PROLOG

996 Kata
Pasti ada sebuah alasan yang membuat kita malas. Tidak seorang pun melalukan sesuatu tanpa penyebab. Termasuk menjadi malas. Begitu juga Feby, dulunya ia sangat giat untuk mendapatkan nilai yang terbaik semampu dirinya berjuang, ia ingin menunjukkan pada semesta bahwa ia dapat memeluk dunia nantinya. Nilainya tidak pernah kurang dari 100, tidak pernah. Sampai sekarang pun juga seperti itu, sih. Semenjak Feby mengenal arti mencari uang, ia lupa akan tugasnya sebagai pelajar, ia bekerja sebagai guru private anak-anak kecil untuk belajar Calistung di sebuah agent pendidikan. Sejujurnya menjadi guru Private bukanlah cita-cita Feby sejak dulu, bukan juga menjadi Dokter karena memilih jurusan IPA di sekolah menengah akhir saat ini. Keinginannya hanya simple dan sederhana. Yaitu menikah dengan pangeran berkuda putih di Film Princess Disney Aurora (sleeping beauty) yang bernama Philip. Hanya itu saja kok. Jika tidak, orang kaya juga boleh. Karena Feby sudah frustasi memikirkan masa depannya ini. Bukannya ia tidak pernah mendengarkan atau tidak peduli dengan guru-guru yang menceramahinya, tapi memang nyatanya sekolah tidak menjanjikan kesuksesan bagi seseorang, sekeras apapun kita belajar disekolah, yang mengatur adalah Takdir. Maka itu, terkadang Feby hanya meminta pada Tuhan yang maha esa agar di mudahkan jalannya. Lahir dengan nama lengkap Fabiola Pauli Nasega, yang seharusnya ditambahkan marga 'Saragih' tepat dibelakangnya, namun marga itu hanyalah nama berian, dengan kata lain, Ayahnya adalah orang keturunan Chinese dan ibunyalah yang keturunan batak. Paham bukan nama panggilan Feby dari mana asalnya? Sekarang Feby sedang diam-diam mengambil dan akan membuka permen yang berada di dalam kantung kemeja sekolahnya. Tapi tiba-tiba ada suara menggelegar, "EH BORU SARAGIH! BERANI-BERANINYA KAU MAKAN PERMEN DI PELAJARAN KU INI!" Seketika permen yang baru mau masuk ke dalam mulut Feby meloncat dari bungkusnya. Hal itu membuat Feby kesal, karena itu adalah permen terakhir miliknya. "Salah saya apa sih pak?"  Dengus Feby kepada orang tua yang hampir sejenis kakek. "SALAH KAU, KAU ITU MAKIN KELAS 3 INI MAKIN BURUK SIKAP KAU ITU, EH BORU, BORU,"  Omel guru itu kepada Feby. Pasalnya guru ini adalah kawan mamaknya, mangkanya secerewet ini padanya. "Bapak mau tahu kenapa saya semakin buruk semakin kesini?"  Sengak Feby mengangkat dagunya dengan alis yang dinaik-turunkan. Sementara guru itu hanya menatap tajam kepada Feby. "Karena, sebentar lagi saya bakal lulus dan ga bakalan ketemu bapak lagi,"  Ledek Feby kepada pak guru tua itu. "EH SI BODAT INI!" Seketika begitu si bapak guru fisika baru ingin mengomel Bell pulang sekolah berbunyi dan semua murid langsung bersiap-siap. Feby langsung tersenyum sumringah mendengar bell itu. Setelah itu, anak-anak murid yang lain menyalami guru di depan, sedangkan Feby menyerobot barisan teman-temannya untuk langsung menuju ke pintu keluar kelas. Ya, ia kabur agar tidak kena ocehan tak bermutu baginya. Padahal ia sengaja berbicara formal jika berhadapan dengan guru-guru agar tidak ada satupun guru yang berani mengurusi urusan pribadi Feby. Tapi masih saja ada guru yang terlalu peduli dengan sikapnya. Padahal yang menurun itu hanya sikap Feby saja, jika soal pelajaran, bahkan sekarang nilainya masih di atas rata-rata. Bukannya sombong, tapi jika memang nilai Feby sebagus itu, Feby harus apa? Masa diam-diam saja. Sombong sedikit juga boleh kali. "Feby!" Panggil salah satu teman kelasnya saat ia berada di parkiran motor, langsung saja Feby menatap temannya itu sambil memakai helm yang cukup butut. "Kenapa?" Dilihatnya lah Atta, teman sebangkunya saat kelas 11 tahun lalu, "Kau itu selalu lupa resletingkan tasmu, sempat ada yang nakal, diambilnya peralatanmu dari belakang."  Oceh Atta pada Feby, dan yang di ocehi hanya tersenyum, "Ah, baik kali kau ini, nanti kalau aku jadi sayang macam mana?" Feby terkekeh melihat ekspresi geli kawannya. "Jijik kali aku, masih normal loh aku ini, tak suka sama yang seperti kau!" Tangan Atta memukul kecil bahu Feby. "Aku ini lagi belajar gombal, Ta. Biar nanti calon suamiku tak bosan dengan aku dirumah,"  Alasan Feby membuat Atta geleng kepala. "Memangnya kau sudah ada calon? Pikir saja sekolah ini dulu, pikiran kau itu sudah calon suami terus, sudah geser otak kau rupanya,"  Feby tertawa keras, lalu menjawab. "Eh, mana tahu besok aku ketemu jodoh, langsung la aku kawin, tak payah lagi aku sekolah ketemu dengan si tua itu,"  Jawab Feby dengan membawa-bawa guru fisikanya yang tua. "Wah mulut kau, coba bedakan yang mana kawin dan nikah, Feb. Beda itu artinya lho, Beda." Beritahu temannya pada Feby. "Ah tau lah aku, kalau kawin itu kan menebar benih-benih s****a, kalau nikah itu menebar undangan, ya kali anak IPA ga tau," Jelas Feby dengan gaya sengaknya. "Otak kau itu bukannya cuma geser ternyata masih m***m juga, sudah ah.. Pulang sana kau, dari pada aku ketularan." Atta menoyor helm Feby lalu pergi. Sedangkan Feby yang agak gesrek ini, hanya tertawa dalam hati saja lalu mulai mengeluarkan motornya dari area parkiran dan mengegas motornya ke tempat Agent pendidikan. Karena ada sesuatu yang akan di beritahukan katanya. Sejujurnya sempat terjadi kesulitan saat Feby mendaftar sebagai pengajar disana, terutama Feby masih SMA. Tapi untungnya, saat di test dan di cek pantaskah menjadi pengajar, Feby diterima oleh Agen itu. Setelah sampai di Agen pendidikan yang cukup terkenal se-Jambi ini, ah ya. Feby ini orang Jambi, seperti yang kita ketahui, bahwa Orang batak itu menyebar dengan cepat. Dan berada dimana-mana. Maka di sekolah Feby pun, sekolah swasta yang termasuk banyak orang bataknya. Tapi tidak semua juga orang batak. Masih banyak orang melayu Jambi asli kok. Sejujurnya pun Feby lahir di Jambi, ia hanya keturunan batak saja. Ia juga tidak pernah ke Medan kok. "Pagi,"  Sapaan khusus jika masuk ke dalam kantor Agen ini, katanya dengan sapaan seperti itu, kita tidak akan mengantuk dan tetap segar. Sebenarnya Agen Privat ini juga meyediakan tempat mengajar. Beberapa guru memakai tempat disini. Tapi beberapa juga ada yang langsung ke rumah murid. Sesuai permintaan saja sih. "Kak Feby, Tanggal satu besok, ada panggilan baru ya. Hari Rabu dan Sabtu mulai pukul lima sore sampai setengah tujuh, seperti biasa, mengajar calistung, tapi lebih difokuskan ke tulisan saja dulu, nama anaknya Elang Susanto, jadi sama yang ini jadwal kakak udah terisi full ya,"  Jelas scheduler agen yang bernama Vena dan memberikan berkas yang sudah ia foto copy pada Feby. "Oh iya mbak, makasih ya." Senyum Feby pada Mbak Vena, jelas ia senang. Dengan begitu, pemasukan uangnya semakin bertambah. "Anaknya ganteng loh kak, awas jangan sampai suka sama bapaknya ya..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN