Dylan berdiri di depan sebuah ruangan di rumah sakit dengan sorot mata lelah dan ponsel di tangan kanannya. Ayah dari dua anak itu sempat menghela nafasnya beberapa kali saat mulai menyambungkan panggilannya dengan seseorang di seberang sana —dan di samping itu matanya tidak pernah lepas dari layar yang terpampang di depan pintu ya g bertuliskan ‘sedang digunakan’. Beberapa prajurit dengan seragam dan alat komunikasi lengkap mereka berbaris dengan rapi di awal masuk lorong rumah sakit yang telah dikosongkan ini, karena sebagai seorang prajurit mereka perlu memperlakukan sang Putra Mahkota Astropeiia secara ketat dan terhindar dari keramaian publik disekitarnya. Karena siapapun juga tidak akan tahu siapa yang akan menjadi musuh di antara kumpulan masyarakat yang datang ke rumah sakit terbe

