Setuju

2231 Kata
“Memang mau ke mana sih?” tanya Kinan yang belum juga mendapat jawaban. Pulang kerja, Linda dengan seenaknya menyeret tangan Kinan. Entah akan di bawa ke mana. Si pelaku sepertinya belum berencana memberi tahu. “Ih, kesel enggak sih? Ya kesel banget lah. Oy Lin mau ke mana? Lo enggak bermaksud culik gua kan? Kalau pun lu mau culik gua juga buat apa Lin, enggak ada untungnya sama sekali. Gua enggak punya apa-apa. Minta tebusan juga percuma, gua miskin.” Linda berhenti. Menatap temannya dengan tajam. “Heh, siapa juga yang mau nyulik elu. Bukannya untung, yang ada malah rugi gua. Harusnya berterima kasih, tadi ada Kelvin di sana. Gua yang tahu elu males lihat itu muka, langsung nyeret sampai sini. Baik kan gua?” dengus Linda. Niat dia baik loh. Menjauhkan Kinan dari jangkauan Kelvin. Sebenarnya juga menjauhkan dirinya sendiri dari Kelvin. Linda tidak yakin akan biasa saja jika melihat wajah pria itu. Ya Tuhan, Linda hanya takut tidak bisa menahan diri dan mneyerang pria yang kebetulan tampan itu secara membabi buta. “Yang ada nanti gua malu kalau lu tiba-tiba deketin dia dan nangis-nangis di depannya.” Mendelik horor. “Heh, mana mungkin gua begitu. Walau pernah cinta begitu dalam, gua tetap punya harga diri ya. Sory to say nih, cowok masih banyak. Bahkan yang lebih dari dia. Rugi banget nangis-nangis ke dia. Gua yang bakal buat dia nangis karena pernah jahat. Huh semoga saat itu terjadi lu juga lihat ya.” Membusungkan dadanya sombong. Harapan hampir semua orang yang pernah disakiti, yaitu si pelaku menyesal sampai berlutut dan memohon maaf. Tidak munafik jika Kinan juga mengharapkan itu. Pasti akan sangat menyenangkan bukan. Membayangkan Kelvin datang dan memohon maaf dengan penyesalan yang sangat membuat Kinan tersenyum sendiri. “Memang apa yang lu harapkan setelah Kelvin datang dan menyesali semuanya? Lu, enggak pengin balik sama dia kan Nan?” tanya Linda memicingkan matanya. “Jangan jadi jahat buat cewek lain Nan. Gua tahu kalau si siapa itu namanya? Andira ya, dia ambil Kelvin dari elu dengan cara yang enggak bener. Tapi jangan jadikan itu sebagai alasan agar bisa membenarkan lu untuk kembali ambil Kelvin dari dia. Status lu sama Kelvin kemarin cuman pacaran, dan dia calon istri Kelvin. Gua ogah ya punya teman yang jahat. Kalau sampai itu terjadi, gua mending udahan aja jadi teman lu,” ucap Linda serius. Dia sangat sakit hati dengan nasib Kinan sekarang, tapi tidak pernah mendukung jika Kinan membalaskan dendamnya dengan kembali merebut Kelvin. Memutar bola matanya malas. “Dari awal kan gua sudah bilang enggak akan mau balik. Sampai dia nangis darah juga ogah. Dia sudah bekas. Lu tahu maksud gua kan? Gua juga enggak sejahat itu kali buat balas dendam. Kepala lu kayanya perlu gua cuci deh, negatif mulu pikirannya,” gerutu Kinan. Pikiran Linda terlalu jauh dan seakan merendahkan. “Memang gua se-enggak laku apa sampai harus balik sama mantan yang brengseknya enggak ketulungan?” Kinan masih yakin jika ada pria yang akan datang padanya lagi. Entah siapa itu, dia tidak tahu. Yang jelas, pria di hidupnya bukan hanya Kelvins seorang. Jawaban Kinan membuat Linda bernafas lega. “Gua sih bukan negatif mulu atau enggak percaya sama elu ya. Cuman ya, memastikan aja sih. Enggak mau gua nanti teman gua yang tersakiti ini berubah jadi jahat.” Menyengir memperlihatkan deretan giginya. “Dan, enggak ada yang tahu kan gimana ke depannya. Gua bakal ada di pihak lu asal bener. Kalau salah ya males gua.” Mendengus kesal. “Jadi, sudah kan? Gua mau balik. Mau buat mi instan, perut sudah enggak bisa diajak kerja sama lagi.” Mengusap perutnya yang sudah sangat lapar. Kinan masih dalam tahap penghematan. Jadi jangan heran jika dia sering makan mi instan. Jangan ditiru karena itu bukan sesuatu yang bisa ditiru. Kinan jelas sadar apa bahaya yang akan datang jika terlalu sering mengkonsumsi makanan instan itu. Tapi, dia tidak ada alasan lagi selain menghemat kan? Masih ada satu minggu untuk mendapatkan upah dari pekerjaannya selama satu bulan. “Karena lu ngomong begitu dan gua enggak tega, gua ajak makan aja deh. Ayo, gua yang bayar.” Berjalan lebih dulu ke arah mobilnya terparkir. Tidak usah merasa terkejut, karena seperti yang sudah Kinan katakan sebelumnya, Linda memang berasal dari kalangan menegah ke atas. Bekerja hanya untuk mengisi waktu luang saja. Huh, gaji yang didapatkan dari bekerja bahkan tidak ada setengahnya dari jatah bulanan orang tua. Intinya, berbanding terbalik dengan Kinan yang serba kekurangan. “Enggak usah sok nolak. Kalau lu mati karena kebanyakan makan yang instan-instan, gua sebagai teman tentu malu. Kesannya kaya enggak memperhatikan temannya banget. Orang-orang juga akan menganggap gua pelit,” ucap Linda sebelum Kinan memberikan penolakan. Tujuan Linda hanya sekedar berbagi kok. Dia tidak tega mendengar Kinan yang belakangan ini banyak makan mi instan karena uang bulanannya habis untuk membeli dress kemarin. Kinan tersenyum tulus. “Gua enggak tahu harus bagaimana lagi. Rasanya terima kasih aja enggak cukup. Lu, terlalu baik sama gua Lin. Beruntung gua bisa kenal dan berteman sama lu.” Kinan merasa sangat beruntung. Mereka hanya teman, tapi Linda memperlakukannya dengan sangat baik. Menganggap dirinya seperti saudara. Sampai orang tua dan keluarga Linda juga baik. Menyambut Kinan dengan tangan terbuka sebagai teman dari Linda. “Gua sudah banyak merepotkan elu tahu. Sebenarnya enggak enak kalau terima ajakan lu kali ini. Tapi kalau nolak, selain elu yang marah, gua juga enggak jadi makan enak. Jadi, ayo aja.” Tertawa dengan ucapannya sendiri. Mengusap perutnya pelan dan berbisik, “perut, hari ini bakal makan enak.” Mobil yang mereka naiki berhenti di salah satu pusat perbelanjaan terdekat. Bukan hanya menyediakan berbagai barang untuk diperjual belikan, di bangunan besar ini juga terdapat banyak restoran. Mulai dari khas Indonesia, sampai berbagai negara. “Gua lagi pengin makan steak. Lu gimana?” Baru menginjakkan kaki di lantai lima di mana dikhususkan sebagai kuliner, Linda sudah bisa mencium bau steak langganannya yang khas. Menggoda perutnya sehingga berbunyi makin kencang. “Mau ikut gua atau mau makan yang lain? Nanti gua antar kok, tenang aja.” Walau Linda yang akan membayar makanan Kinan nantinya, dia tetap tidak bisa seenaknya kan. Siapa tahu Kinan sedang menginginkan makanan yang lain. Dan malah tetrpaksa mengikuti maunya. “Gua ikut lu aja Lin. Sudah lama enggak makan steak juga gua. Terakhir kayanya waktu masih sama Kelvin deh. Sekarang yang biasa kasih makan enak sudah mau jadi milik orang lain. Kasihan banget gua.” Terkekeh sendiri. Kelvin memang lebih royal. Pria itu tidak sungkan mengeluarkan banyak uang untuk sekali makan. Saat masih berpacaran, jelas dia sering kebagian makanan enak. Jika tidak keluar bersama, Kelvin biasanya mengirimkan makanan yang sudah di pesan melalui ojek online. Seperti beberapa hari yang lalu. Mungkin karena keadaan ekonomi Kelvin yang tidak semenyedihkan dirinya, menjadikan Kelvin tidak sayang dalam menggunakan uangnya. Walau mereka berasal dari daerah yang sama, tentu nasib keduanya tidak sama. Keluarga Kelvin cukup disegani di sana. Dikenal sebagai keluarga berada yang memiliki beberapa sawah dan binatang ternak yang berjumlah banyak. “Heh, masih ada gua ya. Bukan cuman Kelvin yang sering kasih lu makan enak. Ya walau gua enggak sesering dia sih. Tapi ya ada lah beberapa kali,” protes Linda. Dalam satu bulan, lebih dari dua kali mengajak Kinan keluar sekedar makan. Tentu dia yang bertugas untuk membayar. “Memang apa sih yang biasa Kelvin kasih? Sini kasih tahu gua. Gua juga mampu kali. Secara, gua kan lebih kaya dari dia,” menyombongkan dirinya sendiri. Sombong itu memang dilarang. Namun ada beberapa yang mengatakan jika yang disombongkan memang nyata adanya, tidak dipermasalahkan. Atau sombong demi kebaikan juga boleh dilakukan. Sebenarnya, mau bagaimana pun alasannya, bohong tetaplah bohong. Tidak baik untuk dilakukan. Jangan tiru ya. “Buru deh, perut gua sudah meronta-ronta. Takut pingsan kalau kelamaan berdiri di sini.” Menyudahi pembahasan tidak penting yang lagi-lagi berhubungan dengan Kelvin. Nama Kelvin sepertinya tidak akan hilang begitu saja dari obrolan mereka. Terlalu membekas di kepala. Apalagi bagi Kinan yang sudah enam tahun bersama. Linda berjalan dengan Kinan di belakangnya. Kinan sedang sibuk dengan ponselnya. Tanpa diberi tahu, kalian bisa menebaknya. Ya, pesan dari adik durhakanya. Mungkin kalian menganggap Kinan terlalu bodoh. Kenapa tidak memblokir kontak adiknya jadi tidak akan datang pesan dengan isi yang sama. Kinan bisa saja melakukan itu. Tapi adiknya, tentu memiliki banyak cara agar dapat menghubungi Kinan lagi. Membeli nomor perdana baru, misalnya. “Sumpah dia ganggu banget. Bukannya gua tega atau jahat sama elu. Tapi elu nya sendiri yang kurang ajar. Ya kali gua kasih terus duit ke elu. Kalau mau duit ya kerja. Dikira enggak capek apa kerja? Lah lu malah enak-enakkan tinggal minta. Sekali dua kali mah oke, nah ini berulang kali.” Meletakkan ponsel di saku celana dan berjalan cepat mengejar Linda yang cukup jauh di depan. Memasuki restoran steak yang terkenal dengan rasa enaknya. Bau olahan daging itu makin memenuhi rongga pernafasan. Duduk setelah memesan. Hanya dua tempat duduk yang tersisa. Memilih bagian ujung yang tidak terlalu terlihat mata. “Nah Nan, mumpung masih ada sisa hari nih. Lu harus memikirkan secara matang langkah apa yang akan lu ambil. Kata gua sih mending cari cowok aja di aplikasi itu. Karena ya enggak mungkin bisa dapat gandengan di sisa waktu ini. Susah cari yang lebih dari Kelvin atau ya sekedar bisa disandingkan lah.” Mengawali pembicaraan yang sedari kemarin belum menemukan titik terang. Kalau Linda jadi Kinan, tanpa pikir panjang mengambil jalan ini. Tapi, ya tidak mau juga sih Linda jadi Kinan. Malas sekali harus merasakan sakit hati. Menopang dagunya dan menghela nafas panjang. “Gua enggak tahu Lin. Jujur enggak ada bayangan gua akan sewa cowok buat jadi gandengan di kondangan. Ya memang enggak buruk ya. Lagian cuman mendampingi selama acara aja. Habis itu selesai. Enggak ada hubungan apa-apa. Tapi rasanya, gua kaya enggak laku banget loh.” Mencebikkan bibirnya kesal. Apa yang akan orang pikirkan dengan seorang wanita menyewa pria di salah satu aplikasi untuk menemaninya ke kondangan. Ah, Kinan tidak bisa membayangkannya. “Kan memang lu gak laku Nan. Lagian siapa yang bakal berpikir kaya begitu di saat orang lain enggak ada yang tahu? Cuman gua loh yang tahu. Gua enggak akan ledek lu enggak laku walau kenyataannya memang begitu kok.” “Kurang ajar,” desis Kinan. “Ya, gua setuju deh. Tapi elu yang cari ya. Lu jelas tahu bagaimana kesukaan gua. Nih.” Memberikan ponselnya pada Linda yang diterima gadis itu dengan suka hati. “Eh, memang biayanya berapa sih?” Jangan sampai Kinan kaget saat harus membayar nanti. Sayang saja menggunakan uang dengan jumlah tidak sedikit untuk hal seperti itu. Ya, tidak masalah sebenarnya. Kan untuk menyelamatkan harga dirinya. “Nan, kayanya elu kurang paham deh. Gini ya, aplikasi pacar itu memang tujuan awal dibuatnya buat ya kaya lu begini. Memberi wadah buat yang lagi cari gandengan. Memang ada biayanya. Tapi ya tergantung orangnya aja. Soalnya ada yang memang enggak mematok harga. Gua enggak tahu motifnya ya, tapi mungkin dia ikhlas lahir batin buat bantu sesama yang lagi kesusahan. Kalau kasus saudara gua kemarin, memang bayar. Ya halusnya buat ganti waktu yang sudah lu ambil. Berapa duitnya sih, lu tanya langsung sama yang lu tuju itu.” Kinan melongo dan tak lama kemudian menganggukkan kepalanya. “Gua baru paham sekarang. Ya ampun.” Mentertawakan kebodohan dirinya sendiri. Kalu bukan sewa-menyewa, Kinan bisa sedikit bernafas lega. “Jadi gua bisa cari yang memang ikhlas bantu kan? Biar enggak usah keluar duit. Tahu sendiri gua miskin.” Kinan bertanya untuk memastikan. Jika ada yang gratis, kenapa harus membayar? “Iya ih. Makanya cari tahu dulu itu aplikasi kaya bagaimana. Padahal di deskripsi kan ada. Tinggal baca aja apa susahnya sih. Kaya gini nih, kebanyakan orang Indo, paling males kalau di suruh baca. Jadi banyak enggak tahunya. Tenamg, elu bukan orang satu-satunya kok. Masih banyak yang kaya elu begini.” Linda kesal. Tentu saja. Dari kemarin dia memaksa Kinan menggunakan aplikasi ini, dia kira gadis itu sudah mencari tahu seperti apa sebenarnya. “Tapi kalau mau cari yang enggak kasih harga, susah sih. Lu harus chat satu-satu,” lanjut Linda yang tentu mematahkan harapan Kinan. “Coba deh lu chat aja. Tanyain satu-satu kali aja ada yang baik hati.” Kinan sangat berharap, akan ada yang datang menolongnya. “Tapi jujur ya Nan, gua agak gimana gitu sama yang enggak kasih harga. Ya, lu pikir aja, siapa tahu ada maksud tersembunyi kan. Jahat memang kalau gua berpikir kaya begini. Karena bisa aja dia memang tulus. Tapi jaman sekarang, mana ada sih yang gratis. Kaya, janggal banget bagi gua. Lu berpikiran kaya gitu juga apa enggak?” Linda menyampaikan unek-uneknya. Dia hanya tidak mau jika temannya ini nantinya dalam bahaya. Jika itu terjadi, jelas dia orang yang paling salah. Dia yang sudah memaksa Kinan untuk menuruti sarannya. Diam sebentar dan menganggukkan kepalanya menyetujui. “Iya juga sih. Sekarang kan serba pakai duit ya. Ya sudah terserah lu deh. Yang penting jangan mahal-mahal.” Memberikan peringatan pada Kinan sekali lagi. “Iya tenang aja sih. Kalau pun adanya mahal, gua yang bakal tanggung jawab. Lu tinggal terima beres aja udah. Biar ini jadi urusan gua.” Uang tidak masalah bagi Linda. Yang terpenting bisa melihat temannya itu puas karena tidak mempermalukan dirinya. Jika bisa harus memberikan pengumuman tersirat jika dia berhasil untuk lepas dari bayang masa lalu. “Tetap aja gua enggak enak. Yang terjangkau aja. Kalau enggak, gua bakal marah sama elu,” ancam Kinan. “Iya, iya,” pasrah Linda yang tidak bisa apa-apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN