Perkenalan

2032 Kata
Aku berharap perkenalan ini akan menciptakan hubungan yang sempurna. Nugraha Ashwaghosha   "Setelah ini ayo kita saling mengenal keluarga kita masing-masing." Kata Nuga dengan serius. Dari sorot matanya tidak ada candaan sedikit pun. Bela melongo setelah mendengar ucapan Nuga. Dia merasa jika Nuga terlalu cepat dengan hubungan ini, hingga melibatkan keluarga secelat ini. Namun, entah mengapa hati Bela menghangat mendengar ucapan Nuga barusan. Dia merasa seperti dibutuhkan dan dianggap. Dia merasa seperti wanita yang benar-benar dicintai oleh pasangannya. "Apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Bela ragu-ragu. Nuga tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak ada kata terlalu cepat untuk sebuah hubungan baik. Aku tidak ingin menunda-nunda lagi meresmikan sebuah hubungan, aku takut kalo ketikung lagi." Jawab Nuga dengan tersenyum kecil. Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Nuga membuat Bela terkekeh. Bukan hanya Nuga yang merasakan hal itu, tapi dia juga mengalami nasib yang sama. Dia ditikung oleh sahabatnya sendiri. Sahabat yang sudah dia anggap seperti saudaranya. Jika Bela mengingat hal itu, hanya akan membuat hati Bela merasa sakit. "Kamu benar. Jika sudah yakin lebih baik disegerakan." Kata Bela memberi argumen. Nuga tersenyum sambil mengangguk. Dia menatap Bela dengan lekat. Nuga mencoba mencari kekurangan dari wajah Bela namun dia tidak menemukan. Wanita yang ada di depannya saat ini tidak memiliki cacat sedikit pun. Guratan yang ada di wajahnya begitu sempurna hingga membentuk sebuah wajah yang enak di pandang, wajah yang begitu cantik dan manis yang membuat siapa saja betah memandangnya. Nuga berpikir jika kekasih Bela adalah orang yang bodoh yang tega mengkhianati Bela dengan wanita lain yang belum tentu lebih baik dari Bela. Bela melengoskan wajahnya, dia merasa malu ditatap dengan intens oleh Nuga. Akhirnya dia memutuskan untuk segera pulang. Bela melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, jarum jam itu menunjukkan pukul setengah sembilan. Bela mengakhiri pertemuannya dengan Nuga dan dia harus segera pulang karena tidak tega meninggalkan Ibunya di rumah sendiri. "Sudah malam, aku harus segera pulang." Kata Bela sambil memasukkan handphonenya ke dalam tasnya. "Biar aku antar." Kata Nuga cepat. "Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Jawab Bela menolak Nuga dengan halus. "Aku harus tau dimana calon istriku tinggal." Kata Nuga asal. Bela mematung untuk sesaat. Hatinya tiba-tiba berdebar mendengar ucapan Nuga barusan. Dia tidak menyangka jika Nuga bisa berkata manis seperti itu. "Tidak perlu." Jawab Bela lagi. "Aku tidak menerima penolakan." Kata Nuga cepat. Nuga berjalan pelan ke arah kasir untuk membayar semua tagihan makan malam mereka. Bela mengikuti Nuga dari belakang berencana untuk membayar semua tagihan karena dia yang mengajak bertemu jadi Bela berpikir dia yang harus membayar. 'Terima punya saya saja, Mbak." Kata Nuga sambil menyodorkan kartu kreditnya." "Jangan, Mbak, punya saya saja." Kata Bela lebih maju sodoran kartunya dari pada Nuga. Petugas kasir itu nampak bingung dengan kedua pasangan yang ada di depannya itu. Dia tidak tahu harus menerima kartu yang mana untuk membayar semua tagihan. "Kamu mau membuatku seperti laki-laki yang tidak mau mengeluarkan modal untuk berkencan?" tanya Nuga dengan kesal. Bela mengerutkan keningnya, dia tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nuga. "Kita tidak sedang berkencan. Jadi kamu tidak perlu membayar. Lagi pula aku yang mengajakmu bertemu." Jawab Bela dengan tegas. Nuga tidak mengindahkan ucapan Bela. Dia menyodorkan kartunya dengan paksa kepada petugas kasir itu hingga petugas itu menerima kartu Nuga. Setelah itu petugas kasir memberikan kartu Nuga beserta nota pembayaran. "Ini, Pak." Kata Petugas kasir itu dengan ramah. "Terima kasih." Jawab Nuga dengan senyum yang mengembang. Bela hanya bisa menatap Nuga dengan bengong. Baru beberapa kali bertemu namun dia sudah dibuat terkejut dengan sikap Nuga yang begitu manis dan membuatnya terbawa perasaan. "Ayo pulang, aku antar." Kata Nuga lembut. Bela mengangguk kecil sambil mengikuti Nuga dari belakang. Setelah sampai di parkiran, Nuga mengambil helm yang dia cantolkan di bagian belakang motornya, setelah itu dia pasangkan di kepala Bela. Bela hanya bisa diam mematung menerima semua sikap manis yang diberikan oleh Nuga. Bela memberanikan dirinya untuk memeluk Nuga dari belakang. Udara yang dingin dan juga kecepatan laju motor Nuga yang tinggi membuat Bela memutuskan untuk berpegangan kepada Nuga. Nuga hanya bisa tersenyum sambil melihat tangan Bela yang melingkar di perutnya. Setelah itu dia kembali fokus ke jalanan dan menambah kecepatan laju motornya. "Terima kasih sudah mengantarku." Kata Bela ketika mereka sudah sampai di depan rumah Bela. "Sama-sama." Jawab Nuga ramah. "Hati-hati kalau pulang." Kata Bela lagi. Nuga menaikkan satu alisnya. Dia merasa janggal dengan ucapan Bela barusan. Memang sekilas terdengar tidak ada yang salah, namun bukannya aneh jika Bela tidak menawari Nuga untuk mampir sebentar ke dalam rumah. "Kamu tidak menawariku untuk mampir?" tanya Nuga dengan ragu-ragu. "Tidak. Aku tidak menerima tamu laki-laki saat malam." Jawab Bela dengan santai. "Siapa itu, Bel? Kenapa tidak diajak mampir?" tanya seseorang dari arah belakang Bela. Nuga tersenyum penuh arti. Dia seakan-akan mengejek Bela yang terlihat tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh wanita yang ada di belakangnya. "Iya, Bu, ini mau mampir." Kata Nuga sambil tersenyum lebar. "Ayo, Nak, sini masuk." Teriak Yani sambil melambaikan tangannya. Nuga mengangguk dengan sopan. "Ayo masuk, sepertinya Ibunya sudah menunggu kita." Kata Nuga berbisik kepada Bela. "Menyebalkan." Gerutu Bela dengan kesal. Nuga mendekati Yani dengan langkah yang percaya diri. Setelah dia sampai di depan Yani, dia segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Yani. Sikap Nuga begitu sopan membuat Yani terkesan dan senang. "Ayo, masuk." Kata Yani sambil memegang pundak Nuga dengan lembut. "Iya, Bu." Jawab Nuga sopan. Nuga masuk ke dalam rumah minimalis namun terlihat begitu nyaman untuk ditinggali. Cat dinding yang berwarna hijau memberikan kesan segar dan tentram berada di rumah itu. Ada satu rak tinggi yang ada di pojok ruangan, rak itu berisi tanaman hidup yang menambah kesan segar. Benar-benar ruang tamu yang membuat tamunya merasa betah dan tidak ingin cepat-cepat meninggalkan rumah itu. "Ibu baru melihat kamu, kamu teman Bela sewaktu apa ya?" tanya Yani dengan ramah. "Saya bukan temannya Bela, Bu. Tapi saya...." Kata Nuga yang sengaja menggantung ucapannya untuk menunggu Bela mengatakan sesuatu. Namun ternyata Bela hanya diam saja. Bela seperti mengetesnya sampai dimana dia serius dengan Bela. "Saya ... saya calon suami Bela." Jawab Nuga dengan mata yang menatap Bela dengan lekat. Bela melototkan matanya karena kaget. Lagi-lagi dia dibuat terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Nuga. Bela mengusap wajahnya dengan gelisah dan setelah itu dia bangkit dari duduknya untuk menuju ke dapur. "Kamu mau kemana?" tanya Yani kepada anak tunggalnya itu. "Bela ... emm Bela mau bikin minum." Jawab Bela sedikit gugup. "Duduk dulu." Kata Yani datar. "Nggak enak, Bu, ada tamu dianggurin gitu." Jawab Bela mengelak. "Kamu nggak perlu repot-repot membuatkan aku minum." Kata Nuga dengan cepat. Bibirnya menyunggingkan senyum yang lebar. Bela menajamkan tatapannya kepada laki-laki itu. Bela merasa jika Nuga sengaja berkata seperti itu agar Bela kembali duduk dan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Yani. "Tamu kita mengatakan jika dia tidak perlu minum. Jadi, kamu bisa duduk lagi." Kata Yani kepada anaknya. "Iya, Bu." Jawab Bela dengan lemah. Bela kembali duduk ke kursi awalnya. Dia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Ibunya yang saat ini sedang menatapnya dengan lekat. Bela memainkan tangannya sendiri, dia nampak begitu gelisah. Dia tahu setelah ini Ibunya akan berbicara serius. Karena bagi Ibunya masalah memilih pasangan adalah hal yang serius, tidak boleh dipilih dengan asal. "Kenapa kamu tidak pernah membahas ini dengan Ibu?" tanya Yani dengan tegas. "Belum, Bu." Jawab Bela lemah. "Kapan? Apa kalau kamu mau dilamar baru kamu kasih tau Ibu?" tanya Yani dengan kesal. "Saya sudah melamar Bela kok, Bu." Kata Nuga yang semakin menyulitkan posisi Bela. Bela semakin menatap tajam ke arah Nuga. Dia semakin kesal dengan laki-laki itu. Laki-laki itu membuatnya semakin sulit untuk menjelaskan kepada Ibunya. Kata-kata yang dikeluarkan oleh Nuga semakin menyudutkannya. "Bela, bisa kamu jelaskan kepada Ibu?" tanya Yani dengan lembut. Tapi sebenarnya dia sedang menahan emosinya. Bela menggaruk kepalanya. Dia bingung harus bercerita dari mana dulu. Dia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Dia tidak bisa jujur dengan Ibunya tentang apa yang terjadi antara dia dan Nuga. "Biar saya yang menjelaskan, Bu." Kata Nuga mencoba untuk membantu Bela. "Tidak perlu, Nak ... ehm siapa nama kamu?" tanya Yani kepada Nuga. "Saya Nuga, Bu." Jawab Nuga dengan sopan. "Iya, Nak, Nuga. Biar Bela saja yang menjelaskan." Kata Yani dengan ramah. "Apa yang harus Bela jelaskan?" tanya Bela lirih namun ucapannya masih terdengar di telinga Yani. "Semuanya! Apa hubungan kamu dengan Nak Nuga, kamu harus menjelaskan itu semua." Jawab Yani dengan tegas. "Iya aku akan menikah dengan Nu ... dengan Mas Nuga." Kata Bela mulai berbicara. Nuga mengangkat sebelah alisnya. Dia merasa asing dengan panggilan Mas Nuga yang keluar dari mulut Bela. Mungkin karena itu belum terbiasa dia dengar. "Sejak kapan kalian menjalin hubungan?" tanya Yani dengan serius. Pasalnya dia sangat tahu jika anaknya baru saja patah hati dan Bela adalah tipe orang yang susah mencintai, jadi akan sulit untuk Bela menjalin hubungan lagi dalam waktu yang begitu cepat. "Baru beberapa minggu." Jawab Bela dengan menundukkan kepalanya. "Kamu tidak salah bicara, 'kan?" tanya Yani lagi. "Tidak, Bu." Jawab Bela singkat. "Bagaimana bisa?" tanya Yani tidak percaya. "Kan Ibu sendiri yang menyuruh Bela untuk cepat-cepat menikah." Kata Bela dengan jujur. "Ya tapi kamu mengenal dulu laki-laki yang ingin kamu nikahi. Bukan berarti Ibu meminta kamu untuk segera menikah lalu kamu bisa menikah dengan laki-laki sembarangan gitu." Omel Yani kepada anaknya. Dia tidak sungkan dengan kehadiran Nuga yang saat ini sedang memperhatikannya. "Mas Nuga baik kok. Dia lebih baik dari pada Vano b******k itu." Kata Bela membela Nuga. "Dari mana kamu bisa tau jika dia baik?" tanya Yani lagi. "Dia laki-laki yang bertanggung jawab. Jika dia tidak bertanggung jawab, dia tidak mungkin akan melamar Bela secepat ini. Jika dia hanya mempermainkan Bela, dia pasti akan mengulur-ulur waktu untuk menikahi Bela seperti yang dilakukan oleh Vano." Jawab Bela menjelaskan. Nuga tersenyum lebar mendengar ucapan dari Bela. Entah mengapa dia begitu senang mendengar ucapan Bela. Nuga merasa jika Bela benar-benar sudah mempercayai dan menerimanya. "Saya berjanji kepada Ibu jika saya tidak akan menyakiti anak Ibu." Kata Nuga kepada Yani dengan sungguh-sungguh. Yani menatap Nuga dengan lekat. Dia memperhatikan Nuga dengan seksama. Dia mencoba mengerti dan menerima apa yang dikatakan oleh Nuga. Yani melihat Nuga adalah laki-laki yang bertanggung jawab, dia melihat jika Nuga adalah laki-laki yang baik. Dan semoga saja penilaiannya benar. Dan kini Yani sudah yakin dengan Nuga setelah melihatnya langsung. Kemarin saat Bela bercerita dengannya, Yani sempat bertanya-tanya laki-laki seperti apakah Nuga itu dan kini setelah dia bertemu dengan langsung, dia yakin jika Nuga lebih baik dari pada Vano. "Saya tidak akan menyakiti Bela sedikit pun. Saya tidak akan membiarkan setetes air mata jatuh ke pipinya, jika memang dia menangis, saya pastikan jika itu adalah tangisan bahagia." Kata Nuga lagi mencoba meyakinkan Ibu Bela. "Saya tidak tau harus menjawab apa. Tapi jika memang kamu serius dengan anak saya, bawa orang tua kamu kemari untuk melamar Bela." Kata Yani dengan dingin. Nuga tersenyum mendengar ucapan Yani. Sedangkan Bela nampak terkejut, dia tidak menyangka jika Ibunya akan semudah itu merestui hubungannya dengan Nuga. Bela kira dia harus berusaha lebih keras untuk meyakinkan Ibunya. Namun ternyata dia salah. Ibunya semudah itu memberikan restu kepadanya dan kepada Nuga. "Baik, Bu. Setelah Kakak saya menikah, saya akan segera melamar Bela secara resmi." Jawab Nuga. "Kapan Kakak kamu akan menikah?" tanya Yani lagi. "Secepatnya dia akan menikah. Jadi secepatnya saya juga akan melamar Bela." Jawab Nuga. Yani hanya mengangguk mendengar jawaban dari lelaki yang ingin melamar anaknya. Yani hanya bisa berdoa agar anaknya bahagia setelah menikah nanti. Tidak ada satu pun orang tua di dunia ini yang menginginkan kehidupan anaknya penuh penderitaan. Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Nuga tersenyum lebar. Dia tidak menyangka jika perkenalan dengan Ibunya Bela akan berakhir seperti ini. Dia baru berpikir jika apa yang dia katakan barusan terlalu cepat untuk hubungannya dengan Bela yang baru saja dia mulai. Memang dia tidak ingin mengulur waktu, tapi ini terlalu cepat. Baru sekali bertemu tapi dia sudah berani ingin melamar anaknya. Bela menundukkan kepalanya. Detak jantungnya berdetak begitu cepat. Setelah Nuga mengatakan jika secepatnya dia akan melamarnya membuat jantung Bela berdebar. Bela tidak menyangka jika Nuga akan berkata seperti itu dihari pertama dia bertemu dengan Ibunya. Namun, Bela juga merasa bahagia karena itu artinya Nuga benar-benar serius ingin menjalin hubungan dengannya. Bela berharap jika kisah cintanya ini tidak berakhir seperti kisah cintanya dengan Vano. Bela berharap happy ending di kisah cintanya dengan Nuga. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN