Bab 3. Mulai Mengenal

1011 Kata
Jam istirahat pun habis, akhirnya karyawan dan karyawati pun masuk kembali, terkecuali aku yang memang tidak keluar karena uangku habis. Waktu berjalan begitu cepat, karena tidak terasa di sibukan dengan chat ke nomor telepon yang sudah di beri oleh kantor. Tiba waktunya untuk pulang. Aku bingung pulang harus bagaimana, mau pinjam uang tidak enak karena baru pada kenal. Mau nebeng tapi tidak ada yang satu arah jalan pulangnya. Yasudahlah jalan kaki saja, anggap saja olah raga sore hari. "Pengumuman!" Teriak pak Mike di depan meja kantor. untuk kelompok satu dan kelompok dua. Hari kamis besok kita rapat untuk membahas berapa banyak pelanggan yang sudah di dapat dan bagai mana caranya memikat pelanggan dengan baik. Terimakasih silahkan pulang. Aku pun berjalan keluar, dan langsung berjalan menuju arah kerumah. Tanpa disadari ternyata teman-teman kantor ku memperhatikan ku. Lalu, Jamal bertanya. "Rayyan kamu kenapa tidak naik angkot?" Okh enggak kenapa-kenapa Mal!" Jawab ku sambil tersenyum." Rayyan? Kamu jalan kaki pulangnya? Teriak Iges sambil motor yang di kerdarainya menepi ke pinggir. Iyah Ges! Jawab ku sambil tersenyum. Yaudah sini naik, Iges anterin pulang! Ujar Iges. Udah enggak apa-apa Iges, terimakasih. Aku tidak mau ngerepotin. Santai aja kali Rayyan, tenang gratis ko! Udah sini naik. Tidak lama kemudian Cika pun menghampiri aku dan Iges lagi berbicara. Hey.... kalian lagi apa? Tanya Cika sambil membuka kaca mobil. "Ini Cika." Rayyan pulangnya jalan kaki. Saya nawarin tumpangan!" Ujar Iges kepada Cika." Yaudah, sini naik Yan, Cika anterin pulang. Ujar Cika menawari tumpangan kepada Rayyan. Udah enggak apa-apa, aku bisa jalan kaki ko sampai rumah. "Hah!" Jalan kaki sampai rumah. Teriak kaget Cika dan Iges. Kenapa mesti jalan kaki sampai rumah? Tanya Cika. Enggak kenapa-kenapa ko Cika. Jawab ku. Aku tahu neah, kayak ya kamu tidak punya ongkos yah? Tanya Iges sambil tersenyum. Enggak ko, ada uang mh Iges. Jawab ku. Coba mana lihat, kalau memang ada! Tanya Cika. Aku hanya bisa terdiam malu terhadap Iges dan Cika, yang terus-terusan menggali informasi kenapa aku jalan kaki. Tidak lama kemudian, Cika turun dari mobil dan menghampiri ku. Rayyan! Kamu mau naik mobil aku atau mau aku kasih pinjam uang buwat naik angkut? "Tanya Cika." Yasudah Cika, aku naik mobil kamu saja. Jawab ku. Dari tadi kek bilang kayak gitu hehehehe. Ujar Cika sambil ketawa. Cika, Rayyan! Iges duluan yah. "Okh iyah." Teriak Aku dan Cika. Aku pun masuk kedalam mobil Cika, wangi, AC dingin, pokoknya nyaman banget deh. Yan? Kenapa kamu nekat jalan kaki sih! Tanya Cika. Engga apa-apa ko, cuman lagi kepengen aja Cika. Emangnya rumahnha deket dari kantor? Tanya Cika. Hehehehe jauh sih Cika, kaLau naik angkutan umum satujaman lebih hehehehe. Kalau jadi Cika enak banget kayaknya, bisa ngendarai motor dan mobil gitu!" Ujar ku terhadap Cika." Rayyan juga bisa donk mobil atau motor?" Tanya Cika." Enggak Cika, aku mah boro-boro mobil, motor juga enggak bisa. Heheheh. Seriusan Yan?" Tanya Cika dengan wajah serius." Beneran Cika! mau bisa dari mana orang enggak punya motor gitu. Jawab ku. "Okh gitu!" Tapi siapa tahu nanti Rayyan jadi orang sukses jangan kan motor, mobil juga punya. Ujar Cika sambil mengendarai mobil. Amin. Semoga doa dari Cika di kabul ya allah."ujar ku sambil mengangkat kedua tangan. "Okh iyah Yan." Rumah kamu kapan sampenya neah? Tanya Cika. Itu di depan dekat alfamart Cika sebelah kiri. Jawab ku terhadap Cika. Oke siap, ternyata rumahmu jauh juga dari kantor. Kalau kamu nekat jalan kaki jauh lho. Iyah tapi mau gimana lagi kan, hehehehe. Akhirnya tiba juga depan rumah. Cika mau mampir dulu enggak? Boleh deh kalau tidak merepotkan sekalian mau silaturahmi aja. Akhirnya mobil pun menepi ke pinggir jalan, lalu kita berdua turun dari mobil dan menuju kerumah ku. Tidak butuh waktu lama, akhirnya aku dan Cika sampai dirumah ku, namun tiba-tiba Ibuku memanggil-manggil "Bapak-bapak" sambil merintih kesakitan. Rayan itu suara siapa? Tanya Cika depan pintu. Itu Ibu Cika. Ibu sebentar Rayyan baru pulang Ibu. Lalu aku dan Cika membuka pintu rumah dan ternyata pintu kamar Ibu sudah terbuka dan benar saja Ibu sudah tergeletak di lantai. Ibu, kenapa bisa ada di bawah? Tanya ku sambil mengeluarkan air mata. Ibu tadi terjatuh sewaktu mau ke kamar mandi. Jawab Ibu dengan nada lesu. Ibu saya antar kerumah sakit yuk? Cika menawarkan Ibu Rayyan untuk berobat. Tidak usah Nak, terimakasih. Kamu siapa? Tanya Ibu. Aku Cika teman kerjanya Rayyan Bu, satu kantor. Jawab Cika. Kamu Cantik, baik juga. Ayo Ibu Rayyan angkat yah ke tempat tidur lagi? Tanya aku kepada Ibu. Akhirnya aku dan Cika memapah Ibu ke tempat tidur. Namun tiba-tiba, Ibu batuk-batuk dan mengeluarkan darah. Uhu uhu uhu Ibu, udah yuk kita kerumah sakit? Ujar ku terhadap Ibu mengajak berobat. Tidak usah Rayyan, Ibu tidak apa-apa ko. Jawab Ibu. Tidak apa-apa gimana! Itu Ibu muntah darah. Jawab ku sambil kesak terhadap Ibu. Mau berobat gimana Nak, Ibu dan Ayah kan lagi tidak pegang uang banyak untuk berobat. Jangan khawatir Bu, Cika boleh bantu enggak? Kebetulan Cika punya tabungan. Ujar Cika sambil berharap bantuannya bisa di terima. Terimakasih Nak. Tapi Ibu tidak apa-apa ko. Ibu pun tidak henti-hentinya batuk dan mengeluarkan darah. Ibu mohon terimayah bantuan Cika ini. Ujar Cika sambil memohon. Yaudah Nak, Ibu terima bantuanmu. Akhirnya Ibu di papah aku dan Cika ke mobil Cika. Tidak selang lama, Bapak pun pulang dari ladang dan kaget melihat Ibu di papah. Ibu mau kemana? Teriak Bapak memanggil Ibu dengan rasa khawatir. Bapak! Ibu tadi batuk terus muntah darah gitu, sekarang mau di bawa kerumah sakit. Okh, yasudah ayo kita berangkat. Rayyan cari angkutan di depan yah, biar Bapak yang papah Ibu. Ujar Bapak kepada Rayyan dengan tergesa-gesa. Tidak usah cari angkutan pak! Cika bawa mobil ko. Ujar Cika kepada sang Bapak. Okh yasudah deh. Tidak pikir panjang, Ibu pun di naikan ke mobil Cika, lalu kita berempat berangkat menuju Rumah Sakit, karena memang puskesmas jauh jaraknya dari tempat tinggal aku. Mobil pun siap melaju. Ibu sudah siap? Tanya Cika. Iyah Nak. Jawab Ibu. Kita berangkat "Bismilahirahmanirrahim." akhirnya, Cika pun berangkat dengan perasaan sedih, senang bercampur. satu sisi dia kecewa karena dia paling tidak suka di jodohkan, namun disisi lain Cika tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN