Aarav baru saja keluar dari blok pertokoan untuk mampir ke kedai nasi goreng yang ada di jalanan pusat kota saat hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Jaket jeans yang ia gunakan berhasil melindungi tubuhnya dari dinginnya malam ini. Aarav merapatkan jaket pada tubuhnya dan berlari kecil menuju halte bus yang berjarak beberapa meter di depannya. Langkah Aarav terhenti setelah sampai di halte bus yang sepi itu. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang juga sedang memandangnya. Aarav merasa jantungnya kembali berdetak tidak normal—hanya dengan tatapan wanita itu saja, sudah membuatnya hilang kendali. Merasa wanita itu tidak akan lebih dulu menghampirinya, Aarav berinisiatif untuk menghampiri terlebih dahulu. Aarav membuka jaket jeans miliknya tanpa aba-aba dan menyampirkannya di pu

