Diana segera menghubungi Vivian, tapi tidak di angkat, Diana kembali mencoba masih belum di angkat. Diana jadi kesel. Bayangan Vivian bersama Sofia membuatnya ingin menangis saja rasanya. Diana mencoba sekali lagi, kalau tidak di jawab juga, Diana bersumpah akan mencakar Vivian jika pria itu sudah kembali. Deringan menunggu berbunyi terus menerus, hingga akhirnya panggilan itu terjawab, Diana menarik nafas dalam siap untuk mengajukan beribu pertanyaan. “Vi-“ (Halo?) Diana mengernyit, menjauhkan layar ponselnya dari telinganya, melihat nama yang tertera di sana. Benar, dia tak salah menelepon orang. Tapi mengapa nyang mengangkatnya perempuan? Pikiran buruk itu semakin menjadi. “Siapa kau? Di mana Vivian?” (Vivian? Dia sedang di toilet, ada apa? Kau siapa?) “Kau yang siapa? Aku kek

