“ANYA!”
Anya membalikkan badan dan memandang Rivaldi yang memanggilnya.
“Ya, Pak?” sahut Anya cepat. Viona dan Becca memandang Rivaldi yang tiba-tiba memanggil Anya seperti itu.
Tanpa memandang Viona dan Becca, ia segera berjalan ke arah Anya. Tanpa ragu, ia mengambil koper Anya yang besar itu dan membawakan beberapa barangnya.
“Aku akan membantumu,” kata Rivaldi sambil terus berjalan menuju ke mobil yang sudah disediakan untuk mengantar Anya.
“Lho… Pak… Pak… saya bisa bawa sendiri!” sahut Anya sambil mengejar Rivaldi. Becca juga ikut menyusul Rivaldi dan Anya berjalan ke arah mobil.
Yang tersisa di dalam ruangan saat ini hanya Viona. Viona tampak membeku dengan menggenggam erat tangannya sendiri. Perasaan cemas itu muncul kembali. Tapi semoga ini adalah perhatian Rivaldi yang terakhir untuk gadis itu. Setidaknya ia tidak akan memandangi gadis itu nyaris 24 jam sehari seperti 10 hari terakhir ini mulai dari sekarang. Viona hanya berharap Rivaldi tidak jatuh pada pesona wanita itu. Ia hanya bisa berdoa semoga iman Rivaldi tetap kuat dan komitmen pernikahannya akan tetap ia pegang teguh.
***
Pagi hari ini GD Corp terlihat begitu sibuk. Para pemangku jabatan manajer ke atas dipanggil ke ruang rapat. Rivaldi mengadakan rapat darurat mengenai tender yang akan mereka ikuti. Anya sudah memastikan segala perlengkapan, berkas dan materi presentasi siap. Rivaldi masuk ke dalam ruang rapat diikuti oleh para manajer yang lain, termasuk Aaron dan Becca.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Anya. Dengan wajah serius Rivaldi membalas sapaan Anya dengan sebuah anggukan dan jawaban selamat pagi yang dingin. Anya kini paham jika Rivaldi bersikap seperti itu berarti pria itu sedang dalam tahap sangat serius dan fokus. Jika sudah seperti ini, Anya tidak boleh salah sedikitpun atau Rivaldi akan memakinya seperti waktu lalu.
“Semua sudah siap, Anya?”
“Sudah, Pak. Silakan Bapak cek kembali materi presentasi dan berkas yang sudah saya siapkan ini,” kata Anya sambil menyodorkan berkas di hadapannya lalu mengarahkan monitor laptop ke hadapan Rivaldi.
Rivaldi memeriksa sekilas data yang ada di hadapannya lalu mengangguk.
“Oke. Tayangkan sekarang,” perintah Rivaldi dengan serius dan Anya menjalankan perintah atasannya itu.
Lampu ruang meeting mulai diredupkan sehingga seluruh tatapan mata setiap orang terarah ke arah layar dan Rivaldi yang sekarang sudah berdiri sambil membetulkan dasinya. Anya memberikan pointer pada Rivaldi dan pria itu memulai presentasinya.
Kemarin GD Corp mendapatkan undangan mengikuti tender dari Hayate Corp sebuah perusahan distributor makanan terbesar di Jepang. Hayate Corp sedang mencari supplier seafood beku yang akan didistribusikan ke seluruh restoran besar di Jepang. Ini jelas adalah kesempatan yang besar bagi GD Corp untuk melebarkan sayap menguasai pasar Asia Timur. Mereka akan bersanding bersama dengan 5 perusahaan multinasional lain dari berbagai negara.
“Waktu persiapan kita tidak banyak. Jika melihat kerangka waktu yang diberikan, kita hanya memiliki waktu satu minggu untuk mempersiapkan segalanya. Tim mereka akan melihat presentasi kita minggu depan dan mereka akan mengirim perwakilan untuk mengecek kualitas bahan, rasa dan pengemasan kita.
Untuk seluruh tim terkait, khususnya bagian produksi harap mempersiapkan semuanya ini dengan baik. Untuk divisi yang lain, harap memprioritaskan segala hal yang terkait dengan tender ini dibandingkan dengan tugas yang lain. Saya sendiri yang akan mengontrol segala persiapannya. Apakah ada pertanyaan?”
Suasana menjadi hening sejenak ketika Rivaldi menanyakan hal itu pada para peserta rapat.
“Kalau tidak ada pertanyaan, baik kita akhiri rapat hari ini. Aaron serta Becca, kalian berdua datanglah ke ruanganku setelah rapat ini berakhir.”
Anya mengemas berkas-berkas yang disiapkan lalu mengikuti Rivaldi berjalan menuju ruangan mereka disertai oleh Aaron dan Becca. Kini ketiganya sudah berada di dalam ruangan Rivaldi. Mereka berempat, tentu saja dengan Anya, duduk di dalam meja tengah untuk berdiskusi lebih lanjut tentang proyek yang akan mereka tangani ini.
Rivaldi meminta Aaron untuk mengontrol ketat kualitas bahan dan proses produksi. Rivaldi juga mengarahkan agar Becca memeriksa proses kerja yang memperlambat persiapan tender ini bisa dipangkas. Ketiganya lalu berdiskusi dengan serius. Begitu juga Anya, ia memberikan pendapatnya mengenai hal-hal yang dibahas.
Beberapa saat ketika Anya sedang mengutarakan pendapat, Rivaldi tiba-tiba teringat dengan sosok Celline saat istrinya itu menjadi sekretarisnya. Ucapan kedua wanita itu terlihat begitu dalam dan logis. Ide-ide yang mereka lontarkan sangat membantu jalannya pembuatan keputusan. Sejenak ia melihat bayangan Celline dalam diri Anya. Tanpa ia sadari, sudut bibirnya sudah terangkat.
“Bagaimana, Pak? Apakah bisa jika seperti itu prosesnya?” tanya Anya membuyarkan lamunan Rivaldi.
Pria itu berusaha mengingat apa yang sedang mereka diskusikan barusan lalu memberikan pertimbangannya. Diskusi internal itu akhirnya berakhir. Aaron dan Becca kembali ke ruangannya. Anya pun kembali ke mejanya.
Ia kembali berkutat dengan laptopnya. Ia masih menyelesaikan berkas-berkas yang diperlukan untuk persiapan tender. Tanpa terasa waktu sudah pukul 2 siang dan kedua orang itu belum juga beristirahat dari pekerjaan mereka.
Rivaldi menghempaskan badannya ke sandaran kursi. Ia melihat jam dinding di hadapannya. Matanya lalu ia arahkan untuk melihat wanita di luar ruangannya. Wanita itu juga nampak serius seperti dirinya. Ia yakin Anya juga belum mengambil istirahat makan siangnya.
Rivaldi mengambil tasnya lalu berjalan keluar dari ruangannya. Kini ia berdiri di depan meja Anya. Anya mendongak melihat pria itu. Gadis itu tersenyum manis. Rivaldi membalasnya.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak? Untuk data yang Bapak minta itu…”
“Kau sudah makan siang?” potong Rivaldi sebelum Anya menyelesaikan perkataannya.
Anya menggeleng pelan.
“Ayo kita makan siang bersama.”
“Ma-makan siang bersama…. Bapak?”
Rivaldi sedikit heran dengan pertanyaan Anya.
“Mengapa kau sepertinya bingung dengan pertanyaanku?”
Anya menggelengkan kepalanya.
“Oh, tidak… tidak. Bukan itu maksud saya.”
“Jadi? Ayo bersiaplah. Aku akan menunggumu di mobil,” kata Rivaldi sambil tersenyum lalu pergi mendahului Anya.
Jantung Anya berdegup dengan kencang. Wajahnya memerah dengan ajakan itu. Kupu-kupu seakan berterbangan lagi di dalam perutnya saat ini. Ia sungguh tidak menyangka pria itu akan mengajaknya untuk makan siang bersama. Berdekatan dengan pria itu ditambah makan siang bersama. Bukankah ini artinya mereka akan... kencan?
Tanpa menunggu waktu lama, Anya menyambar tasnya lalu bergegas turun ke parkiran. Ia tidak mau membuat Rivaldi menunggu lama. Ketika kaki Anya sampai di depan pintu keluar, sebuah Range Rover putih yang Anya kenal menghampirinya. Pengemudi mobil itu menurunkan kaca jendelanya dan terlihatlah sosok pria di dalamnya yang sekarang sudah memakai kacamata hitam. Membuat pria itu berkali-kali lipat lebih keren dari biasanya. Anya hanya bisa melongo sejenak.
“Tunggu apa lagi, ayo masuk!” kata Rivaldi dari dalam mobilnya.
Anya menutup mulutnya yang ternganga lalu berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil, di kursi sebelah Rivaldi. Sembari wanita itu memasangkan sabuk pengamannya, Rivaldi mengamati gadis itu.
“Sudah siap?”
“Siap!” jawab Anya dengan penuh senyum.
Rivaldi mengemudikan mobil itu membelah jalanan. Kira-kira 15 menit mereka sampai di outlet The Grand Dining yang terbesar. Tempat ini adalah tempat Rivaldi dulu mengawali kerjanya dan menjadi seorang pelayan di sana karena sebuah misi.
Mereka berdua turun dari mobil. Anya berusaha menyamakan kakinya dengan langkah Rivaldi.
“Sudah pernah makan di sini?” tanya Rivaldi.
Anya menggeleng dan Rivaldi tersenyum penuh kemenangan.
“Ini saatnya kau mencoba masakan dari restoran kita sendiri.”
Mereka berdua masuk ke dalam restoran dan langsung disambut oleh para staff. Mereka membungkuk memberi hormat pada bos besar mereka. Rivaldi diantarkan oleh salah satu staff menuju ke sebuah ruangan VIP. Rivaldi mempersilakan Anya duduk baru ia duduk di sisi berseberangan dengan Anya.
Jody, Manajer The Grand Dining yang juga teman lama Rivaldi, datang dengan membawakan buku menu.
“Lihat, siapa yang datang ini? Bos besar kami!” sapa Jody dan Rivaldi langsung memeluk teman lamanya. Saat Rivaldi menjadi pelayan, ia cukup dekat dengan Jody. Kini Jody diangkat menjadi manajer The Grand Dining outlet terbesar ini karena kinerjanya yang bagus. Rivaldi memperlakukan Jody sebagai seorang sahabat. Ia tidak mau statusnya sebagai pimpinan jadi penghalang bagi persahabatan mereka.
Anya tertegun melihat kedua orang itu. Mereka tidak terlihat seperti atasan dan bawahan. Rivaldi begitu hangat pada semua orang. Ia tidak memandang posisi atau status seseorang dalam berteman.
“Dan, ini adalah…” tanya Jody merujuk pada Anya.
“Ini sekretarisku, Anya. Anya, kenalkan ini Jody, manajer di sini sekaligus temanku.”
Jody mengulurkan tangan dan berjabat tangan dengan Anya. Setelah ajang perkenalan itu, Jody menyodorkan buku menu untuk keduanya. Karena tidak begitu tahu menu-menu yang ada di The Grand Dining, Anya mempersilakan Rivaldi yang memilihkan untuknya. Tak berapa lama hidangan yang dipesan Rivaldi sudah tersedia di atas meja.
Semua hidangan itu menggugah selera. Perut Anya sudah meronta untuk segera diisi. Rivaldi mengerti gerak-gerik Anya yang kelaparan. Ia mempersilakan Anya mencoba hidangan di hadapannya.
Setiap kali Anya ingin mencoba hidangan di hadapannya, Rivaldi akan memberikan penjelasan terlebih dulu tentang menu itu. Apa saja bahan yang dimasak dan bagaimana rasanya. Anya menikmati makan siangnya bersama Rivaldi, apalagi makanan yang ia nikmati saat ini sangatlah lezat. Mereka menikmati makan siang itu dengan akrab.
“Apakah kau menyukai kerjamu?” tanya Rivaldi tiba-tiba. Anya menghentikan acara makannya dan memandang Rivaldi.
“Hum… sejauh ini saya bisa menikmatinya.”
Rivaldi menyunggingkan senyumannya.
“Lalu menurutmu bagaimana diriku selama ini?”
Mata Anya mengerjap beberapa kali. Mencerna ucapan Rivaldi saat ini. Jantungnya berdetak dengan cepat dan pikirannya sudah menjalar ke mana-mana. Memikirkan jawaban apa yang harus ia katakan. Mengapa tiba-tiba pria itu menanyakan penilaian Anya tentang dirinya? Apakah jawaban Anya sepenting itu baginya? Atau jangan-jangan pria itu ingin melihat apakah Anya tertarik pada dirinya? Jika memang benar pria itu tertarik dengan Anya, lalu... bagaimana dengan istrinya sendiri?
A/N: Kenapa Rivaldi tanya tentang itu ya? Hmm…