Hari ini adalah hari terakhirku berada di rumah sebelum besok, aku harus kembali berangkat ke pondok tempatku menimba ilmu. Namaku Era. Aku adalah murid kelas 2 Aliyah sekaligus santri di suatu pondok pesantren di kota Salatiga. Keinginan orang tua menjadi alasan terbesarku untuk menimba ilmu di pondok pesantren, meskipun sebenarnya tak sedikitpun terbesit dalam hatiku keinginan untuk mondok. Namun aku mencoba untuk berusaha bertahan dengan segala keterpaksaan yang kadang buatku jengkel.
Tak terasa sudah 1 tahun aku melewatinya, masa-masa sulit, masa-masa adaptasi, sepertinya, aku telah khatam menghadapi semuanya. Pagi sekolah, sore mengaji, hingga larut malam-pun aku masih harus tetap mengaji. Ah, sepertinya hidupku hanya untuk belajar, ngaji dan ngaji. Bagiku, hal ini begitu monoton dan sangat menyiksa. Bosan, jenuh, dan stres itu pasti.
Melihat teman-teman sekolah yang nggak mondok, terkadang aku merasa iri kepada mereka. Sepulang sekolah mereka bebas jalan kemana saja, mereka bebas melakukan apa saja yang tentunya tanpa ada unsur pemaksaan. Menurutku, mereka have fun. Sekolahku memang bukan sekolah khusus untuk santri. Hanya saja sebagian besar siswa di sini adalah santri dari pondok pesantrenku.
Lidia, adalah teman sebangku yang menurutku dia punya segalanya. Barang apapun yang dia mau, pasti dia dapatkan. Terkadang aku bertanya-tanya, darimana dia mendapatkan uang untuk membeli ini dan itu?
***
Bel istirahat berbunyi.
Setelah kemarin dia membeli hp baru, hari ini aku melihat Lidia memakai sepatu baru. Bermerk pula.
"Lid, sepatu baru nih. Waah mahal pasti"
"Iya dong. Ini aku beli online Ra. Bagus kan?." jawabnya
"Iya bagus bagus. Btw uang sakumu berapa sih, bisa banget beli barang ini ono?" tanyaku.
"Kamu mau bisa beli barang-barang kaya aku gini?"
"Ya maulah. Gimana? Kasih tipsnya dong!!"
"Sebenernya, aku part time Ra. Jadi pelayan gitu di caffe. Ya, gajinya sih lumayan. Nih buktinya aku bisa beli-beli pake uang sendiri. Kalo mau, ntar malem kamu boleh ikut aku. Nanti aku kenalin ke bosku, biar kamu juga bisa kerja disana."
"Wah, pengen banget sih Lid. Tapi pondok... Em...yaudahlah ntar aku izin aja. Alasan mau pulang."
"Tapi Ra.. Kerja di caffe tuh harus lepas jilbab."
"Ya nggak papa Lid, aku siap-siap aja. Soalnya aku juga udah bosen lama-lama di pondok. Serasa di penjara. Sekali-kali aku juga butuh refreshing lah, biar ngga stress"
Aku merasa sangat tergiur dengan ajakan Lidia. Aku membayangkan bagaimana senengnya bisa beli barang-barang yang selama ini aku inginkan. Dan yang terpenting aku bisa keluar menghirup udara bebas. Tanpa tekanan.