'Cantik'

1170 Kata
Rivano memasuki rumah dan langsung disapa oleh kesunyian yang lekat. Setiap hari, rumahnya memang sangat sepi karena hanya dirinya seorang di sini. Papa Rivano yang bekerja sebagai Dokter selalu sibuk di rumah sakit, sedangkan kakaknya Starla sudah dua tahun kuliah di Bandung. Jangan tanyakan di mana Mamanya, dia sudah tenang di alam yang berbeda sejak Rivano kelas empat SD. Rivano menuju ke ruang keluarga dan men- charge handphone nya di dekat televisi. Ia berjalan ke lemari pendingin dan mengambil minuman soda untuk melenyapkan haus yang menyerangnya. Rivano menyalakan handphone nya untuk menghilangkan rasa bosan. Ketika handphone nya menyala, Rivan terkejut melihat foto cewek memenuhi layar. "Hah, ini kan foto si Ola, ngapain dia selfie di hape gue?" gumamnya sinis. Setiap melihat wajah Riola, memberi dampak sensitif kepada Rivan. Dia selalu mendadak kesal sendiri, mungkin karena sifatnya yang pengganggu itu. Rivano mengucek matanya, memastikan bahwa itu benar foto gadis pecicilan yang selama ini menganggu hidupnya. Dan benar, foto itu memang Riola. "Kalau di foto dia cantik juga." Rivano tersenyum, memperhatikan foto Riola yang tengah tersenyum manis dengan dua jari membentuk huruf 'V' di samping pipinya. "Cantik? Siapa yang cantik, enak aja. Cewek nakal dibilang cantik!" Rivano tersadar dan meralat ucapannya beberapa detik lalu. Dia tidak tahu kenapa, namun senyum Riola seolah menghipnotisnya beberapa saat. Dengan gerak cepat, Rivano memilih gambar untuk mengganti wallpaper-nya. _ Keesokan paginya, seluruh siswa-siswi heboh membawa barang-barang kreatifitas mereka untuk menghias kelas masing-masing di acara lomba "Kelas Kerapihan" yang diadakan oleh OSIS. Lomba ini diadakan untuk melatih kedisiplinan supaya kelas senantiasa rapi dan bersih. Kelas harus bebas dari sampah, memiliki poster tentang visi dan misi, serta kelas kompak dalam belajar supaya dapat memenangkan lomba. Violet dan teman-temannya sedang sibuk menghias kelas dengan tema yang mereka pilih yaitu Natal. Boneka salju bohongan, pohon cemara dengan lampu sudah di tata rapi seindah mungkin. "Akhirnya beres juga!" teriak Vanessa lega. "Buset dah, gue yakin kelas kita bakalan menang!" seru Rio takjub dengan keindahan yang mereka buat itu. "Kelas IPS 1 harus paling kompak!" "Gak boleh ada yang suka ngacir pas jam pelajaran!" "Eh, wait, si Riola mana? Jangan sampai buat kesalahan tuh anak." Vanessa menyapu sekeliling kelas dan tidak melihat keberadaan Riola. "Dia tadi izin ke toilet, katanya sakit perut," ujar Violet. "Gue takut dia jadi pengacau," sinis Vanessa. "Nggak akan, dia juga bakalan menghargai kelasnya, kan?" Violet tersenyum, mencoba meyakinkan teman-temannya yang selalu sinis kepada Riola. "Pengumuman kepada seluruh siswa dan siswi, diharap berkumpul di Aula untuk beberapa pengumuman penting dari kepala sekolah." suara dari speaker sekolah menggema ke setiap sudut dan dapat di dengar oleh siapapun. Dengan patuh, seluruh siswa-siswi mulai berlarian menuju ke Aula termasuk kelas Violet. Riola membuka pintu kamar mandi dan memegangi perutnya yang sudah lumayan lega. Tadi pagi, dia merasa sangat mulas sejak makan pisang keju pemberian Violet yang dia berikan waktu di mobil. Akhirnya mau tidak mau, Riola ke kamar mandi lebih dari tiga puluh menit. "Aduh... Kok bisa sakit perut, sih. Sampai lemes kayak gini." Riola memelas, memegangi perutnya dan melangkah gontai menuju ke kelas. Riola tidak akan ke Aula, dia akan berdiam diri di kelas saja karena kondisi yang tidak memungkinkan. Jika ada pengumuman penting, dia akan bertanya kepada Violet setelah dia kembali dari sana. Riola membuka pintu kelas, ia terkejut saat melihat dekorasi yang sangat berantakan. Boneka salju terguling di lantai, pohon cemara gundul dan lampu-lampunya pecah di lantai. Riola masuk lebih dalam dan menggeleng tak percaya. "Ini kok berantakan, sih? Atau emang sengaja?" Sebisa mungkin, Riola memungut lampu-lampu yang berserakan dan membuat tangannya berkali-kali tertancap pecahan lampu hingga mengeluarkan bercak darah. Beberapa menit kemudian, suara sepatu terdengar bersahutan di koridor menuju ke kelas. "OMG....! kenapa berantakan gini, sih?" teriak Vanessa, membuat Riola dan beberapa siswa yang baru masuk terkejut. "Kok bisa kayak gini?" tanya Rio pada siapa pun yang mampu menjawab. "Mana gue tahu, kita semua kan di Aula," ujar salah satu teman mereka. Semua mata langsung tertuju pada Riola yang sedang berdiri di belakang kelas. "Ini.. Tadi pas Ola dateng udah berantakan," elak Riola. Dia tahu kalau orang-orang ini akan menyalahkannya. "Keterlaluan banget ya, lo!" Vanessa berjalan cepat menghampiri Riola dan langsung mendorongnya kasar sampai terhentak ke tembok. "Van, lo jangan kasar-kasar!" seru Rio. "Perlakuan kasar gue gak ada artinya dibanding dia yang udah berantakin semua usaha kita ini, Rio!" Vanessa berujar penuh kemarahan. "Kita semua muak sama lo, La! Lo kenapa sih harus hancurin dekorasi kelas kita? Emangnya lo gak mau menang?" tanya Rio dramatis. "Nggak! Ngapain sih Ola hancurin semua ini? Ola juga satu kelas sama kalian, gak mungkin, kan?" ujar Riola mencari pembelaan. "Alah, bilang aja lo benci sama kita-kita karena jarang deketin lo," sinis Vanessa. "Udah, kita beresin aja lagi. Marah-marah bukan solusi yang tepat. Penilaian besok, kok, jadi masih ada waktu. Lampu nya biar gue bawa lagi dari rumah," ucap Rio kemudian melangkah keluar kelas. Semua orang langsung bergerak membereskan kekacauan yang terjadi di sana. Violet menghampiri Riola dan menggandeng bahunya. "Kamu hancurin kelas ini?" tanya Violet. Riola menggeleng. "Nggak. Vio percaya, kan?" "Iya, aku percaya. Sekarang ayo bantu beresin kelasnya biar rapi lagi." Violet menepuk bahu Riola sekali dan memungut beberapa origami di lantai. "Vio, kira-kira siapa yang ngelakuin ini, ya? Dia kayak sengaja pengen kasih tuduhan ke Ola," ucap Riola sedih. "Mungkin dia yang benci sama kelas kita aja, La. Bisa aja dari kelas sebelah," sahut Violet. Dengan cepat, Violet membentuk kembali beberapa origami yang sudah kusut. "Gue yang ngelakuin ini, La. Terima kasih hiburan nya," sinis Violet seraya menatap Riola yang sedang menyapu lampu-lampu yang pecah. Tadi pagi, Violet sengaja memberikan pisang keju yang sudah diberikan obat mulas kepada Riola. Saat Riola di kamar mandi dan orang-orang ke Aula, Violet pura-pura izin ke kantor, padahal dia ke kelas dan merusak semua dekorasi yang sudah rapi. Setelah itu dia bergegas kembali Aula supaya tidak ada yang curiga. _ Setelah kelas kembali rapi, semua orang langsung berkeliaran bebas di sekolah. Hari ini memang free class, setelah menghias kelas masing-masing, semua murid bebas melakukan apa pun yang mereka mau. Kebanyakan orang berada di kantin, perpustakaan, lapangan basket atau lapangan futsal. Riola tidak di semua tempat itu, dia hanya sedang berjalan-jalan mencari keberadaan Rivano yang entah di mana. "Ke mana sih Rivan? Gak tahu orang lagi kesel apa. Kan kalau liat Rivan Ola bisa jadi senengan dikit," cerocosnya sebal. Entahlah, tapi kejadian di kelas tadi benar-benar membuat mood-nya memburuk. 'Bruk!' "Aw! s****n. Kalau jalan tuh pake mata!" teriak Riola kesal saat mendapati tubuhnya sudah ambruk di dekat taman gara-gara bertubrukan dengan seseorang barusan. Riola menoleh bermaksud melihat siapa yang sudah mendorongnya, namun tidak ada siapa pun di sana selain dirinya. "Kurang ajar banget tuh orang, maen tabrak lari aja. Ola laporin polisi tahu rasa!" Riola berdiri dengan susah payah, rasanya ini adalah hari terburuk bagi Riola. Hari jum'at, Riola akan mencoret hari itu dari kalendernya. Mata Riola menangkap sesuatu di bawah pohon beringin, berwarna hitam dan sangat familiar baginya. Riola berjalan mendekati pohon beringin dan melihat lebih jelas sesuatu apa yang ia temukan. Jam tangan. _ To be continued. See you di Next Part!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN