Tak terasa satu minggu telah berlalu dan saat ini adalah hari istimewa yaitu resepsi perkawinan.
Pernikahan Alma dan Davin adalah perpaduan antara kemewahan dan kepalsuan. Dekorasi emas dan putih mendominasi ballroom hotel bintang lima di kota Selatan, tempat resepsi diadakan. Ribuan tamu undangan, terdiri dari kolega bisnis Davin yang memiliki reputasi terpandang, lalu juga teman-teman kerja dan kuliahnya Alma, mereka semua terlihat memenuhi ruangan dengan gaun-gaun mewah dan jas mahal.
Alma, dalam balutan gaun pengantin warna putih bertabur permata hasil rancangan desainer ternama, wajahnya yang sudah cantik alami menjadi tambah sempurna dengan riasan MUA.
Alma berjalan anggun menuju meja penghulu. Senyumnya merekah, namun hatinya bergejolak. Karena beberapa hari sebelum pernikahan, ia tak sengaja menangkap pembicaraan Davin dan seorang wanita bernama Sofia. Percakapan itu mengungkap dendam Davin terhadap kakaknya, yaitu Irvan. Dendam yang berakar dari hubungan di masa lalu, yang kini dibawa Davin ke dalam pernikahan mereka.
Davin, dengan setelan jas hitamnya yang elegan, menyambut Alma di tempat yang telah ditentukan altar yang terhias indah. Tatapannya penuh cinta, namun Almw tahu itu hanya topeng. Sebenarnya dia tahu, Davin menikahinya bukan karena cinta, melainkan untuk membalas dendam pada Irvan,kakaknya Alma.
Acara berlangsung meriah. Para tamu menikmati hidangan mewah, lalu setelah itu sebagian besar dari mereka berdansa mengikuti iringan musik orkestra yang lembut, dan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Namun, di balik senyum dan sapaan ramah, Alma merasakan kehampaan. Ia merasa seperti boneka yang dipajang, hanya untuk memuaskan ego dan dendam Davin.
Puncak acara adalah saat Davin memberikan pidato. Dengan suara lantang dan penuh percaya diri, ia menceritakan kisah cinta mereka, bagaimana mereka bertemu, jatuh cinta, dan memutuskan untuk menikah. Bagaimana Davin mengungkapkan perasaan bahwa akan mencintai Alma selamanya.
Alma hanya bisa terpaku, air mata menetes di pipinya tapi cepat dia usap pelan. Alma tahu, setiap kata yang diucapkan Davin adalah kebohongan.
Malam itu, di kamar pengantin yang mewah, Alma merasa seperti berada di neraka. Davin, dengan tatapan dingin, kembali mengungkapkan niatnya untuk membuat hidup Alma sengsara. Dia ingin Irvan merasakan sakit yang sama seperti yang dirasakannya dulu. Alma hanya bisa menangis, menyesali keputusannya untuk menikah dengan Davin. Pernikahan yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, berubah menjadi mimpi buruk yang tak berujung.
Malam hari pun tiba, ini adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh para pengantin baru pada umumnya, tapi berbeda dengan apa yang dialami Alma.
Alma berjalan tenang memasuki kamar pengantin dengan senyum tulus, namun Davin sudah berdiri di dekat jendela dengan tatapan dingin
Alma mencoba mengajak bicara, dengan nada lembut.
"Mas Davin, akhirnya kita bersama. Aku sangat bahagia bisa menjadi istrimu."
"Bukankah sedari awal tak ada persengketaan diantara kita, bisakah kau memaafkan kakakku?"
Davin berbalik dengan senyum sinis.
"Bahagia? Jangan naif, Alma Pernikahan ini bukan tentang kebahagiaan, apa kamu sudah lupa dengan apa yang sudah kita bicarakan di kantor waktu itu."
Davin mengayun langkah pelan mendekati istrinya.
"Aku menikahimu bukan karena cinta, tapi karena dendam. Kamu dan keluargamu akan membayar semua yang telah kalian lakukan."
Davin lantas mendorong kasar tubuh Anjani hingga rebah di atas ranjang, pria itu mengungkungnya.
" Jangan pernah berpikir aku akan menyentuh mu, Anjani. Kau harus selamanya berada di sisiku dalam ikatan pernikahan, baik kamu suka atau tidak!"
Alma tercekat dan masih menangis tersedu-sedu di atas kasur.
"Katakan dengan jelas mas Davin apa salah kakakku?!
"Tanyakan sendiri padanya, dia lebih daripada tahu."
"Lalu, apakah kebangkrutan keluargaku ada hubungannya denganmu, mas Davin?"
"Ya, tentu saja."
Davin menatap Alma dengan rasa merendahkan. Dia merasa dirinya adalah sosok paling berkuasa di dunia ini yang hendak menghukum Alma.
"Alma, saat kamu menikmati
kasih sayang dari semua orang, adikku mengalami kehancuran hidup yang tidak manusiawi."
"Kamu bisa menebaknya sendiri,aku tidak akan memberitahumu kebenarannya. Aku ingin membuatmu hidup dalam ketakutan selamanya dan merasakan penderitaan yang dialami adikku."
Davin bicara ketus, dia menatap Alma dengan tatapan dingin, lalu ponsel pria itu berbunyi. Terlihat di layar adalah nama 'Sofia'. Senyum mengembang di wajah Davin, pria itu langsung klik tombol terima. Davin sudah tak perlu lagi menyembunyikan perihal Sofia di depan istri yang baru saja dinikahinya.
"Ya hallo Sofia."
"Apa? perutmu sekarang terasa bermasalah?"
"Tunggu lah aku segera ke tempat mu."
Raut wajah Davin berubah cemas, dia menutup telepon dan berjalan meninggalkan Alma. Tentu saja Alma tak terima dan berseru.
"Kamu mau ke mana, mas Davin!?"
Davin menjawab tanpa menoleh. "Bukan urusanmu."
"Ini malam pertama kita, bukankah seharusnya kita bersama," pinta Alma masih berusaha membujuk.
Davin berhenti di ambang pintu, dia sempat berbalik dan menimpali dengan senyum sinis. "Bersama? Kamu pikir aku mau menghabiskan malam pertama denganmu? Jangan bermimpi."
"Lalu kamu mau ke mana? Dengan siapa?"
"Sofia? Kamu akan menemuinya bukan, beraninya kamu meninggalkan aku di malam perkawinan demi wanita lain,"engah Alma putus asa.
Davin hanya memberikan tatapan dingin lalu berkata dengan nada mengejek.
"Aku yakin kamu sudah tahu jawabannya. Aku akan menemui seseorang yang lebih penting dan lebih menarik darimu."
" Jadi benar Sofia?"gerutu Alma dengan airmata berlinang.
Sambil mengangkat bahu, Davin menjawab ringan"Dia itu pacar pertamaku. Kenapa? Kamu cemburu?"
Alma menjawab dengan suara bergetar. "Aku istrimu, Mas Davin. Seharusnya kamu mencintaiku, bukan wanita lain."
Mendengar ocehan istrinya, Davin hanya bisa tertawa hambar. "Cinta? Aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya memanfaatkanmu untuk membalas dendam."
"Aku mohon, mas Davin. Jangan lakukan ini padaku. Jangan pergi." Suara Alma sudah mengandung luka dan keputus asaan yang teramat dalam.
Davin memicingkan matanya lalu tanpa menghiraukan permohonan Alma, dia membuka pintu dan melangkah keluar.
"Selamat menikmati malam pertama yang menyedihkan, Alma Aku harap kamu bisa tidur nyenyak."
Alma berteriak dengan histeris, dia berlari ingin menghentikan langkah Davin.
"Mas Davin tolong ceritakan yang jelas masalah apa yang terjadi dengan adikmu!"
"Mas Davin! Jangan pergi! Mas Davin!"
Davin menutup pintu dengan keras, meninggalkan Alma yang menangis meraung seorang diri di kamar pengantin. Alma mencoba bangkit dan berjalan, namun kakinya terasa lemas dan tubuh lemahnya kembali terjatuh ke lantai, pinggangnya sakit dan terasa patah. Dia memeluk dirinya sendiri dan terus menangis, merasa hancur dan tidak berdaya.
Sementara itu, di tempat lain...
Davin tiba di depan rumah Sofia. Dia mengetuk pintu dan Sofia membukakannya dengan senyum menggoda
Sofia berucap dengan nada manja "Davin, akhirnya kamu datang juga. Aku sudah menunggumu dari tadi."
Davin merangkul Sofia dengan mesra."Maaf membuatmu menunggu.Kau tahu kan, dia cerewet sekali di malam pertama, seharusnya dia menyadari posisinya sekarang."
" Apa yang terjadi dengan perutmu?"
Sofia terdiam sesaat, dia benci mendapati kenyataan kalau sekarang Davin sudah menjadi suami sahnya Alma.
Tapi kemudian Sofia mencium pipi Davin.
"Tidak apa-apa, hanya kram sedikit karena mau datang bulan. Yang penting kamu sudah di sini sekarang. Ayo masuk, aku sudah menyiapkan sesuatu yang istimewa untukmu."
Davin dan Sofia masuk ke dalam rumah mereka berduaan sepanjang malam, sementara Alma yang menangis seorang diri di malam pengantinnya.
***
Alma akhirnya bisa menghentikan tangisnya. Dia tiba-tiba melamun mengingat kisah cinta manis yang sebelumnya terjadi antara Davin dan dirinya.
Jangankan membuatnya menangis, dulu saat jarinya sedikit saja terluka David langsung membawa dirinya ke rumah sakit walaupun di tengah malam.
Dokter yang bertugas bahkan tertawa dan berkata.
"Pak,untung saja bapak datang lebih awal. Kalau terlambat pasti lukanya sudah sembuh sendiri."
Pria yang ada dalam ingatannya itu terkesan sangat jauh berbeda dengan pria yang sekarang telah menikahi nya. Alis dan matanya masih sama seperti dulu. Namun yang berbeda adalah perhatiannya yang sekarang telah berubah menjadi sedingin es di kutub Utara.
Alma akhirnya memutuskan sesuatu hal dengan mantap.
"Aku akan menyelidiki kasus yang sebenarnya terjadi antara kak Irvan dan mendiang Vanya."
Alma mengambil ponselnya dan menelepon detektif yang biasa bertugas di bagian penyelidikan penyebab kematian dan kehilangan seseorang.