Setelah memanggil Vallen untuk mengikutinya, kini mereka sudah berada di sebuah cafe yang letaknya tak begitu jauh dari kantor. Vallen menatap Devon, menunggu pria itu membuka suara. Namun pria itu justru diam saja, memandangi pusaran kopinya yang baru saja di aduk. “Ada apa?” tanya Vallen pada akhirnya. Devon menatap gadis itu dengan tatapan ragu. Sebenarnya dia tidak tega harus bicara dengan Vallen perihal hubungan mereka. Tapi bagaimanapun Devon harus mengatakannya, karena bila di teruskan pun tidak akan baik ke depannya. “Kau ingin membicarakan tentang hubungan kita?” Tebak Vallen. Devon mengerjapkan matanya, lalu mengangguk. “Aku tau apa yang kau pikirkan.” Jeda sesaat. “Kau ingin mengakhiri hubungan ini?” “Ya,” sahut Devon. Tanpa di duga, Vallen justru tersenyum. “Baiklah, jik

