Jawaban

1276 Kata
Benarkah keputusan yang sudah aku tetapkan? Soraya Bela   Bela sedikit berlari ketika telinganya mendengar telvon. Dengan cepat dia meraih handphone yang dia letakkan di atas meja riasnya. Dia membaca nama yang tertera di layar handphonenya. Keningnya tampak mengerut ketika dia membaca nama itu. Nama yang sangat asing tersimpan di kontak handphonenya. "Calon suami?" gumam Bela lirih ketika dia membaca nama yang ada di layar handphone nya. Tanpa berpikir lagi, Bela segera menerima telvon itu dan meletakkan benda pipih itu ke telinganya. Seketika terdengar suara laki-laki yang tak dia kenal. Bela mengerutkan keningnya sambil berpikir siapa pemilik suara itu. "Halo." Sapa lelaki dari seberang telvon. "Kamu siapa?" tanya Bela akhirnya. "Aku orang yang melamarmu tadi siang." Jawab lelaki itu langsung. Bela memelototkan matanya kaget. Pasalnya dia tidak pernah berpikir jika dia akan berhubungan lagi dengan lelaki itu. Dia kira setelah perpisahan tadi, dia tidak akan pernah bertemu dan berkomunikasi lagi. Tapi Bela lupa, jika tadi mereka sempat bertukar nomor telvon. Tepatnya, laki-laki itu yang memaksa Bela untuk memberinya nomor telvon. "Ada apa lagi?" tanya Bela dengan malas. "Aku ingin membahas kelanjutan hubungan kita." Jawab Nuga jujur. "Kita saja tidak pernah memiliki hubungan, lalu apa yang perlu dibahas lagi?" Terdengar kekehan dari seberang telvon. Bela yakin jika saat ini lelaki itu sedang menertawakannya. Bela hanya bisa mendengus kesal mendengar kekehan yang lebih mirip dengan ejekan itu. "Maka dari itu, ayo, kita memulai hubungan kita." Kata Nuga tiba-tiba. "Laki-laki gila." Umpat Bela kesal. "Namaku Nuga." Kata Nuga   "Aku nggak tanya." Jawab Bela sinis. "Aku kasih tau kamu, sama calon suami sendiri masak nggak tau namanya." Kata Nuga lagi yang sukses membuat Bela semakin kesal. "Aku nggak ada waktu untuk ngomong sama orang gila seperti kamu." Kata Bela dengan tegas. “Tapi kalau nikah sama aku ada waktu, ‘kan?” tanya Nuga usil. Bela mendengus kesal mendengar pertanyaan konyol seperti itu. Bela tidak pernah berpikir jika dia bisa bertemu dengan laki-laki gila seperti Nuga. Laki-laki yang Bela tidak tahu jalan pikirnya. Laki-laki yang bisa biasa saja setelah dia tikung oleh Kakaknya sendiri. “Nggak ada!” jawab Bela dengan kesal dan setelah itu dia menutup telvonnya. Bela melemparkan handphonenya di atas kasur. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kesal. Bela tidak menyangka jika dia akan terjebak dengan laki-laki yang kurang sehat seperti Nuga. Bela meraih telvonnya lagi. Dia membuka kontak yang ada di handphonenya. Bela mencari nomor dengan nama "calon suami" dan tanpa berpikir panjang dia langsung menghapus nomor itu dari handphonenya. Bela benar-benar ingin menghilangkan jejaknya dengan laki-laki itu. Dia merasa akan gila jika terus berhubungan dengan Nuga. *** Bela nampak lihai ketika dia menghias cup cake yang baru saja keluar dari oven. Apron hitam yang melekat ditubuhnya nampak dipenuhi dengan tepung. Rambut yang dia gulung secara asal membuatnya semakin cantik. Memang benar, wanita akan terlihat lebih cantik ketika dia sedang bergulat dengan alat dapur. Apa lagi jika dia sedang menyiapkan makanan untuk suaminya. Kecantikannya akan bertambah berkali-kali lipat. "Bu, maaf meja nomor 6 meminta Ibu sendiri yang mengantar pesanannya." Kata salah satu karyawan Bela. Bela mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan salah satu pegawainya itu. Baru kali ini ada pelanggan yang memintanya untuk menyiapkan pesanan dan mengantarnya sendiri. Biasanya dilakukan oleh karyawannya semua dan Bela hanya melihat dari kejauhan atau paling tidak dia membantu membuat kue. "Kenapa saya? Siapa dia?" tanya Bela bingung. "Maaf Bu, saya tidak tahu." Jawab pegawai itu dengan menundukkan kepalanya. Dia takut jika bosnya ini salah paham dan memarahinya. "Ya sudah. Apa pesanannya?" tanya Bela akhirnya. Dia mendekati pegawainya itu dan mengambil catatan kecil yang berisi pesanan pelanggan itu. Setelah membaca, dia meletakkan kembali note kecil itu di atas meja dan setelah itu dia melepas apronnya yang nampak kotor itu. Bela berjalan pelan menuju depan dan mulai menyiapkan pesanan. Tanpa menunggu waktu lama, dia sudah melangkahkan kakinya menuju meja nomor 6 dengan tangannya membawa nampan berisi pesanan dari pelanggan itu. "Permisi, ini pesanan anda." Kata Bela ramah. Dia dengan sopan meletakkan makanan itu di atas meja. "Terima kasih." Jawab seseorang sambil melepas kacamata hitamnya. "Kamu lagi." Gumam Bela pelan. Dengan cepat Bela langsung berbalik dan ingin meninggalkan meja nomor 6 itu. Namun Nuga dengan cepat pula menahan tangan Bela hingga membuat Bela tidak jadi pergi. "Lepas!" perintah Bela sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Nuga. "Duduk dulu." Kata Nuga pelan. Dia tidak melepaskan genggaman tangannya sedikit pun. Bela menghembuskan napasnya dengan keras. Dia sudah lelah berusaha melepaskan diri dari Nuga tapi tetap saja dia gagal. Tenaga Nuga lebih besar dibanding dengan tenaganya. Dengan malas, Bela menuruti permintaan Nuga. Dia duduk di kursi yang ada di hadapan Nuga. Matanya menatap ke arah lain, dia tidak sudi menatap laki-laki yang ada di hadapannya itu. "Kenapa kamu menghindari aku?" tanya Nuga pelan. "Karena aku tidak ingin memiliki hubungan dengan kamu." Jawab Bela sinis. "Kenapa? Bukannya kamu sendiri yang menerima lamaranku?" tanya Nuga memastikan. Dia tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran perempuan yang dia lamar kemarin itu. "Aku terpaksa menerima lamaran kamu karna aku melihat ada mantan aku di sana, aku ingin membuatnya kesal. Jadi, jangan anggap serius jawaban aku kemarin itu." Jawab Bela menjelaskan. "Lalu bagaimana?, aku sudah terlanjur menganggapnya serius." tanya Nuga. Bela memandang sinis ke arah Nuga sambil berdecak kesal. Dia tidak menyangka jika akan sesulit ini dia mencoba menghindar dari Nuga. Kini Bela tahu jika Nuga adalah laki-laki yang tidak mudah menyerah. Tapi itu semua terserah Nuga, karena Bela akan tetap pada pendiriannya. "Kita sama-sama merasakan patah hati dan ditinggal menikah dengan orang yang kita cintai, lalu kenapa kita tidak mencoba menjalin hubungan saja?" tanya Nuga memberi usulan. "Kamu pikir pernikahan sesederhana mengadakan pesta dan hidup bersama?" tanya Bela dengan tegas. "Pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang yang berbeda, namun juga menyatukan dua karakter yang berbeda. Lalu, apa kamu pikir menyatukan dua karakter yang berbeda itu semudah kamu menelan brownis yang ada di depanmu?" tanya Bela lagi. Bela benar-benar tidak mengerti mengapa dia bisa bertemu dengan laki-laki yang berpikiran dangkal seperti Nuga. "Kita bisa melakukan itu perlahan. Setelah menikah pun kita memiliki banyak waktu untuk belajar memahami satu sama lain." Jawab Nuga. Entah apa yang membuat Nuga memaksa Bela untuk menikah dengannya. Mungkin karena dia ingin membuktikan jika dia bisa menaklukkan wanita. "Aku saja yang mengenal mantanku 8 tahun belum bisa memahami dia, apa lagi dirimu yang baru aku kenal beberapa hari." Jawab Bela dengan memutar bola matanya malas. Bela bangkit dari duduknya. Dia tidak ingin lama-lama berbicara dengan Nuga. Bela takut jika semakin sering mereka berinteraksi maka akan membuatanya tertular kegilaan yang Nuga miliki. "Kenapa kita tidak mencobanya dulu?" tanya Nuga sekali lagi. Hal itu sukses membuat Bela berhenti dari langkahnya. Bela membalikkan badannya. Dia bersedekap d**a dan memandang Nuga dengan tajam. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Bela. Dia ingin mendengar kata-kata Nuga selanjutnya. "Aku akan memberimu waktu untuk berpikir lagi. Dua hari lagi aku akan kembali dan aku harap kamu sudah memutuskan jawabannya." Kata Nuga pelan. Setelah mengatakan hal tersebut, Nuga berjalan pelan menuju kasir. Dia membayar semua pesanan yang tadi dia pesan. Walaupun dia sama sekali belum mencicipi cake yang dipesannya itu. Nuga keluar dari kafe setelah membayar. Dia berjalan dengan tenang tanpa membalikkan tubuhnya melihat Bela. "Kenapa aku jadi bimbang gini?" gumam Bela pelan. Dia berdecak lidah kesal karena dia merasa jika dia sudah mulai terkecoh dengan Nuga. "Aku akan membicarakan ini dengan Ibu." Kata Bela lagi. Bela membawa pesanan Nuga yang belum disentuh sama sekali itu ke dapur. Dia berjalan dengan pikiran yang bimbang. Entah mengapa hatinya bimbang setelah mendengar bujukkan Nuga. Dia merasa ingin memberikan kesempatan untuk Nuga namun dia takut jika Nuga akan menyakitinya seperti apa yang dilakukan oleh Vano terhadapnya. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Vano membuatnya enggan menjalin hubungan lagi dengan laki-laki. Namun Bela sadar jika dia tidak bisa hidup sendiri dan suatu saat nanti dia pasti membutuhkan pendamping hidup. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN