Tapi malam ini, setelah berbulan-bulan absen dari rutinitas yang telah menjadi rahasia antara dirinya dan Miranda sejak wanita itu masih hidup, Irena mencoba kembali melakukan kebiasaannya itu. Tidak perlu publikasi, cukup turun sendiri ke jalan, tidak peduli hanya memberikan sebungkus nasi, sudah cukup untuk membuat hatinya hangat setelah ditinggal Jullian. Hal yang membuatnya kembali bangkit paska kematian tiga orang yang paling ia sayangi. "Makasih, Neng. Bapak emang laper dari tadi." Suara pria keriput dengan gigi depan keropos tersenyum penuh terima kasih saat tangan irena terulur, mengangsurkan nasi bungkus hangat kepadanya. Irena yang kini sudah menutupi identitasnya dengan rambut pendek dan lensa kontak, minus kaca mata tebal, karena ia lupa meletakkan benda itu terakhir kali, ha

