BAB 5 : JUNA MULAI MENCARI SENNA

1621 Kata
“Jadi gimana ?” tanya bobby saat duduk bersama yoyo di sebuah bar milik alex. “Apa yang mau lo denger, bang ?” bukannya menjawab, yoyo malah memberikan pertanyaan lain pada bobby. Sejak misinya berjalan hari ini, yoyo yang tadinya sangat bersemangat tiba - tiba berubah menjadi lesu. Bagaimana tidak, dia mengingat tatapan senna saat aksi menyapanya tadi. Kalau begini bisa - bisa yoyo kalah sebelum berperang. Atau mungkin lebih tepatnya abi yang kalah sebelum berperang. Yoyo tak bisa mendekati senna dengan penampilannya yang sesungguhnya. Senna tak menyukai penampilan seorang yoshua yang tampan dan sangat populer. Gadis itu menyukai sebuah kesederhanaan pada seorang pria. Entah apa alasannya, nanti ingatkan yoyo untuk mencari tahu tentang hal ini. “Kenapa lo ?” tanya bobby lagi, kali ini sahabatnya itu duduk menghadap ke arahnya seakan sangat berminat terhadap kejadian yang terjadi hari ini. “Apa ?” yoyo melirik bobby dengan tatapan permusuhan. Dia tahu jika menceritakan hal tadi pada bobby, yoyo akan ditertawakan. “Senna nolak lo pasti.” tebak bobby. “Gak!!” “Terus ?” “...” yoyo menghembuskan nafas beratnya. “Gue nyapa dia.” “Terus ? Lo dicuekin ?” kali ini tebakan bobby benar. Sangat benar hingga berhasil membuat mood yoyo semakin terjun. “HAHAHAHA…” tawa bobby terdengar sangat renyah. “Puas lo, bang ?” “Hey, lo menobatkan diri sebagai manusia banyak akal kan ?” yoyo mengangguk. “Masa baru dicuekin aja lo putus asa ? Cari jalan keluar, yo. Lo nggak profesional banget.” ejek bobby. “Ngomong tuh gampang ya, bang ?” “Bener.” “Prakteknya yang susah.” lanjut yoyo. “Nah, itu lo tau kan.” “...” yoyo lalu memicingkan mata. “Mangkanya gue ingetin lo lagi, kalo ngasih saran tuh emang gampang. Lo nggak tau kan betapa susahnya ngelakuin hal itu. Sama kayak yang biasanya lo lakuin ke gue.” jelas bobby lagi. “...” yoyo kembali diam dan hanya bisa kembali menampilkan wajah lesu. Terkadang dia tidak ingin mengetahui bahwa kata - kata bobby sangat benar. Sesekali dia ingin dihibur juga. “Gue tau hidup lo juga lagi berat banget, bang. Tapi plis, buat kali ini jangan ajak gue ya.” akhirnya yoyo mengatakan hal itu sambil menepuk bahu bobby. Lalu, ketika dia berdiri untuk pergi ke toilet tiba - tiba juna sudah berdiri di belakangnya. Entah kenapa yoyo langsung menampilkan reaksi paniknya. “Lo kenapa, yo ?” tanya juna dengan tatapan bingung saat melihat sahabatnya itu terlihat gugup. “Enggak, gue nggak papa jun.” “Lo mau kemana ?” tanya juna saat melihat yoyo akan pergi. “Ke toilet. Mau ikut ?” “Gila lo, buat apa gue ikut.” juna hanya menjawab sambil menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan yoyo yang menurutnya sangat aneh itu. Akhirnya, yoyo sudah benar - benar pergi meninggalkan kedua sahabatnya. Sedangkan juna langsung duduk disebelah bobby sambil memesan segelas bir untuk dirinya. “Yoyo kenapa, bang ?” tanya juna pada bobby yang sibuk menatap gelasnya dengan tatapan kosong. Tapi hanya bahu bobby yang bergerak ke atas menandakan dia enggan menjawabnya. “...” juna bingung saat melihat bobby yang juga bersikap aneh. “Bang, lo udah dapet alamat dimana senna tinggal ?” pada akhirnya juna menanyakan pertanyaan itu setelah sekian lama hanya keheningan yang ada di antara dirinya dan bobby. “Dia sama aira. Lo nggak usah khawatir, disana juga ada hervi.” jawab bobby singkat. Tapi ternyata reaksi juna sedikit berbeda. “Senna sama aira ? Tunggu dulu, bang.” juna menjeda kalimatnya. “Gue tau soal aira kabur dari rumah, tapi gue nggak nyangka senna juga ngelakuin hal yang sama.” lanjutnya lagi. Tak berselang lama, yoyo baru saja kembali dari toilet. Kedua sahabatnya langsung menatap ke arahnya secara bersamaan. Yoyo pun hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu karena juna ikut menatapnya dengan tatapan aneh. ‘Jangan - jangan juna udah tau lagi.’ batin yoyo langsung menebak. “Jun. gue bisa jelasin.” kata yoyo. Kali ini juna kembali menampilkan raut wajah tak mengertinya. “Jelasin apa ?” tanya juna dengan nada biasa saja, tapi di telinga yoyo sudah seperti serangan posesif yang tertahankan. “Soal senna.” “Senna ?” ulang juna dan hal ini membuat yoyo semakin tak mengerti hingga akhirnya dia menatap ke arah bobby yang sejak tadi sudah memberikan kode padanya untuk berhenti bicara omong kosong. Sejak tadi bobby berusaha menjawab juna sesuai pertanyaan yang diajukan agar tak membongkar rahasia yoyo. Tapi dengan polosnya yoyo membongkarnya sendiri. “Lo tau soal senna, yo ?” juna kembali bertanya. “Hmm.” mau tak mau yoyo harus menjawab pertanyaan itu, dia sudah kepalang tanggung karena ucapannya sendiri. “...” juna hanya terdiam menanti penjelasan yoyo. “Senna kerja di restoran gue.” jelas yoyo secara singkat. “Kerja ? Kenapa ?” “Gue nggak tau jun, dia kan adik ipar lo.” “Tapi senna jaga jarak sama gue dan olivia.” jawab juna ini membuat bobby dan yoyo saling menatap karena terkejut. Bagaimana bisa senna yang terlihat manja pada kakaknya dan juga terlihat dekat dengan juna tiba - tiba menjaga jarak. “Sebenernya senna cuma magang aja, jun.” “Magang ? Bahkan untuk magang aja dia nggak mengandalkan gue sama oliv ?” yoyo hanya menggeleng. “Gue tinggal bentar.” pamit juna pada yoyo dan bobby, sepertinya sahabatnya itu akan melakukan panggilan. Dan sekarang, tinggallah bobby dan yoyo. “Bang, lo beneran nggak tau alasan senna ?” tanya yoyo. “Iya, gak ada untungnya gue nyimpen rahasia lagi.” “Jangan curhat dong, bang.” “Sialan, lo!!!” nada bicara bobby terdengar marah, tapi pria itu tak menunjukkan kemarahannya itu. “Gue bener - bener nggak ngerti sama senna. Seharusnya dia bisa magang di perusahaan juna, kenapa malah ke kantor gue ya ?” bobby hanya mengangkat bahu tak tahu. “Terus kenapa juga dia tinggal sama aira ? Oliv kan punya apartemen juga disini. Ini aneh, bang. Gue yakin ada yang disembunyikan.” “Kalo gitu serahkan tugas itu sama abi, dia yang harus mencari tau semuanya.” “Abi ?” tanya yoyo. “Iya, abi. Karena yoshua udah ditolak mentah - mentah sama senna.” goda bobby saat tahu yoyo lengah setiap membahas senna. “b******k lo, bang!! Mau gue aduin ke dee lo kalo masih galau ?” ancaman yoyo langsung membuat bobby diam tak berkutik. “HAHAHA!!!! Ternyata lo akhir - akhir ini nyimpen rasa kangen kan sama dee ?” situasi berbalik. Sekarang yoyo menggunakan dee untuk membungkam bobby. “DIEM!!!” “KANGEN KAN LOOO!!!” “ENGGAK!!” “OKE!! KALO GITU GUE KASIH TAU DEE…” yoyo semakin bersemangat menggoda bobby. Suara mereka yang saling berteriak itu seakan tenggelam dengan kebisingan di sekitar, tapi tawa menyebalkan yoyo sangat berhasil membuat bobby kesal dan semakin membangkitkan emosinya. Saat yoyo masih tertawa dengan bahagia, bertepatan dengan juna yang baru saja kembali. “Gue udah kabarin olivia.” katanya sambil kembali duduk dan menyeruput bir miliknya. “Terus dia bilang apa ?” tanya yoyo. “Dia yang akan bertanya langsung sama senna. Gue titip senna sama lo, yo. Kalo ada apa - apa kabarin gue.” pesan juna pada yoyo. “Tanpa lo minta, gue bakal jagain senna kok.” jawaban yoyo membuat juna merasa aneh. “Tunggu dulu, yo. Lo nggak…” juna menggantungkan kata - katanya yang justru membuat yoyo kembali berdebar karena takut menghadapi jiwa posesif sahabatnya. “Ya…. kan senna itu adiknya oliv, jadi harus gue jaga. Oliv kan juga sahabat gue.” jawab yoyo sambil sedikit terbata. Tak terasa tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin. “Oke.” jawaban singkat juna membuat yoyo sedikit lega. “Tapi, lo jangan macem - macem sama senna!!” detik kemudian juna memberikan peringatan keras pada yoyo. Dan hal itu berhasil membuat bobby tertawa mengejek. Sedangkan di tempat lain, senna sedang duduk di lantai kamarnya sambil bersandar ke ranjang miliknya. Dia baru saja dihubungi oleh sang kakak, olivia. Tapi dengan sengaja tak diangkat. Hingga akhirnya olivia hanya mengirimkan pesan pada senna untuk mengajaknya bertemu. Senna tahu pertanyaan apa yang akan kakaknya tanyakan padanya, lalu alasan apa dia melakukan hal ini, dan yang terpenting kenapa keputusannya kali ini tak pernah olivia ketahui. Kali ini senna benar - benar membuat keputusan sendiri. Dia tidak melibatkan siapapun karena tujuannya memang ingin pergi. Walaupun pada akhirnya dia tak bisa benar - benar pergi karena masih terjebak dalam lingkaran yang sama. Tok…. tok… Terdengar suara pintu kamar senna diketuk oleh seseorang yang tak lain adalah aira. “Sen, lo nggak makan ?” tanya aira. “Nanti aja, ay. Gue pengen duduk - duduk dulu.” “Ada apa ?” seperti tahu sesuatu terjadi pada senna, aira masuk dan ikut duduk di sampingnya. “Kenapa ? Lo bisa cerita sama gue.” kata aira lagi. “Gue nggak papa, ay. Cuma ngerasa bersalah aja lupa ngasih tau kak mine.” jelas senna. Dia mengatakan yang sejujurnya pada aira, tapi dia tak menceritakan alasan lebih lengkapnya. Senna kembali terdiam, lalu dia berpikir bagaimana perasaannya jika sampai kakaknya tahu alasan semua keputusannya ini. Entah nanti olivia akan marah padanya atau tidak. Tapi yang senna takutkan adalah olivia akan terluka saat kondisi kehamilannya juga masih muda seperti ini. Dia tak bisa membiarkan olivia mendapatkan masalah saat hamil seperti di masa lalu. Kakaknya itu sudah cukup menghadapi banyak cobaan untuk bisa sampai seperti ini. Tapi dia juga tak bisa menceritakannya pada siapapun lagi, karena alasan yang dia sembunyikan ini adalah aib bagi senna. ‘Maaf kak, aku benar - benar tak ingin menjadi orang yang merusak kebahagiaan orang lain.’ ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN