Nuga tidak bergerak sedikitpun. Dia duduk termenung di dalam mobil. Pikirannya benar-benar kacau. Ingin memutar mobilnya namun dia sudah berjanji dengan Mamanya kalau dia mampir ke rumah. Namun keraguan menghampiri Nuga, dia tidak ingin bertemu dengan Riana. "Kamu harus bisa, Nuga. Kamu harus bisa melupakan Riana." Kata Nuga menyemangati dirinya sendiri. Setelah dia merasa sudah lebih baik, Nuga menyetater mobilnya lagi. Masuk ke halaman rumah mewah dengan pagar tinggi berwarna hitam. Pintu rumah yang tertutup rapat dan terlihat sepi. Sehari-hari rumahnya memang terlihat tak berpenghuni. Papanya selalu sibuk bekerja, dan Mamanya biasanya pergi arisan dengan teman-teman. Semuanya sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Hingga terkadang, Nuga juga merasa kesepian. Dan ketika Nuga ke

