Bab 3

1094 Kata
"Sayang? Kau hendak ke kantin juga? Ayo masuk, aku tak ingin mengganggumu jadi aku memutuskan untuk pergi sendiri." Ujar Tama menjelaskan tanpa jeda. Sangat terlihat bagaimana pria itu berusaha memberikan penjelasan meski Mentari sama sekali tak bertanya. "Aku pikir kau sengaja pergi berdua dengan dokter Caroline, mengingat kalian berada di lift yang memiliki tujuan yang sama." Tandas Mentari tenang. Tak lupa senyum simpulnya mampu membuat nyali Tama bagai di uji. Tama tampak risau itu terlihat jelas dari pantulan dinding elevator. Posisi Mentari yang tengah berdiri tegak tepat di tengah kedua insan tersebut. Sedangkan dokter Rayan memilih menepi. Ia tak ingin mencampuri urusan pasangan kekasih itu. "Kami kebetulan bertemu saat akan masuk ke dalam lift, bukan direncanakan. Sungguh, benar begitu dokter Caroline?" Bantah Tama yang kini tengah menatap dokter Caroline dengan tatapan penuh permohonan. Dengan senyum malas wanita itu menjawabnya. "Itu benar dokter Tari. Kami kebetulan bertemu saat hendak memasuki lift." Sambung dokter Caroline membenarkan meski ekspresi wajahnya terlihat menahan kesal. "Astaga, padahal aku hanya bercanda. Kenapa kalian begitu tegang sekali?" Mentari tertawa kecil seolah apa yang terjadi terlihat lucu baginya. Tama tersenyum kikuk. Pria itu merangkul bahu sang kekasih dengan sayang. Dapat Mentari rasakan, tubuh kekasihnya sedikit bergemuruh. "Bagaimana dengan kalian? Apa kalian juga kebetulan seperti kami?" Tanya Tama membalikkan keadaan. Ia berharap kali ini dapat menemukan cela dari sang kekasih. Mentari selalu sempurna di matanya, itu kenapa ia tak pernah mampu menyaingi popularitas wanita itu sejak mereka masih duduk di bangku sekolah. "Oh, kami memang sengaja untuk mengunjungi kantin bersama. Itu karena kami tak memiliki rencana lain selain sama-sama bertujuan untuk makan siang." Jawab Mentari terdengar penuh nada sindiran. Lagi-lagi hati Tama ketar ketir. Ia tak menyangka Mentari begitu pandai membalikkan keadaan hingga membuatnya kembali bungkam. Saat sebelum melangkah keluar lift, Mentari memanggil Caroline hingga membuat jantung Tama bagai di pacu alat pacu jantung. "Dokter Caroline.." "Ya?" Dokter Caroline berbalik menghadap elevator yang masih terbuka. "Itu... blousemu.. masih terbuka," tunjuk Mentari tepat ke bagian da da dokter Caroline. Tama melotot sempurna, melihat belahan da da Caroline yang rupanya belum tertutup sempurna. Kancing blouse wanita itu masih dalam keadaan terbuka dua kancing. Dengan salah tingkah, dokter Caroline mengancingkan bajunya sebelum melangkah meninggalkan area lift. "Breng sek! Pantas saja dokter Rayan terus melirikku dengan tatapan lapar." Gerutu dokter Caroline yang kini berjalan menuju toilet. Sedangkan Mentari tersenyum samar. "Sayang, kau yakin akan makan sebelum membenahi penampilanmu?" Lagi-lagi jantung Tama berdegup kencang. Entah apa yang salah dengan penampilannya saat ini, namun ketika mendengar suara Mentari, instingnya mulai tak baik. "Ada yang salah dengan penampilanku sayang? Katakan di bagian mananya?" Tanya pria itu dengan sedikit nada penuh rayuan. Ia tetap berusaha terlihat cool agar Mentari tak menatapnya dengan tatapan curiga. "Aku duluan," tiba-tiba dokter Rayan menyela lalu bergegas keluar dari lift dengan langkah lebar. "Aku sampai lupa ada penumpang gelap di dalam lift ini." Kekeh Mentari merasa konyol. "Ah ya, tidak ada yang salah dengan penampilanmu. Kau selalu sempurna." Tama tersenyum jumawa. Ia yakin Mentari hanya berusaha untuk menggodanya saja. Dan ia senang dengan perubahan itu. Mentari terlalu kaku menurutnya, dua tahun berpacaran, tak pernah sekalipun ia pernah merasakan bibir ranum kekasihnya itu. "Kau rupanya mulai nakal sayang...apa kita kembali ke ruangan saja hmmm?" Suara Tama mulai berat. Mentari tertawa kecil. "Kau memang selalu sempurna, tapi hari ini kau lupa menutup belalai kecilmu sayang." Kretak! Rahang Tama seakan terjun bebas menyapu lantai. Kalimat sang kekasih sukses membuatnya mati kutu. Wajah Tama pias seketika. Pria itu seperti baru saja mendapatkan tamparan keras di wajahnya. "I_itu..i_ini...aku..baru saja dari toilet Sebelum naik kemari." Ujar Tama menjelaskan. Kalimat pembelaan yang terpatah-patah karena pria itu rupanya memang telah berkata bohong. Mentari menyeringai kecil. "Tak apa sayang...kau punya kebutuhan yang harus kau penuhi. Aku tak masalah dengan itu. Perselingkuhan merupakan hal yang lumrah terjadi di lingkungan kerja seperti ini. Apalagi intensitas pertemuan yang memungkinkan untuk melakukan skandal, itu bukan hal baru. Lain kali lakukanlah di tempat yang lebih tersembunyi dan aman, maka kau tak akan kepergok oleh siapapun. Terutama kekasihmu sendiri," ungkap Mentari tanpa beban apapun. Wanita itu berbicara begitu ringan seolah hatinya baik-baik saja. Tak lupa senyum semanis gula, ia perlihatkan kepada kekasih ja ha nam nya tanpa cela. Senyum yang mengibarkan bendera peperangan yang sesungguhnya. Tama mulai was-was. Perasaan cemas mulai menguasai hatinya hingga tanpa sadar Tama mencengkram erat lengan Mentari. "Kau menyakitiku Tama," tegur Mentari menatap lengannya yang tengah di cengkram oleh Tama. Pria itu melepaskan cengkramannya dengan ekspresi panik. Punya nyawa berapa dirinya hingga berani menyakiti berlian berharga keluarga Connor. "Maaf sayang...aku sungguh tak sengaja. Aku hanya terkejut atas apa yang kau katakan. Itu terdengar seperti tuduhan tak berdasar. Semua hanya salah paham..aku dan dokter Caroline tak memiliki hubungan apapun. Hanya sebatas teman dan rekan kerja. Percayalah padaku sayang, aku tak mungkin mengkhianatimu. Kau tau betapa sulitnya aku untuk mendapatkan hatimu juga keluargamu? Mana mungkin aku me no dai kepercayaanmu begitu saja." Serentetan kalimat pembelaan Tama serasa menggelitik relung hati Mentari. "Aku harap cctv di rumah sakit ini masih berfungsi dengan semestinya. Terkhusus untuk hari ini. Karena beberapa videomu yang lain sudah aku salin ke dalam flashdiskku dan ku jadikan tontonan di kala jenuh melanda." Jedar! Runtuh sudah kokohnya dinding keangkuhan Tama. Kebohongannya telah terungkap jauh sebelum hari ini. Entah bagaimana ia bisa menyelamatkan dirinya kali ini. Ia lupa jika rumah sakit tersebut memiliki banyak kamera keamanan di berbagai tempat di setiap sudutnya. Wajah pria itu memucat, keringat dingin mengalir bagai siraman air hujan yang mengguyur permukaan bumi. Mentari menepuk pelan bahu sang kekasih dengan senyuman khasnya. "Tak apa Tama, aku memahaminya. Mari kita akhiri hubungan tak sehat ini secara baik-baik. Aku lebih suka menjalin hubungan pertemanan yang lebih berkualitas daripada menjadi sepasang kekasih yang saling menyakiti. Lanjutkan hubunganmu dengan dokter Caroline, ada kehidupan yang harus kau pertanggung jawabkan di dalam kantong kecil yang di sebut kantung kehamilan. Caroline butuh tanggung jawabmu, dan bayi kalian butuh kedua orang tuanya." Nasihat Mentari bijak. Tak ada getar kesedihan atas pengkhianatan kekasihnya. Mentari malah merasa lega. Lega karena tak lagi harus berusaha keras mencintai seseorang yang sama sekali tak pernah ia inginkan oleh hatinya. Hanya karena tak ingin melukai hati kedua orang tuanya, Mentari mencoba menerima pernyataan cinta Tama tepat di hari ulang tahunnya, di hadapan banyak orang. Senyum teduh sang ibu membuatnya terpaksa menerima Tama, karena tak ingin membuat pria itu pulang dalam keadaan malu atas penolakannya. Nyatanya Tuhan telah menunjukkan, bahwa Tama memang tak layak untuk di cintai. To be continue Semoga terhibur, ini hanya kisah fiksi, bukan gambaran atas hubungan siapapun sebagai acuan alur ceritanya. Terimakasih banyak bagi yang sudah mampir. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN