H-1

2301 Kata
Makin dekat dengan hari pernikahan Kelvin, Kinan merasa makin sesak. Membayangkan kekasihnya ah mantan kekasihnya akan menikah dengan wanita lain membuat pikirannya terganggu. Kinan ingin bercerita bahwa dia jauh dari kata baik-baik saja. Tapi bingung pada siapa dia harus berbagi keluh dan kesah. Kinan takut dianggap sebagai wanita lemah kala orang lain mengetahui dia yang masih belum berhasil juga untuk melupakan Kelvin. Jadilah hanya memendamnya sendiri. Merasakan sakit san sesak sendirian. "Kenapa harus disatukan jika akhirnya dipisahkan?" Kadang Kinan merasa bahwa Tuhan tidak adil. Tuhan jahat pada dirinya. Jika memang tidak menakdirkan dirinya dan Kelvin bahagia sampai akhir, lebih baik tidak pernah dipertemukan saja kan? Setidaknya Kinan tidak akan merasakan sakit ini. Tidak sepantasnya memang menganggap Tuhan tidak berbaik hati. Harusnya Kinan bersyukur karena Tuhan sudah menunjukkan bagaimana Kelvin sebenarnya sebelum merek menuju jenjang lebih serius. Dering ponsel memutuskan lamunan. Tersadar dari dunia pengandaian yang tidak akan pernah bisa tercapai. Mengerjap beberapa kali dan mengambil ponsel yang tengah diisi daya. Tersenyum kecil melihat nama yang tersemat. Menggeser pada tombol hijau dan menempelkan ponsel pada telinga kanan. "Assalamualaikum Bu, bagaimana kabar keluarga di rumah?" sapanya langsung. Ternyata sudah lama mereka tidak saling bicara. Ibunya terlalu enggan menelepon terlebih dahulu dengan alasan takut mengganggu kegiatan Kinan. Sedangkan Kinan sendiri belakangan terlalu larut dalam kesedihan sampai lupa untuk sekedar menanyakan kabar. Merutuki dirinya sendiri yang bisa lupa. "Waalaikum salam Nduk. Alhamdulillah, semua baik-baik aja. Sehat semua. Kamu bagaimana kabarnya? Sudah lama enggak kasih kabar. Ibu mau telepon takut ganggu. Maaf ya, kalau ibu langsung telepon tanpa kasih tahu dulu. Kamu pasti sedang sibuk di sana." Terdengar suara dengan nada penuh penyesalan. "Ibu sudah rindu sekali sama kamu. Jadi minta Adel untuk telepon kamu," lanjut wanita itu dari seberang. Kinan tersenyum mendengarnya. Dia dirindukan. "Kinan baik Bu. Harusnya aku yang minta maaf sama Ibu. Aku sering lupa untuk telepon. Pulang dari kantor, pengennya cepet-cepet tidur." Lelah seharian bekerja membuat Kinan lebih memilih merebahkan tubuhnya sesaat tiba di kos. "Nan, kamu benar baik? Perasaan ibu enggak enak dari kemarin-kemarin. Ibu khawatir sama kamu. Kamu merantau dan tinggal sendiri di kota orang. Pikiran orang tua memang selalu jauh. Bagaimana jika anaknya mengalami kesulitan di sana sedangkan dari sini ibu enggak bisa bantu." Terdengar nada getir dalam suara. Menarik nafas panjang dan mencoba memaksakan senyum yang perlahan memudar. "Kinan baik-baik saja Bu. Kinan di sini punya teman yang baik. Ibu kan sudah tahu Linda. Dia selalu ada untuk Kinan. Dan ada Kelvin juga." Melirih di akhir kalimat. Ibunya belum tahu menahu mengenai dirinya yang sudah selesai dengan Kelvin. "Di sana semua baik kan Bu? Ayah sehat? Adel sama Abel juga sehat?" lanjut Kinan mengubah pembicaraan. Segera mungkin menyelamatkan dirinya sendiri. Di balik telepon, ibu Kinan menghela nafas lega. Mendengar sendiri jika anak gadisnya baik-baik saja, sudah mengangkat semua rasa khawatir yang selalu datang. Siapa pun orang tua, akan tetap mengkhawatirkan anaknya. Tidak memandang sudah berapa usianya. Bagi mereka, usia bukan sebagai patokan untuk mulai melepaskan. "Ya sudah kalau begitu. Ibu jadi tenang dengarnya. Kalau ada sesuatu atau kamu butuh tempat cerita, ibu selalu ada. Kamu masih punya keluarga di sini. Jangan anggap kalau kamu sendiri ya." Kinan sekarang mengerti jika perasaan seorang ibu memang benar peka. Nyatanya dia memang sedang tidak baik-baik saja. Bagian mana yang bisa disebut baik saat mata dan hidungnya memerah. Sisa tangis begitu kentara. Untung saja suaranya tidak bergetar. "Iya Bu. Ibu sama semuanya baik-baik ya di sana. Kalau ada libur panjang, nanti aku pulang. Aku kangen banget sama Ibu. Sudah mau satu tahun aku belum pulang." Jarak rumah dan perantauan terbentang jauh. Dan tentu saja harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk pulang. Dari pada digunakan untuk ongkos, lebih baik untuk kebutuhan sekolah si kembar kan. "Iya, ibu selalu menunggu kamu pulang. Ibu juga rindu. Jaga diri baik-baik ya Nduk. Kamu jauh dari keluarga. Jaga kesehatan juga yang paling penting. Tangan ibu jauh buat ngurusin kamu." Sambungan telepon usai. Kembali merebahkan tubuh dan menatap kosong langit-langit kamar. "Ibu, Kinan pengin pulang. Pengin peluk ibu. Kinan rasanya enggak kuat ada di sini. Melihat Kelvin tapi dengan dia yang sudah jadi milik orang lain. Kinan sakit hati. Dulu, Kinan pernah berandai jika hidup bersama Kelvin di kemudian hari. Kami pernah menyusun rencana indah ke depan. Tapi apa yang Kinan alami kini, bukan kebahagiaan seperti yang Kelvin janjikan. Kinan sakit hati Bu, Kinan terluka. Sayangnya cuman Kinan yang enggak baik-baik aja. Kelvin jahat Bu." Kinan mengadu seolah wanita yang telah melahirkannya ke dunia tepat berada di depannya. Harusnya tadi, Kinan mencurahkan semua rasa sesuai yang ibunya minta. Tapi Kinan tidak bisa melakukan itu. Dia takut jika ibunya malah khawatir. Memukul dadanya yang sangat sesak. Coba bayangkan. Enam tahun. Bagaimana selama itu mereka berbagi canda dan tawa. Namun harus disudahi begitu saja. Kelvin dengan begitu jahat mengkhianati. Terlalu dalam melukai. Tapi walau begitu, kenapa masih ada rasa di d**a setelah semua kesakitan yang Kelvin beri? Bukankah itu tidak adil? "Besok. Besok semuanya akan benar selesai. Sudah tidak ada harapan untuk bisa kembali. Ah, setelah disakiti begitu dalam, masih saja mengharap." Tersenyum miris. Jika orang lain bertanya, Kinan akan menjawab dengan lantang jika dia sudah melupakan. Melepaskan Kelvin dengan ikhlas. Dan menganggap jika memang mereka tidak berjodoh. Sayangnya, itu hanya ada di bibir saja. Yang sebenarnya, Kinan tidak semudah itu melakukan. Dia masih sering terbayang kenangan manis yang pernah terjadi. Kinan tidak tahu kapan tepatnya dia akan terbebas sepenuhnya dari rasa itu. Yang jelas, tidak dalam waktu dekat ini. Harapan Kinan, waktu yang dia perlukan tidak sama dengan sepanjang mereka menjadi sepasang kekasih atau bahkan lebih lama. Jangan sampai. Bukankah itu terlalu lama? Terlalu lelah menangis, Kinan tertidur dengan sendirinya. Dengan posisi meringkuk. Pipinya masih basah oleh air mata. Siapa pun yang melihat, akan turut prihatin. Kinan semenyedihkan itu. *** Menatap pantulan dirinya pada cermin di hadapan. Meringis melihat matanya yang terlihat sembab. Sangat menyeramkan. Bersyukur ini hari Sabtu. Tidak perlu menutupinya dengan bantuan foundation tebal. Mengambil kaca mata minus miliknya, mengenakan dan keluar dari kamar kos. Kinan butuh makan. Ah, bersedih juga butuh tenaga. Dan Kinan juga tidak mau mati kelaparan karena terlalu berat memikirkan nasib percintaan. Terlalu memalukan. "Setidaknya dengan kaca mata, enggak terlalu terlihat kalau gua habis nangis. Nangisin mantan, lagi. Bego, malu-maluin," rutuk Kinan. "Bu, mau nasi uduk satu ya. Lauknya biasa," ucapnya begitu tiba di tempat langganan dia membeli makan. Rasa pas di lidah dan yang terpenting harga yang tidak mencekik. Jangan lupakan dengan porsinya yang besar. Dijamin akan kenyang. Uang sepuluh ribu juga masih mendapat kembalian. "Oh iya Neng. Ngomong-ngomong, si aa kasep itu kok enggak pernah datang lagi ya? Ibu teh kayanya sudah lama enggak lihat." Kinan tersenyum paksa. Jelas absennya Kelvin hampir satu bulan ini menimbulkan tanya. Terutama bagi mereka yang satu kos dan ibu pemilik kos yang tidak lain adalah yang berjualan nasi uduk di depannya. Kelvin sangat sering datang. Sikap pria itu yang sopan membuat ibu kos mengenal. Mereka beberapa kali mengobrol bersama. "Lagi sibuk Bu." Menganggukkan kepalanya sambil tangan terampil itu menyendokkan lauk satu persatu. "Syukur kalau begitu. Ibu kira kalian udahan loh. Maaf ya, ibu berpikir yang enggak-enggak. Mana mungkin kan ya putus, kalian ini cocok banget. Ibu yakin kalian akan sampai pelaminan. Nanti kalau menikah, jangan lupa undang ibu ya." Senyum Kinan memudar. Apa yang dibicarakan jelas tidak akan jadi nyata. Malang memang nasib Kinan ini. Orang lain yang hanya menikmati kisah manis antara dirinya dan Kelvin, selalu akan berpikir demikian. Mereka akan berakhir di pelaminan dan menjadi pasangan sungguhan. Kinan juga sebelumnya selalu berharap demikian. Mengaminkan setiap doa yang baik untuk dirinya dan Kelvin. Tapi sekarang, semua itu tidak mungkin dia aminkan. Kelvin sudah bukan menjadi miliknya. Dan tidak akan pernah menjadi miliknya lagi. Mereka hanya dipertemukan, disatukan pada hubungan selama enam tahun, dan setelah itu dipisahkan. Karena bingung harus menjawab dengan apa, akhirnya Kinan hanya melengkungkan senyumnya lagi. Senyum kecil yang tidak sampai mata. "Terima kasih Bu, ini uangnya. Saya pamit duluan." Berjalan meninggalkan dengan satu kantong plastik di tangan. Kembali ke kamar kos dan mulai menyantap makan paginya. Sengaja membuka pintu kamar lebar. Rasanya sangat engap setiap hari di tutup rapat. Mulutnya berhenti mengunyah. Mengumpat dalam hati saat telinganya mendengar lagu yang kemungkinan diputar tetangga kosnya. Lagu hits milik Mahalini dengan judul sisa rasa. Suasana berubah jadi mellow. Kinan merasakan setiap lirik yang dinyanyikan memiliki arti sangat dalam. Kinan sedang merasakan hal itu. Nasi di depannya sudah tidak menarik. Tidak mau menangis dan berakhir mempermalukan diri, berdiri menutup pintu. "Sialan! Dari kemarin sedih terus. Denger lagu galau dikit aja langsung nangis." Kinan lelah. Sangat lelah harus seperti in terus. Dia jadi sangat sensitif. "Kalau cuman membayangkan saja rasanya sakit banget, apalagi saat nanti datang dan menyaksikan? Apa bakal nangis kejer?" Memikirkan itu membuat Kinan makin pusing. Jangan sampai dia mempermalukan dirinya sendiri di acara milik Kelvin. Dia harus terlihat bahagia. Menampar Kelvin dengan anggapan dia sudah melupakan. Seseorang mengetuk pintu kamarnya cukup keras. Menghela nafas sebelum bangkit membuka. Menaikkan alis melihat Nindy yang sudah berada di depannya dengan deretan gigi yang terlihat. "Ada apa Nin? Jangan main dulu ya, lagi enggak terima tamu." Kurang sopan memang. Tapi Kinan benar-benar tidak bisa menerima tamu saat ini. Dia masih ingin sendiri. Meratapi nasibnya yang lagi-lagi kurang beruntung. Ah, malang memang nasib Kinan ini. Mencebikkan bibirnya. "Enggak kok. Cuman mau antar ini aja. Tadi pak kurir datang dan antar untuk Kakak." Memberikan bunga berukuran besar ke hadapan Kinan. Kinan bisa mencium aroma wanginya. Buket bunga hidup. Masih segar dan menguarkan bau. Menaikkan alisnya bingung. Siapa gerangan yang memberikan bunga sebagus ini? Bertanya pada Nindy juga pasti percuma. Gadis itu jelas tidak tahu menahu. "Makasih ya Nin. Sana balik. Gua benar-benar lagi enggak bisa terima tamu. Apalagi macam lu begini. Bisa habis camilan gua." Mengusir gadis yang terpaut beberapa tahun lebih muda darinya itu. "Ih ngeselin. Kak, lagi galau berat ya? Lagi marahan sama kak Kelvin atau malah putus?" Bukannya segera pergi sesuai dengan pinta Kinan, Nindy malah menanyakan hal sensitif itu. Menatap wajah Kinan penuh selidik. Sangat terlihat sedang patah hati. "Kakak bisa cerita sama aku. Jangan pendam semuanya sendiri. Ada hal yang memang lebih baik disimpan sendiri, dan ada yang memang lebih baik diceritakan. Kalau memang Kakak sedang sedih atau ada sesuatu yang mengganjal, jangan disembunyikan. Itu akan menyiksa. Jika memang menangis yang akan buat Kakak tenang, maka lakukan. Jangan ditahan Kak." Memberi nasihat. Nindy belakangan melihat bagaimana Kinan yang murung dan lebih sering berada di kamar. Kecurigaannya makin menguat saat menyadari pria berstatus kekasih dari Kinan tidak pernah datang lagi. Itu pasti ada hubungannya kan. Menyunggingkan senyum manis. "Terima kasih Nin," ucapnya tulus. "Dan ya, sesuai dugaan lu. Gua enggak baik-baik aja. Gimana bisa gua biasa aja kalau Kelvin besok mau nikah. Lu tahu? Gua sakit hati." Kinan sudah tidak peduli dengan air mata yang mulai menetes. Tidak peduli dengan tangisnya yang Nindy lihat. Nyatanya memang Kinan tidak sekuat itu. Dia membutuhkan tempat berkeluh kesah. Dia membutuhkan itu, tapi menyangkal dengan menganggap dia bisa mengatasinya sendiri. Dia tidak bisa mengatasi rasa sakit yang sungguh besar ini. Mrmutuskan masuk kamar kos tetangganya. Menutup rapat pintu kamar. Nindy tidak mau ada orang lain yang mendengar. Kisah sedih Kinan bukan untuk sebagai konsumsi orang lain. "Kakak duduk dulu. Tenangkan diri kakak. Tarik nafas dan hembuskan. Lakukan beberapa kali." Kinan melakukannya. Mengikuti instruksi yang Nindy beri. Mungkin karena terlalu menyesakkan, sampai kesulitan bernafas. Melakukannya beberapa kali sampai nafasnya berangsur normal. "Kak, jangan sembunyikan apa yang menyesakkan. Itu akan menyiksa diri Kakak sendiri. Gua enggak bisa paksa Kakak cerita. Itu bukan hak gua. Tapi misal lu butuh teman cerita, gua ada." Menyunggingkan senyum tulus. "Ya lu benar. Karena semua memang sangat menyiksa. Gua sakit hati Nin. Gua sakit hati. Enam tahun menjalin hubungan, berakhir begitu aja. Kelvin, dia selingkuh. Dia, bahkan besok akan menikah. Dia mengkhianati gua. Gua enggak tahu harus bagaimana. Semua orang yang tahu menatap gua dengan iba. Gua memang semenyedihkan itu. Disakiti sedemikian rupa aja gua masih cinta sama dia. Bodoh memang. Lu juga pasti bakal bilang kalau gua bodoh kan? Gua bilang sama semua orang kalau gua sudah berhasil melupakan. Tapi nyatanya, move on dari dia enggak semudah itu. Kita sudah enam tahun bareng. Banyak hal yang kita lalui bersama. Dan setelah ini, gua harus berjalan sendiri. Di kaki sendiri tanpa ada sandaran." Menceritakan apa yang sedang dia rasa malah makin membuat sesak. "Gua takut di kemudian hari rindu sama dia. Dia sudah sangat jauh. Enggak lagi bisa gua gapai. Kita sudah punya jalan masing-masing. Dan tentunya prioritas masing-masing. Dia dengan calon istrinya, dan gua sendiri. Tekad gua memang begitu kuat untuk memberikan pembalasan. Gua harus lebih baik lagi kan. Menampar dengan fakta bahwa gua enggak seharusnya di kecewakan begitu. Gua akan buat dia menyesal sudah menyakiti." Nindy meneguk ludahnya kasar. Tidak menyangka bahwa masalah Kinan sebesar ini. Masalah perasaan, tidak bisa dianggap remeh. "Kak, Kakak sudah benar dengan rencana itu. Kakak harus lebih giat. Lebih sukses dari sekarang. Balas dendam paling bagus ya seperti itu. Tidak akan merugikan diri Kakak. Malah membuat Kakak terpacu untuk menjadi lebih baik. Percaya deh sama gua kalau Tuhan sedang menyiapkan sosok yang benar-benar untuk lu. Yang jelas dia lebih baik berkali lipat dari mantan lu itu." "Ya, gua juga yakin. Tuhan enggak sejahat itu mengambil Kelvin tanpa menggantikan dengan sosok lain." "Sudah ya, enggak boleh nangis lagi. Sedih boleh, sakit hati juga wajar, Itu sangat manusiawi. Tapi jangan berlarut ya. Lu berhak bahagia. Kalau dia bisa, lu juga harus bisa Kak." Menyunggingkan senyum. "Terima kasih sudah mendengarkan gua Nin. Gua yakin gua kuat datang ke pernikahan dia nanti malam. Itu yang harus gua tanamkan kan?" "Pilih cowok yang bener ya Nin. Jangan sembarangan dan kaya gua begini. Jangan karena dia baik, lu percaya sepenuhnya sama dia. Ah, pokoknya lu harus bisa ambil pelajaran dari kisah cinta enam tahun gua yang sia-sia," lanjut Kinan memberikan petuah. Nindy gadis baik, jangan sampai dia mengalami apa yang Kinan alami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN