama terdiam. "Karena aku tidak bisa menemukan buku kuno tak terlihat yang menjadi solusi di antara masalah." "Maksudmu buku itu benar-benar ada?" Canuto memandang Zek dengan seksama. "Ada, tapi aku tidak bisa menemukan, hanya orang khusus dari keturunan khusus yang bisa menemukan. Tidak sembarang orang bisa melihatnya dengan mata telanjang. Di buku kuno yang kutemukan sebelumnya, ada beberapa bagian tulisan yang hilang, dari sejarah yang ku ketahui, hilangnya tulisan itu bisa di kembalikan melalui buku kuno tak terlihat. Tapi entah bagaimana cara menemukannya, aku sudah mencoba mencari, tapi tidak kutemukan, maka dari itu aku menawari bantuan tiga hari mendatang, mungkin saja aku bisa memberi solusi" "Bukankah buku yang kamu maksud sama--maksudku buku kuno yang membuatmu bisa membawa kami ke sini, dan buku kuno tak terlihat itu." Zek menggeleng menanggapi Kyra. "Itu buku yang berbeda, di sini banyak sekali buku kuno, tapi hanya ada satu yang spesial, yaitu buku kuno tak terlihat yang menjadi solusi di antara masalah." "Panjang sekali judulnya, siapa pengarangnya membuat judul sepanjang itu." Kyra menyikut Randai, lemas sekali mulut lelaki vampir ini. "Tidak ada judul di buku itu, Nak. Kami memberi nama tersebut karena buku itu memang tidak mudah ditemukan, dan dia juga yang bisa memecahkan banyak masalah." "Jika bukunya tetap tidak ketemu bagaimana?" "Jika tidak ketemu, kalian akan lebih lama lagi di sini." "Itu tidak bisa, memangnya kalian tidak pernah keluar dari sini?" Canuto menggeleng. "Gerbang pertahanan ini hanya bisa dilewati dua orang saja. Sesuai penjaga di dalamnya, memang seperti itu sistemnya. Kami jarang keluar bersama, lebih tepatnya tidak pernah, karena salah satu di antara kami harus berada di dalam jika salah satunya berada di luar, untuk membuka kunci bila salah satu dari kami ada urusan di luar. Karena tempat ini hanya bisa di lewati tanpa di masuki--" "Tapi kami--" "Itu pengecualian karena ulah, Zek. Kalian adalah yang pertama yang bisa menembus." Canuto memotong ucapan Lea yang tadi sempat memotong ucapannya. "Aku punya solusi. Itu mudah, satu persatu di antara kami akan keluar ditemani salah satu dari kalian sampai di luar batas pertahanan. Begitu terus, sampai semuanya bisa keluar, dan salah satu dari kalian bisa kembali masuk untuk menjaga tempat ini." Randai memberi usul yang diangguki Lea dan Kyra, itu ide bagus. "Tidak semudah itu, Nak. Gerbang itu hanya bisa terbuka dua kali saja dalam dua hari, itu pun keluar dan masuk saja, setelahnya kalian harus menunggu sampai dua hari mendatang untuk bisa membukanya lagi." Zek menjelaskan dengan serius. Itu bukan perkara mudah yang bisa keluar-masuk seenaknya. "Ini menyebalkan, kenapa kita harus terjebak di dalam sini tanpa ada solusi." Randai kesal juga akhirnya. "Ada, Randai. Kata Paman Zek tadi kita bisa menemukan solusi di buku kuno tak terlihat, akan kami bantu carikan, Paman. Di mana buku itu tersimpan?" Kyra mengusulkan sambil sesekali melihat ke arah teman-temannya, semua mengangguki, siap untuk membantu. "Ayo ikuti aku, akan kutunjukan di mana buku itu tersimpan. Tapi aku tidak menjamin kalau kalian bisa menemukannya." Zek bangkit berdiri, kemudian berjalan untuk menunjukkan letak buku kuno yang dimaksud tadi. Saat mereka telah memasuki ruangan lain, dengan ajaib ruang yang telah mereka tinggalkan menjadi sepi, padahal di ruangan itu ada Canuto yang masih di sana. "Ini keren! Bagaimana ruangan ini bisa melakukannya?" "Itu ilusi. Bangunan ini memang dirancang sedemikian rupa. Pengendali terbaik pusaka sakti yang melakukannya, sebelum dia tiada, dia membangun bangunan ini untuk melindungi pusaka-pusaka sakti itu. Sebelumnya semua aman hingga akhirnya perang itu terjadi, dan membuatnya memilih menghancurkan semua pusaka sakti itu." Zek menjelaskan tentang bangunan yang baru saja dikagumi Randai. "Itu berarti, perang yang terjadi dua puluh tahun silam begitu besar kalau dia saja sampai melenyapkan semua pusaka-pusaka sakti." "Benar, dampak yang ditimbulkan juga sangat besar. Akan selalu ada harga yang dibayar setiap kali selesai perang. Semua Klan terpecah, banyak prajurit dan panglima handal harus tewas, pusaka-pusaka sakti pelindung para Klan juga dimusnahkan. Tidak ada hal baik apa pun yang ditinggalkan, hanya menyisakan duka. Meski pun waktu bisa jadi penyembuh, tapi sejarah akan selalu mengingatnya." Remaja itu mengangguk mendengarkan penjelasan Zek. Dia berhenti tepat di sebuah tempat yang entah apa itu. Di sana berantakan, buku berserakan, ada beberapa botol entah apa itu, seperti ruang laboratorium. "Kalau boleh tahu, kenapa pengendali terbaik itu memusnahkan semua pusaka sakti? Bukankah pusaka itu adalah pelindung para Klan?" Alif bertanya heran, meskipun dia juga pernah mendengar cerita tentang perang itu, tapi tidak semua ia ketahui. "Pusaka sakti itu memang pelindung para Klan, tapi ada pihak tertentu yang serakah menginginkan kekuasaan, mereka bisa melipatgandakan kekuatan yang dimilikinya jika mampu menguasai pusaka sakti, dan akhirnya mereka mengumpulkan pasukan, hendak merebut pusaka-pusaka itu guna menambah kekuatan agar dapat menguasai seluruh Klan. Setelah pasukan terkumpul, dia segera meluncurkan perang di pusat pemerintahan, yaitu di kerajaan Emerald. Perang itu terjadi, mereka berhasil menembus benteng pertahanan pusat pemerintahan, lalu memporak-porandakan tempat itu, mereka terus merangsek maju dan berhasil menaklukkan pengendali terbaik." "Sebentar, itu berarti, pengendali itu tidak begitu sakti kalau bisa ditaklukkan?" Randai menghentikan langkah, mengajukan pertanyaan untuk Zek, sedangkan yang ditanya hanya menggeleng pelan. "Tidak, Nak. Saat itu pengendali terbaik memang tidak terlalu siap untuk bertempur, istrinya baru saja melahirkan, bayangkan saja, apa yang akan kamu lakukan diwaktu bersamaan jika mendapat berita bahagia dan duka? Pasti tetap ingin di rumah dan melindungi keluarga 'kan? Tapi tidak dengan dia, setelah dia menemui anak dan istrinya--meski pun sebentar, dia langsung pergi berperang memimpin pasukan untuk melindungi pusaka itu--sebelumnya pun dia masih sempat memberikan perlindungan pada anak dan istrinya. Beberapa pengawal dia perintahkan untuk menjaga. Berjaga-jaga untuk kejadian tak terduga. Dia juga menggunakan kekuatan dari pusaka sakti itu, semua takjub, terkesima setiap kali lelaki itu menggunakan kekuatan dari pusaka sakti, mereka akhirnya berhasil menggempur mundur pasukan musuh. Tapi disaat mereka hampir menang, dia mendapat kabar duka, istrinya dibunuh dan anaknya yang masih bayi disandra. Tanpa ia sadari ternyata pasukan musuh ada yang menyelinap masuk di kediamannya, dan memanfaatkan keadaan itu untuk menyerang balik. Penjaga di sana bisa dilumpuhkan dengan mudah, berita duka yang didengarnya berhasil memporak-porandakan pikirannya, konsentrasinya kacau, dia kehilangan kendali pada pusaka sakti itu. Tanpa pengendali terbaik, pusaka itu hanyalah seonggok barang tidak berguna. Pasukan musuh kembali memanfaatkan keadaan, mereka berhasil merangsek maju kembali sampai berhasil menembus benteng pertahanan pusat kota Kerajaan Emerald. Dan pemimpin mereka selangkah lagi bisa mendapatkan pusaka itu." Zek, terdiam seperti tengah mengingat peristiwa lalu yang menyedihkan. "Itu gawat, Paman Zek, kasian sekali Pengendali itu, dia harus kehilangan istrinya, bahkan anaknya yang hanya sekejap ditemuinya." Kyra meneteskan air mata, merasa sedih dengan cerita yang didengarnya. Ia tidak bisa membayangkan jika berada di posisi itu. Zek yang mendengar ucapan Kyra mengangguk setuju, itu memang peristiwa yang menyakitkan. "Aku punya pertanyaan lain. Tadi paman bilang pusaka itu hanya seonggok pusaka tak berguna jika tidak dipegang sang pengendali, lalu untuk apa mereka berperang memperebutkannya jika tidak bisa digunakan?" "Klan Lycanthrope memang cerdas. Itu pertanyaan bagus. Pusaka itu memang tidak akan berguna jika tidak sang pengendali yang memegang, tapi pusaka itu masih bisa digunakan orang yang punya tekat kuat dan kekuatan lebih besar dari Klan lainnya. Kekuatan pusaka itu masih bisa berfungsi dengan baik, meski pun tidak sebesar kekuatan sang pengendali. Maka dari itu, mereka berniat merebut dan melenyapkan Sang Pengendali agar tidak ada lagi yang bisa menghalangi mereka." Mereka semua akhirnya berhenti di tengah jalan, tidak melanjutkan tujuan mereka mencari buku kuno solusi, ikut penasaran dengan kejadian dua puluh tahun silam. "Ceritamu rumit sekali, Zek. Kalau boleh tahu, siapa yang menyebabkan perang itu terjadi, dari pemimpin Klan apa dia?" Alif menaruh barang yang tadi sempat disentuhnya. "Kalian banyak bertanya ternyata." Zek terkekeh sebentar. "Tapi akan aku ceritakan, kalian adalah keturunan para klan, hal ini sudah seharusnya kalian ketahui." Zek melirik ke arah Kyra sambil tersenyum. "Pengecualian untuk gadis yang di sebelah Klan Fairy. Tapi tidak apa, dia juga terlanjur terdampar di sini. Lagi pula, sepertinya dia sudah mengetahui banyak tentang kalian." Mereka saling pandang sejenak, melirik Kyra yang menjadi tidak enak karena berada di sini. "Tidak apa, Nak. Asal kamu bisa menjaga rahasia, itu tidak masalah." Zek menenangkan Kyra. "Baik, akan aku lanjutkan. Sampai mana tadi pertanyaanmu-- ah, iya, siapa pemimpin pasukan musuh. Dia adalah Klan Lucifer, aku kurang tahu siapa dia, waktu itu dia menggunakan topeng, mereka hanya menyebutnya .... Sang Legenda--" "Sang Legenda?" Zek mengangguk. "Benar, itu sebutan untuk pemimpin Klan Lucifer, tidak ada yang tahu pasti bagaimana rupanya sampai sekarang, karena dia juga ikut menghilang setelah perang itu usai." Mereka mengangguk, sedikit banyak mulai paham bagaimana perang itu dulu terjadi. "Kalau boleh tahu, kenapa dia dijuluki Sang Legenda, Paman?" Kali ini Lea yang bertanya. "Dulu ia dijuluki Sang Legenda, karena kekuatannya yang besar, dengan kekuatan yang lebih besar dari Klan mana pun itulah dia juga mampu mengendalikan pusaka sakti itu, makanya dia punya ambisi kuat untuk bisa mendapatkannya. Kalau soal nama, aku tidak terlalu paham, dari dulu dia hanya dijuluki itu, wajahnya juga tidak banyak yang tahu." "Di awal cerita tadi, kamu bilang Pengendali itu telah melenyapkan semua pusaka, berarti pusaka sakti itu sudah tidak ada lagi?" Dua orang yang tidak mau memanggil paman itu hanya Randai dan Alif. "Tidak, Nak. Pusaka itu masih ada yang tersisa. Aku jelaskan sambil berjalan, kita harus mencari buku kuno solusi itu. Kalian ingin pulang kan?" Mereka semua mengangguk. "Setelah Pengendali itu bisa ditaklukkan, dia dipaksa untuk memberikan pusaka itu pada Sang Legenda. Tidak ada pilihan lain memang, karena anaknya ternyata disandra di sana." "Di mana bayi itu disandra?" "Di sini." "Di sini?!" Alif sedikit terkejut. Zek mengangguk mantap. "Tempat pusaka itu tersimpan. Pusaka itu memang dimusnahkan, tapi tidak semua pusaka sakti itu hancur. Ada yang masih tersisa, tersembunyi entah di mana dan terpotong menjadi empat bagian." "Lalu apa yang terjadi pada pengendali itu?" Lea bertanya dengan raut penasaran. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN