“Aku belum pernah melihat kecantikan seperti ini.” Kata-kata Rivaldi terngiang-ngiang di telinga Anya saat ini. Ia tidak bisa menampik rasa senangnya ketika mendapatkan pujian yang keluar dari mulut Rivaldi barusan. Pipinya memanas dan jantungnya ikut berdebar melihat tatapan Rivaldi yang sayu namun menatapnya dalam. Rivaldi menyadari perkataannya barusan. Ia memalingkan wajahnya yang ia yakin juga sudah merah karena malu. Menyadari kebodohannya. “Maksudku, langit senjanya cantik,” kata Rivaldi mengingkari apa yang dia ucapkan. Anya terkesiap. “Oh, betul. Langitnya cantik. Hahahah… betul… betul… langitnya cantik,” sahut Anya sambil berpura-pura tertawa untuk menghindari rasa kikuk yang melanda keduanya saat ini. Keduanya lantas tertawa sambil menghabiskan

