"Sayang, nanti kayaknya aku bakal pulang terlambat lagi," ujar Devano di sela-sela mengunyah sarapannya.
Aura wajah Cherry yang tadinya bersinar mendadak suram. "Lagi ...?" tanyanya tersenyum kecut.
Devano meletakkan sendok dan mengengam tangan Cherry yang duduk di sampingnya. "Maaf, Sayang. Tapi tenang saja saat kita anniversary, Nona Bianca memberiku cuti."
"Benarkah?" Aura wajah Cherry kembali bersinar. "Serius kan, Kak? Kamu benar-benar dibolehin cuti?"
"Iya, Sayang," jawab Devano, tangannya berpindah mengelus rambut sang istri. "Jadi besok pas kita anniversary, kamu bebas mau minta antar ke manapun sama aku."
"Tapi, Kak." Cherry merubah posisi duduknya menatap Devano. "Aku tetap mengajar loh, aku belum punya waktu cuti. Jadi kita perginya setelah aku selesai mengajar ya."
"Owh iya, aku lupa deh kalau kamu sekarang udah kerja. Sayang sekali hari anniversary kita bukan weekend. Tapi tidak apa-apa, besok pas aku cuti, aku mau anter kamu kerja, mengerjakan semua pekerjaan rumah, termasuk memasak makanan kesukaan kamu," ucap Devano lembut.
Cherry terkekeh pelan. "Yakin nih? Nanti gimana kalau masakan Kakak enggak enak?"
"Ih jangan merendahkan aku, ya!" Devano mencubit pipi Cherry dengan gemas. "Begini-begini dulu tiap libur aku kan selalu masak makanan Indonesia kalau lagi kangen rumah dan kamu ... yah meski enggak seenak masakan kamu sih."
"Apapun menu yang Kakak masak, aku pasti akan menghabiskannya." Cherry berdiri lalu berpindah posisi duduk di pangkuan Devano dan memeluknya. "Makasih suamiku, Sayang."
"Sama-sama istriku yang cantik," balas Devano memeluk Cherry.
Setelah selesai sarapan, mereka pergi bekerja. Saat perjalanan ke sekolah, Cherry berjalan santai menikmati suhu udara yang sudah menghangat. Dia senang karena itu artinya dia tak harus lagi merasakan kedinginan dan memakai jaket super tebal.
Namun, dia terkejut hingga melompat saat mendengar bunyi klakson yang nyaring.
"Miss Cherry." Suara gadis cilik yang sangat dikenali membuat Cherry menoleh ke arah mobil yang berhenti di sampingnya.
"Hay, Miss Cherry." Dan disusul suara bariton seorang pria yang sangat dikenali Cherry juga.
Cherry menghela napas panjang dan tersenyum. "Halo, Zania. Selamat pagi."
"Selamat pagi, Miss Cherry," balas Zania terlihat girang.
"Kau tidak menyapaku, Miss Cherry?" tanya Gilbert tersenyum lebar di balik kemudi.
Cherry berdecih pelan dan akhirnya berkata, "Pagi, Mister Gilbert."
Hal itu membuat Gilbert sangat senang. "Ayo masuklah! Kita berangkat ke sekolah bersama-sama!"
"Tidak usah," tolak Cherry cepat. "Sekolah hanya tinggal beberapa meter lagi. Lebih baik aku jalan saja, Mister."
"Ayolah berangkat bareng kita, Miss!" renggek Zania penuh harap memasang puppy eyes.
"Bagaimana jika kamu jalan kaki saja bareng aku, Zan? Karena jalan kaki itu baik untuk kesehatan manusia, itu sama dengan kita berolahraga," ajak Cherry, dia menunduk dengan tangan yang terulur mengelus puncak kepala Zania.
"Owh iya juga ya." Zania lalu menatap ke arah Gilbert. "Daddy, aku jalan saja bareng Miss Cherry, ya."
"Baiklah, my little cupcake jika itu maumu." Gilbert mencium kening Zania. "Nanti Daddy akan menjemputmu, selamat belajar."
"Siap, Daddy." Zania keluar dari mobil lalu melambaikan tangan pada Gilbert. "Hati-hati di jalan ya, Dad."
"Tentu," jawab Gilbert tersenyum manis, lalu pandangannya berpindah ke arah Cherry. "Tolong simpan nomorku! Aku ini wali muridmu, loh. Soalnya mulai sekarang aku yang akan mengantar jemput Zania."
Cherry mengangguk, dengan terpaksa dia berkata. "Baiklah, Mister. Nanti saya akan menghubungi Anda jika ada hal-hal penting terkait Zania."
"Terimakasih, Miss Cherry. Sampai bertemu nanti sore." Gilbert mengedipkan sebelah mata sebelum menutup kaca jendela dan menjalankan mobilnya.
Cherry menghela napas lega saat mobil Gilbert sudah menjauh dan membatin, "Terpaksa aku buka blokiran nomornya. Dasar nyebelin! Mana sekarang jadinya tiap hari ketemu lagi!"
Jam di sekolah saat mengajar terasa begitu cepat berputar bagi Cherry. Itu karena dia menikmati tugasnya sebagai guru, dia jadi ingin cepat-cepat bisa mengajari darah dagingnya sendiri. Anak-anak di kelas pun sangat menyukai dia dan selalu berebut untuk mendapatkan perhatiannya.
"Semoga saja aku bisa cepat hamil," gumam Cherry mengelus perutnya yang rata.
"Anak Kak Devano tentu saja." Cherry meringis saat mengingat kejadian di hotel dan di dapur. "Karena saat bersama Mister Gilbert dia mengeluarkan benihnya di luar."
Lalu Cherry tiba-tiba tersenyum kecut. "Tapi aku sama Kak Devano saja jarang buat, gimana mau punya anak? Mau LDM mau deketan juga sama aja! Dasar menyebalkan!"
Saat bell pulang sekolah berbunyi, Cherry dan anak-anak di kelasnya berjalan bersama keluar kelas menuju ke depan sekolah untuk menunggu jemputan orang tua mereka.
Dan kejadian seperti kemarin terulang lagi, semua anak-anak sudah dijemput dan hanya tersisa Zania. Dengan sangat terpaksa Cherry membuka blokiran nomor Gilbert dan menelpon pria itu agar segera datang.
"Apa kau merindukanku?" ucap Gilbert saat menjawab telepon dari Cherry.
Cherry memutar bola matanya dengan malas. "Mister Gilbert, tolong segera jemput Zania!"
"Jawab dulu! Apakah kamu merindukan aku atau tidak?" goda Gilbert dengan senyuman lebar di wajahnya saat ini.
"Tidak!" balas Cherry cepat.
Hal itu membuat Gilbert merasa gemas pada Cherry. "Okey, kalau begitu tunggu kedatanganku, ya! Saat ini aku sedang di jalan, dan akan aku pastikan mulai besok kau akan merindukan aku."
Cherry tida membalas lagi kalimat Gilbert dan buru-buru mematikan ponselnya seraya membatin, "Dasar bule gila!"
Beberapa menit kemudian, Gilbert datang. Zania langsung melompat-lompat dan memeluknya dengan erat. Hal itu membuat hati Cherry merasakan perasaan aneh yang tidak bisa dia mengerti saat melihat keakraban ayah dan anak itu. Jujur saja dia senang melihat interaksi Zania dan Gilbert.
"Miss Cherry, bagaimana jika aku mengajakmu makan malam bersama Zania sekarang? Kemarin kan kamu sudah mengajak kami makan malam di rumahmu?" tawar Gilbert menatap Cherry yang berdiri di depannya.
Cherry menggeleng cepat. "Tidak usah, Mister. Terimakasih, lebih baik saya makan di rumah saja."
"Bukannya suamimu pulang terlambat lagi, ya?" balas Gilbert tersenyum tipis. "Daripada kamu makan malam sendirian, lebih baik kamu makan malam bersamaku dan Zania."
"Iya, Miss." Zania mengengam tangan Cherry. "Ayolah makan malam bersama kami saja! Kalau Miss Cherry tidak mau makan malam bersama kita, aku enggak mau pulang."
"Eh, kok gitu!" Cherry mengelus puncak kepala Zania. "Lebih baik kamu dan Ayahmu saja makan berduaan, okey!"
"Nggak mau!" renggek Zania mencembikkan bibirnya. "Pokoknya aku mau makan malam sama Miss Cherry."
"Kita makan di restoran yang dekat sini saja, Cher. Ayolah!" imbuh Gilbert masih semangat mencoba merayu Cherry.
Cherry terdiam sejenak untuk berpikir dan membatin, "Owh iya, aku kan mau ngomong masalah foto itu adalah palsu, nah ini mungkin momen yang tepat, bagaimanapun biar dia tidak menggoda atau merayuku lagi."
"Baiklah, tapi di restoran dekat sini saja, ya!" ujar Cherry yang langsung membuat Gilbert dan Zania tersenyum lebar.
Di dalam restoran, ketiganya terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Cherry dan Gilbert antusias mendengarkan Zania yang berceloteh. Sesekali mereka memberikan reaksi, pujian atau nasehat pada gadis kecil itu. Hal itu semakin membuat Zania merasa nyaman berada di dekat Gilbert dan Cherry.
Tiba-tiba dua orang berjalan mendekat menghampiri meja mereka. "Apa yang kalian sedang kalian lakukan?"