Bab 10. Trauma

1074 Kata
“To-long … j-jangan! T-tisa gak mau, Paman. Jangan! S-sakit … u-udah, Ti-sa gak ku-at, Paman!” Tubuh gadis yang ada di atas ranjang terlihat begitu gusar. Adalah Tisa Ratu Ayu, matanya yang tertutup seolah membuktikan jika dirinya sedang mengalami mimpi buruk. “J-jangan, Paman! Sakit… Ti-sa janji gak akan bantah lagi!” rintih gadis itu dengan mata tertutup dan menangis. Tiba-tiba, ia berteriak, “Ampun, Paman!” Tisa terbangun. Mata gadis itu membelalak lebar dengan deru napas yang memburu. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. Ia lalu menarik kedua kakinya, memeluknya dengan air mata yang mengalir deras. Tiba-tiba, telinganya seolah-olah mendengar suara bentakan dari sekitar sehingga membuat gadis itu menjerit. “Tidak! T-tisa gak mau, Paman! T-tisa janji akan menuruti ucapan Paman. Tapi, jangan sakiti Tisa lagi! Ini sakit, Paman!” Ia tergugu sambil menangis. Dalam bayangan Tisa, pamannya sedang memegang rotan, memukulnya tanpa ampun dengan mata memerah, mengancam seolah hendak membunuhnya. “Jangan, Paman! Tolong, jangan sakiti, Tisa! Ampun!” Gadis itu meloncat, lalu berlari ke arah ujung ruangan. Namun, tubuh itu terjatuh terjerembab kakinya sendiri sehingga mengenai meja kaca yang ada di depannya. Pyarrrrr. Suara pecahan tersebut begitu keras, sementara pecahan kaca mulai berserakan di lantai. Tisa yang masih ketakutan berusaha untuk bangun. Akan tetapi, karena tak berhati-hati telapak tangannya mengenai pecahan kaca tersebut. “Arghh,” pekiknya. Darah mulai merembes dari kulitnya yang robek. Bukannya segera menghentikan pendarahan tersebut, Tisa justru berdiri. Kakinya yang telanjang berjalan tergesa hingga menginjak beberapa serpihan kaca di lantai. Namun, tak dirasa. Lagi-lagi darah mulai merembes, tapi tak dirasakan oleh gadis tersebut. Dalam pikirannya, ia harus cepat pergi, dan menyelamatkan diri. Bayangan rotan yang memecuti tubuhnya di malam itu, sungguh meninggalkan trauma yang mendalam bagi Tisa. “It’s ok, Tisa! Kamu aman. Kamu akan baik-baik saja. Dia tidak akan melukaimu lagi. Jadi, kamu tenang, yah!” Tisa terus mensugesti dirinya sendiri dengan tangan menutupi telinganya. Tiba-tiba, terdengar dorongan pintu dari arah depan. Ama langsung berjengit kaget. Ia semakin merapatkan tubuhnya ke dinding dengan bibir terus bergumam, “jangan! T-tolong, jangan dekati Tisa!” Semakin lama, langkah itu semakin mendekat hingga membuat Tisa makin menangis dalam diam. “Ada apa ini? Loh, kok ada darah?” jeda suara itu terdengar aneh. “K-kau… apa yang kau lakukan dengan kamarku?!” Teriakan itu semakin membuat Tisa ketakutan. Gadis itu, bahkan sampai menggigit bibirnya kuat-kuat. Rasa anyir langsung menyeruak di indera perasanya. Namun, ia tak peduli. Tiba-tiba, dagunya ditarik oleh seseorang. Adalah Bara Langit Sanjaya. Pria itu menatapnya dengan tatapan tajam, tetapi dalam sekejap berubah menjadi shock. Kening pria itu mengernyit dalam sekaligus bingung. “Ada apa ini? Dan, kenapa kamu begini?” Dagunya ditolehkan ke kanan dan kiri. “Apa ada pencuri yang datang ke kamar ini?” tanya Bara beruntun. Tangan Bara masih bertengger di wajah Tisa, tetapi satunya lagi mengusap bagian bawah bibirnya. “Apa kau gila?” Tatapan Bara begitu dalam seolah peduli padanya. “Lepas gigitan pada bibirmu, Bodoh! Apa kau ini Drakula, huh?!” Tisa menggeleng, bahkan menepis tangan Bara di bibirnya. “Menjauh!” katanya bergetar. “Yakh! Kamu ini kenapa, sih? Ini aku, Bara!” Suara itu langsung menyentak tubuh Tisa. Sedetik kemudian, gadis itu langsung memeluk tubuh Bara. “O-om?” Wajah Tisa sudah basah bersimbah air mata. “Huhuhu! Ti–sa takut, Om!” Ia tergugu dalam dekapan sang suami. “Ti–sa pikir … T-tisa a–kan mati, O–om.” Ia mendorong tubuh pria itu, lalu berteriak histeris dengan tangan menjenggut rambutnya sendiri. “Hei, apa yang kamu lakukan, Bocah?” Pria itu berusaha melepaskan tangannya yang terus menjenggut rambut sendiri. “Tisa, please! Lepas, kamu bisa menyakiti dirimu!” Tiba-tiba, Tisa terdiam. Tangannya tak lagi menjambak rambut, tapi mencengkram lengan kekar suaminya hingga darah itu mengotori baju Bara. Tatapan matanya terlihat gelisah juga ketakutan. “Tisa, tatap mata aku!” Tubuhnya diguncang, lalu wajahnya ditangkup dengan paksa agar melihat ke arah sang suami. “Kamu kenapa? Siapa yang berniat menyakitimu? Hm!” “M-mereka,” jedanya ketakutan, “mereka akan menyakitiku lagi, O-om!” Tangannya yang belepotan oleh darah menunjuk ke arah depan. Ia menggeleng sambil histeris. “Argh! Tisa takut, Om! Tolong … tolong usir mereka, Om!” “Yakh! Tanganmu terluka! K-kau....” Tisa menggeleng, melepas tangan pria itu yang berusaha melihat luka di telapak tangannya. “Gak, Om!” “Dengerin aku, Tisa!” Pria itu bersikeras, bahkan memegang bahu istrinya erat. “Kamu terluka dan butuh diobati!” bentak Bara dengan tegas. “Tapi, dia ada di sana, Om! Dia membawa rotan panjang itu, O-om.” Rintihnya histeris. Gadis itu berlari menjauh, tetapi langkahnya yang tak tentu arah kembali membuat kakinya menginjak pecahan beling itu lagi. “Berhenti, Bodoh!” Suara teriakan dari Bara mampu membuat gadis itu menggigil ketakutan. “Kau ini sebenarnya kenapa? Siapa yang yang udah buat kamu begini?” Tisa menggeleng pilu dengan air mata yang kembali luruh membasahi wajahnya. “T-tisa gak mau lagi. Sa-kit, Om. Sakit!” Tangan bergetar itu memeluk tubuhnya sendiri. Tubuh Tisa hendak terjatuh ke lantai, tetapi sebuah tangan menangkapnya. Kini, ia berada dalam rengkuhan hangat suaminya. “T-tolong usir mereka, Om! Tisa gak mau lagi tinggal dengan mereka!” “Mereka?” Sebuah suara sarat akan kebingungan terdengar di dekatnya. “Apa maksud kamu adalah pamanmu?” Tisa diam, tak menanggapi pertanyaan sang suami hingga helaan napas terembus di puncak kepalanya. “Tenanglah! Aku sudah mengusirnya. Kamu boleh tenang sekarang. Ok!” Bisikan itu terdengar menyakinkan, apalagi ketika punggungnya diusap, lembut, seolah dirinya adalah barang yang mudah hancur jika disentuh terlalu keras. “Kamu aman di sini bersamaku. Karena aku gak akan pernah membiarkan mereka menyakitimu lagi. Ok, tenang, yah!” Suara pria itu kembali terdengar di telinganya. Membisikkan kata-kata yang membuat gadis kecil itu merasa aman. Detak jantung yang bertalu dan deru napas yang tadinya bekerja begitu cepat, kini mulai berangsur normal. Tisa membaurkan tangan sang suami memeluknya, mendekapnya dengan penuh kehangatan. Rasa lelah membuat mata Tisa mengerjap, mengantuk. Ia semakin membenamkan wajahnya di d**a bidang pria tersebut. “J-jangan tinggalin Tisa, O?,” katanya lirih. Hanya usapan di rambutnya yang Tisa rasakan. Sebelum ia benar-benar terlelap, ia sempat mendengar suara sang suami berkata kepada seseorang. “Tolong cari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada istriku! Dan,” jeda pria itu, “tolong batalkan semua rapat hari ini! Aku akan bekerja di rumah!” Setelah itu, Tisa tak mendengar apa pun lagi karena kegelapan mulai menyelimuti pandangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN