13. I Don't Have That Much

1330 Kata
    Erica menarik selimut yang melilit di tubuh Anya. Gadis itu mengerang dan menarik lagi selimutnya dengan mata terpejam. Ia enggan membuka matanya karena ini tandanya rutinitasnya akan berulang kembali.     “Anya! Ini sudah pagi dan kau bisa terlambat bekerja nanti.”     “Lima menit lagi. Kumohon. Aku tidur larut malam, Ma,” jawab Anya sambil menutup rapat matanya.     Erica hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan putrinya. Mirip seperti Anya kecil yang enggan ke sekolah dulu. Tapi kini putrinya sudah bukan anak kecil lagi. Ia mengemban tanggung jawab dengan sebuah perusahaan sekarang.     Erica menarik lagi selimut Anya dengan sedikit kasar hingga gadis itu mengulang perkataan yang sama.     “Anya… ayo bangun! Tiga puluh menit lagi jam masuk kantormu.”     Tiba-tiba Anya melonjak kaget dari tidurnya.     “APAA???”     Tanpa aba-aba, gadis itu berlari menuju ke kamar mandi untuk bersiap ke kantor. Erica merapikan selimut mereka yang tak beraturan akibat ulah Anya. Tak berapa lama Anya keluar dari kamar mandi dengan sikat gigi yang masih berada di dalam mulutnya yang berbusa. Ia menggosok gigi sambil membetulkan kancing bajunya yang masih terbuka.     Erica tersenyum melihat kekonyolan putrinya. Sejenak ia berpikir apakah waktu menumpang di rumah Becca, Anya juga menunjukkan tingkah kekanakannya itu? Kalau iya, astaga... pasti itu sangat memalukan!     Anya menyelesaikan persiapannya. Ia lalu menyambar kotak makan yang ada di atas meja kecil tanpa aba-aba. Ia yakin Erica sudah menyiapkan bekal untuknya karena matanya sempat melihat Erica berkutat dengan roti tawar dan meses yang kemarin mereka beli lalu wanita itu memasukkan roti ke dalam kotak yang Anya pegang saat ini.     Sudah jadi kebiasaan Erica untuk menyiapkan bekal bagi Anya dan kotak yang sama adalah tandanya. Jika kotak makan berwarna kuning itu sudah di atas meja dengan kondisi tertutup sudah bisa dipastikan itu adalah bekal yang disiapkan Erica untuk Anya. Anya mengenali itu jadi ia tidak perlu repot-repot menagih atau bertanya pada Erica tentang bekalnya.     Anya menyambar tas kerja dan blazer abu-abu gelapnya lalu memasukkan kotak makan itu pada tasnya. Ia mencium pipi Erica dan membuka pintu. Saat ia membuka pintu, ia terkejut. Sosok pria yang tidak ia inginkan sudah berdiri di depan pintu.     “Selamat pagi, Putriku!” kata pria berwajah preman itu dengan senyuman sinisnya.     Wajah Anya mengeras, tangannya mengepal. Ia tak percaya pria yang mengusik hidupnya ini datang kembali.     “Ba-bagaimana bisa Papa... Mau apa Papa kemari?” tanya Anya dingin dengan tatapan penuh amarahnya.     Erica melihat siapa yang datang, ia terkejut dan menutup mulutnya. Mendengar ada sebuah barang jatuh di dalam sana, Jacky melongok dan melihat mantan istrinya terkejut melihatnya.     “Hai, mantan istriku… atau bisa kukatakan kantong uangku? Hahhahahah”     “PERGI! KEHADIRANMU TAK DIHARAPKAN DI SINI. PERGI SEKARANG JUGA ATAU AKU AKAN LAPOR POLISI!” teriak Anya dengan nada yang benar-benar membenci Jacky.     Jacky melirik Anya dengan tajam. Ia mencengkeran dagu putrinya hingga gadis itu mendongak ke arahnya.     “Putriku sudah kurang ajar rupanya! Hei, Erica! Apa yang sudah kau ajarkan padanya, hah? Mengapa ia tidak mengerti sopan santun pada orangtua?”     Anya mengambil kesempatan ini untuk melepaskan diri. Ia menginjak kaki Jacky dengan ujung heels’nya hingga pria itu melepaskan cengkramannya dan seketika Anya terjatuh. Tasnya terbuka dan isi tasnya keluar. Sebuah dompet panjang berwarna hitam teronggok keluar ke dekat kaki Jacky.     Menyadari dompetnya ada di dekat kaki Jacky, Anya merangkak untuk mendapatkan dompetnya. Tapi terlambat, Jacky sudah mengambil dompet itu terlebih dulu lalu menarik keluar beberapa lembar seratus ribu dari dalamnya.     “JANGAN AMBIL! ITU MILIKI KAMI!” teriak Anya sekuat tenaga. Ia berdiri tapi tangan Jacky sigap menampar gadis itu hingga tersungkur di tanah. Erica berlari menghampiri Anya. Ia mendekap putrinya.     “Pergilah, Jack! Kau sudah mendapatkan apa yang kau butuhkan. Pergi dan jangan ganggu kami lagi!” usir Erica sambil terisak dengan memeluk Anya.     Jacky tertawa dengan lepasnya lalu berhenti. Pria itu menatap Erica dengan nyalang sambil berjongkok mendekati kedua wanita yang tengah ketakutan itu.     “Kau kira ini cukup? Hahahahah…. Aku membutuhkan lebih. Aku butuh dua puluh juta!” kata Jacky sambil mengetuk-ngetukkan lembaran uang itu ke pipi Anya. Anya menepis tepukan uang itu dengan sebalnya.     “Kami tidak punya uang sebanyak itu! Semua yang kau pegang sekarang adalah uang terakhir yang kami miliki!” jawab Anya dengan marah. Jika ia memiliki keberanian, ingin rasanya sekarang ia memukul atau menendang ayahnya itu dari hadapannya.     Jacky tertawa dengan keras.     “Anakku yang baru saja dari luar negeri ini tentu saja berbohong bukan? Bau Euro itu masih menempel di tubuhmu. Kau pasti masih menyimpan uang itu di suatu tempat bukan? Aku tidak peduli di manapun uang itu berada. Aku akan datang lagi dan menagihnya seminggu lagi!”     Jacky pergi meninggalkan kedua wanita itu.     Di dalam kantor Anya terus memikirkan cara bagaimana bisa mendapatkan dua puluh juta hanya dalam seminggu. Sementara gajinya sendiri di GD Corp baru akan dibayar akhir bulan nanti dan jumlahnya tidak akan sebanyak itu. Dua puluh juta itu setara dengan gajinya selama 3 bulan dan bagaimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu.     Otak kecilnya terlalu banyak berpikir dan semua pikiran yang berkecamuk itu menghantuinya hingga ia lagi-lagi tidak bisa berkonsentrasi dengan rapat yang sedang ia ikuti.     “Anya, tolong tampilkan grafik perbandingan produksinya,” minta Rivaldi. Anya terkesiap dan menampilkan grafik yang diminta oleh Rivaldi tanpa memeriksanya lebih dulu. Tatapan matanya kembali kosong dan pikirannya terbang di udara.     “Tunggu, Anya! Bukan grafik yang ini. Kemarin kita sudah membuat grafik itu bukan? Tampilkan sekarang,” lanjut Rivaldi. Anya mencari-cari grafik yang diminta. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia meninggalkan data yang sudah direvisi tanpa dipindah ke laptopnya yang sekarang di atas meja.     Dengan ragu ia menatap Rivaldi yang sekarang berwajah sangat serius. Anya meneguk ludahnya sementara Rivaldi memandang Anya dengan tatapan tak sabar.     “Ayo, Anya! Tampilkan!” kata Rivaldi dengan nada meninggi. Ia yakin kali ini sekretarisnya itu lagi-lagi melakukan kesalahan. Dan, parahnya kesalahan itu ada di saat yang tidak tepat.     “Ma-maaf Pak, datanya tertinggal di meja kerja saya. Saya akan segera mengambilnya,” kata Anya sambil bangkit berdiri.     Wajah Rivaldi mengeras mendengar jawaban tidak bertanggung jawab dari Anya.     “TIDAK PERLU! Setelah rapat ini, temui aku di ruanganku,” jawab Rivaldi ketus. Pria itu menghela nafas dan melanjutkan lagi presentasinya tanpa grafik setelah ia meminta maaf pada para investor. Sementara Anya? Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia melakukan kesalahan lagi kali ini dan ia menyadari hal itu. Ingin rasanya ia menyerah dengan semuanya ini. Mungkin lebih baik ia mengundurkan diri karena merasa tidak kompeten dalam hal ini.     Anya menghela nafasnya berulang kali untuk membenahi perasaannya yang kacau balau. Ia yakin Rivaldi akan memarahinya lagi kali ini seperti yang sebelumnya. Ia harus menyiapkan mentalnya setelah ini. Saat jeda rapat, Rivaldi melihat Anya yang sedang menahan tangisnya. Ia yakin Anya menyesal atas perbuatannya. Sungguh Rivaldi tidak tega menegur Anya di depan umum seperti tadi. Itu cukup untuk mempermalukan gadis itu dan ia tidak sengaja melakukannya. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.     Rapat itu akhirnya selesai. Seluruh peserta rapat keluar ruangan. Begitu pula Rivaldi yang keluar lebih dulu dari Anya. Sementara gadis itu masih membereskan perlengkapan presentasi. Mengingat semua kesalahan yang ia lakukan itu, Anya kembali terduduk dan menangis. Ia menyesali kesalahannya tapi ia juga tidak mampu menahan pikirannya akan ancaman ayahnya.     Di depan lift samar-samar Rivaldi mendengar suara tangisan. Ia yakin bahwa itu suara tangisan Anya. Ia merasa bersalah membuat gadis itu lagi-lagi menangis. Di satu sisi, sebagai atasan yang baik ia harus mengajarkan profesionalisme pada Anya. Di sisi yang lain, sebagai seseorang yang mengenal Anya dengan baik ia merasa bersalah.     Saat pintu lift terbuka Rivaldi melangkahkan kakinya masuk. Namun sekejap sebelum pintu lift menutup, ia menahannya dan keluar dari lift. Ia berbalik ke arah ruangan rapat. Dan benar dugaannya, gadis itu menangis di sana. Entah apa yang dipikirkannya, Rivaldi melangkahkan kakinya mendekati Anya.     Anya terisak dan tanpa sadar sebuah tangan besar ada di atas pundaknya sekarang. Ia menghentikan tangisannya dan melihat siapa yang menyentuh pundaknya saat ini.     Wajah tampan itu sudah berdiri di sampingnya sambil memasukkan sebelah tangannya ke kantong celana dan tangannya yang satu lagi menyentuh pundak Anya. Anya menghapus air matanya dan berusaha tersenyum.     “Ba-bapak. Saya tidak apa kok, Pak,” kata Anya sambil berusaha tersenyum.     Rivaldi tahu gadis itu menyimpan sesuatu di balik senyumannya. Ia menarik salah satu kursi rapat dan mendudukinya sambil mendekat ke arah Anya. Ia menatap Anya dengan tatapan sendu.     “Maafkan aku, Anya. Maafkan aku yang membuatmu menangis.” *** A/N: Kenapa ya Rivaldi jadi merasa bersalah gitu sama Anya? Hmm... Kalau ada atasan kaya gini, rasanya gimana ya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN