Tak pernah dibayangkannya satu semester yang berat telah Alvian lalui. Satu semester itu mati-matian dia berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Alvian bukan tipe orang yang pendiam, ia lebih memilih untuk berbaur dengan mahasiswa lain. Berkat teman sekamarnya, dia dikenalkan dengan semua yang belum ia ketahui tentang kampus ini maupun tentang kota kuno ini. Jika siang hari dia aktif bersoaialisasi untuk memperlancarnya bahasanya, sore hari dia akan menjadi Alvian yang tak dikenal menurut teman sekamarnya. Alvian punya kebiasaan untuk menuangkan pikirannya di atas kertas melalui pensilnya. Setiap sore dia lakukan itu, beberapa gambar yang bagus dia hasilkan dari hasil kebiasaannya itu. Teman sekamarnya menyebut Alvian sebagai seniman dari kampus Xianlin. Agak berlebihan, ta

