Carter terus menundukkan kepalanya, kali ini bukan karena tatapan tak bersahabat dari sang ayah namun sorot mata penuh kekecewaan dari sang ibu yang membuat hatinya nyeri. "Kau tau nak, rasa sakit terbesar seorang ibu adalah ketika melihat anaknya tak lagi dapat ia jangkau. Entah apa salah kami, sehingga kau memilih untuk membelakangi kami semua tanpa alasan yang jelas. Mom tak mengerti, sungguh..." lirih Claudia menatap sendu sang anak yang kini masih setia menatap ubin mahal rumah tersebut. "Katakan apa yang harus kami lakukan Carter, katakan apa lagi yang harus kami korbankan agar semua keinginan kekasihmu terpenuhi?" kalimat tanya sang ayah akhirnya mampu mengangkat wajah suram Carter. "Mungkin Mentari tampak jahat di matamu dan kita semua. Wanita itu pergi tanpa kalimat perpisahan,

