Bab 8. Gengsi

1151 Kata
“Eits! Kakak-beradik gak boleh berantem!” Tisa melerai. “Lagian, ya, Tuan. Terserah kami berdua dong, mau manggil apa. Bocah, kek. Om, kek. Ya, itu terserah kami. Bagi Tisa,” ujarnya melirik ke arah sang suami, “Om Suami itu adalah lelaki yang sangat keren, ganteng, bahkan dia begitu baik sama Tisa!” Tisa berkata seperti itu karena mengingat bagaimana Bara yang mau menuruti kemauannya. Buktinya, sang suami memberinya satu kantong kresek cemilan. Baik, kan? Pujian itu ternyata membuat Bara besar kepala. Hidungnya bahkan langsung kembang kempis di pelukan sang istri. Satu sudut bibirnya menyeringai menatap Danandra. “See, apa perlu aku mengumumkan lagi kepadamu jika kami ini adalah pasangan suami-istri?” Bara terlihat bangga. Danandra melihat ke arah Tisa, lalu abangnya dengan kecewa. Namun, secepat kilat ekspresi itu berubah ceria ketika melihat lagi wajah gadis cantik di depannya. “Manis. Jika abangku galak dan tidak memperlakukanmu dengan baik, aku selalu ada di belakangmu, ok!” “Andra!” Bara menggeram, menahan gemertak giginya ketika tangan sang adik menyentuh dagu istrinya. “Sekali lagi kamu berbuat kurang ajar pada kakak iparmu, akan kupatahkan tanganmu!” Dia tak main-main. “Ish! Om, gak boleh gitu!” Tisa segera menarik wajah Bara, menggeleng dengan ekspresi memperingati. “Tisa bisa jaga diri, kok. Om Suami gak perlu khawatir karena Tisa bisa melindungi diri sendiri, kok. Tapi, makasih udah jadi suami yang baik untuk Tisa.” Bara melepaskan tangan Tisa yang menangkupnya, kemudian dia ganti merangkul pinggang mungil istrinya di depan sang adik. “Pergilah! Istriku gak akan ke mana-mana!” usirnya pada Danandra. Setelah itu, dia menarik Tisa menuju kamarnya. Tanpa memedulikan sang adik yang masih berdiri di pagar balkon. Namun, langkahnya terhenti ketika si istri berhenti berjalan. “Kenapa?” tanyanya bingung. “Makananku, Om.” Tisa menunjuk ke arah makanannya yang berada di atas meja dan kursi. “Itu belum pada habis,” sambungnya. Bara mengetatkan rahangnya. Dia ingin mengomel, tetapi mengingat jika masih ada Danandra di sana, maka dia pun hanya menghela napas. “Ok, aku ambil. Tapi, kamu masuk dulu, dan jangan bergerak sedikit pun sebelum aku menyusul!” “Baik, Om. Tapi, bener, yah, makananku diambil semua?” “Iya, bocah. Bawel banget, deh!” Akhirnya, dia pun mendorong tubuh Tisa untuk masuk ke dalam, sementara dirinya mengambil makanan sang istri. Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar, dia melirik adiknya dari balik bahu. “Pergilah! Atau, aku akan memberitahukan ayah jika kamu ini mengganggu istriku!” ujarnya memperingati. Setelah itu, dia masuk ke dalam kamar, mengunci pintu balkon, bahkan hordeng pun sengaja ia tutup. “Om, kok, ditutup, sih? Kan, jadi gelap.” Suara Tisa terdengar protes ketika Bara masuk ke dalam kamar mereka. Bara tak menjawab, dia terus berjalan ke arah dinding, kemudian menyalakan lampu. Sinar langsung membuat ruang kamar itu menjadi kembali terang. Matanya melirik ke arah Tisa yang masih saja berdiri diam di samping pintu balkon. Keningnya mengernyit. “Kenapa melihatku seperti itu?” Tisa tak langsung menjawab, dia justru berjongkok dengan dua bungkus Snack yang sedang dipeluknya. Bara semakin dibuat bingung dengan sang istri. “Apa kamu mau pergi dengan Andra?” Wajah Tisa mendongak, menggeleng dengan cepat. “Lalu?” Bara memilih duduk di sofa tanpa memedulikan si istri yang tak sedikitpun bergerak dari posisi awalnya. “Dan, mau sampai kapan kamu akan di situ terus? Huh!” “Kata Om Suami, Tisa gak boleh makan di kamar,” cicitnya. Bara menghela napas, mengurut pelipisnya agar tidak spaneng. Kenyataannya, dia tetap saja pusing ngurusin istrinya. Awalnya, dia pikir dengan bekerja di ruang kerja, pikirannya akan fokus dan tidak tertuju pada gadis itu. Ternyata, dua tidak bisa. Semakin kuat dia berusaha maka semakin jernih wajah dan perlakuan gila Tisa dalam benaknya. Akhirnya, dirinya memutuskan untuk keluar ruangan. Namun, dirinya dibuat terkejut ketika mendapati adiknya naik ke balkon kamarnya hendak mengajak Tisa untuk pergi. “Sial!” Bara tidak terima, dong. Maka dari itu, dia segera menarik istrinya masuk ke dalam kamar. Namun, ketika hal itu sudah terjadi, kini dirinya bertanya-tanya pada diri sendiri. Sejak kapan Bara peduli dengan perempuan? Apalagi perempuan itu adalah Tisa. Gadis kecil yang hobinya membuat dia sakit kepala. Mereka bahkan belum lama menikah, dan Tisa juga baru masuk ke keluarga Sanjaya. Akan tetapi, gadis itu sudah berhasil membuatnya dan sang adik berselisih paham. “Om, Tisa haus. Pengin minum,” ucap gadis itu dengan memelas. Bara yang sedari tadi melamun kini kembali tersadar. Dia lalu berdiri mendekati sang istri. Menariknya untuk berdiri, kemudian dia mendorong tubuh istrinya hingga terpojok di dinding kaca. “O-om mau ngapain?” Snack yang sedari tadi dipegangnya sudah jatuh ke lantai, bahkan ada beberapa serpihan itu mengotori karpet. Akan tetapi, Bara tidak peduli. Pria itu Itu justru semakin menarik dagu Tisa hingga mendongak, lalu ia pun menundukkan wajahnya. “Apa kau sedang mengujiku? Hm!” bisiknya tepat di depan bibir Tisa. Entah kenapa ia senang sekali melihat gadis dihadapannya gugup. Lihat saja, Tisa sekarang sedang mengatupkan bibir. Bulu mata lentiknya yang lentik, serta hidung mungil sangat pas dengan proporsi wajah Tisa. Eh? Bara tersadar jika dirinya baru saja mengagumi istri bocilnya. Namun, seberapa pun ia berusaha menjauh, matanya yang sewarna malam selalu tidak bisa beralih sedikit pun. “B-bisa mundur sedikit gak, O-om?” Gadisnya ingin melengos, tetapi tangan Bara terus mencengkram dagu itu hingga membuat Tisa sulit untuk bergerak. “Kenapa, hm?” Bara menelusuri wajah Tisa dengan hidung mancungnya hingga wajah pria itu sudah berada di ceruk leher istrinya. “O-om, ge–li—” Bara seolah tuli. Ia sibuk dengan kesenangannya, yaitu mencium leher Tisa. Pria itu seolah menemukan mainan barunya hingga tak ingin menghentikan menjauh. Kening Bara mengernyit, ketika tangan Tisa berusaha mendorongnya. Ada sesuatu yang menggelitik hidung dan ia langsung berjalan mundur. “K-kau—” “O-om, kenapa?” Tisa hendak mendekat, tetapi Bara langsung mundur. “Diam di situ, Bocah!” “T-tapi, O-om kenapa?” Bara tidak bisa lagi menahannya. “HATCHIM!” “AYAM GORENG!” Secara bersamaan, Tisa berteriak setelah mendengar suara bersin Bara yang begitu keras. “UPS, sorry, Om!” Gadis itu meringis bersalah. Bara mengusap hidungnya yang gatal, lalu menatap wajah istrinya. “Kenapa melihatku seperti itu? Apa kau pikir aku ini makhluk astral? Huh!” Tangan Tisa dikibaskan, panik. “Bukan gitu, Om. Tadi, Tisa cuma kaget aja. Makanya teriak,” jelasnya. “Alasan!” Bara mendengkus, lalu berbalik badan. “Selain berisik, menyebalkan, kamu juga bau, Bocah! Mandi sana!” “Apa? Bau?” Gadis itu berteriak tak terima. Ia juga melihat Tisa sedang membaui tubuh sendiri dari bahu hingga kaki. “Tapi, Tisa gak bau, kok, Om. Ini hanya bau parfum bayi,” sambungnya bingung. Bara yang sudah tidak tahan lagi segera berjalan menjauh. Ia merasa hidungnya makin gatal jika berdekatan dengan Tisa. “Apa yang sebenarnya dipakai oleh gadis itu? Kenapa hidungku sampai jadi gatal begini?” Ia mendumel sambil menggosok hidungnya. “Om!” panggil Tisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN