Sales Cokelat

1842 Kata
BAB 1; Sales Cokelat. Namanya Raden Ajeng Naraya Sashikirana. Ya, kamu tak salah baca. Nama itu didapat Ajeng gara-gara kecintaan ibunya terhadap budaya jawa. Padahal, jika Ajeng menilik garis keturunannya dari kakek buyut, Ajeng tak memiliki darah jawa sama sekali. Ajeng lebih mirip dengan ayahnya yang merupakan blasteran Sunda-Jepang. Sedang ibunya sendiri keturunan Batak asli. Ajeng kadang juga suka kesal jika mengingat masa sekolahnya dulu--ketika ia jadi bahan ejekan dan seringkali dipanggil 'Pak Raden'. Ah, itu masih mending. Karena terkadang, Ajeng juga dipanggil nyai ronggeng, putri keraton nyasar, atau jepunjawa. Bahkan sampai sekarang Ajeng masih tak paham alasan mereka memanggilnya demikian. Oke, lupakan hal itu sejenak. Karena sekarang, Ajeng sedang bahagia karena ia akan melangsungkan acara pertunangannya dengan Raden Sosroaminoto Sudrajat--, cowok tampan keturunan jawa asli yang dipilihkan mamanya untuk menjadi calon suami Ajeng. Tidak, Raden--begitu Ajeng memanggilnya--tidak se-annoying namanya. Dia justru mempunyai badan tegap, agak kurus, kulit kecokelatan, dan sepasang mata tajam seperti raja-raja jaman dulu, wajahnya juga lumayan ganteng. Bedanya cuma kali ini Raden pakai setelan jas, bukannya beskap jawa--hal yang justru berkebalikan dengan Ajeng yang memakai kebaya dan bawahan batik. Awalnya, Ajeng menolak mentah-mentah ketika ia dijodohkan dengan Raden, orang yang menurutnyo kuno, kaku dan b***k tata krama. Tapi nyatanya, setelah bertemu langsung dengan Raden, dia tidak seburuk itu. Bahkan nama dan sikapnya nyaris berbanding terbalik. Raden lebih mirip politikus-politikus muda yang suka berdebat menyuarakan aspirasi di depan publik, pria ramah dengan senyum memikat. Oke, bukannya Ajeng tergila-gila dengan Raden. Ia hanya suka pada pembawaan Raden yang kalem tapi berwibawa, kebapak'an dan terlihat dewasa sekaligus. Dari semua kandidat calon suami yang dipilihkan mamanya, cuma Raden saja yang memenuhi kriterianya. "Macam mana pula si Raden itu! Malah pake jas resmi, bukannya beskap. Kan aku sudah bilang suruh pake beskap. Tak dengar kah dia?" Gerutuan Sang Mama tertangkap telinga Ajeng. Tidak terlalu keras memang, tapi cukup membuat telinga Ajeng berdengung karena jaraknya yang terlalu dekat. Bergeser satu langkah, Ajeng menatap mamanya kesal. "Mama apaan sih. Ngomongnya nggak bisa selow, sakit nih kupingku. Mau ganti emangnya kalo rusak?" "Sudah berapa kali kubilang jangan panggil mama. Tapi ibunda. I-b-u-n-d-a. Kenapa otak kau tak paham-paham?" kini gantian Ajeng yang kena damprat mamanya. Dulu Ajeng memang memanggil mamanya dengan sebutan ibunda. Tapi panggilan itu langsung berubah ketika Ajeng ditertawai teman-teman SMP-nya karena dianggap kuno dan aneh. Sejak itulah Ajeng mengubah panggilan pada ibunya menjadi mama--dan berlangsung sampai sekarang. Teguran mamanya bahkan ia hiraukan berkali-kali. Mengambil napas dalam, Ajeng berusaha mengendalikan diri. "Udah deh Ma, nggak usah drama gitu. Mama kan harusnya seneng tuh bakal dapat calon mantu pangeran, putra mahkota. Impian Mama sejak jaman orok akan segera tercapai." "Tak ada pangeran jawa yang pake jas!" seru mamanya, ketus. "Pokoknya ibunda mau si Raden ganti baju dulu sebelum acara! Kalau masih ndableg seret saja sekalian." Satu detik setelahnya, tubuh gempal berbalut kebaya merah dan jarik cokelat itu melangkah anggun mendekati Raden yang tengah bercakap-cakap dengan Edogawa--ayah kandung Ajeng. Dan Ajeng cuma bisa memutar bola mata dan menyeret kakinya untuk duduk di kursi tamu, memilih untuk menonton drama yang akan dibuat mamanya sebentar lagi. Kadang Ajeng juga suka gagal paham. Jika dari dulu mamanya bernafsu dengan laki-laki keturunan Raja Jawa, kenapa ia justru menikah dengan ayah Ajeng yang nyata-nyata keturunan Jepang? Bahkan jika dilihat dari kacamata sejarah pun, Jepang merupakan musuh Jawa selain Belanda dan Inggris. Ajeng jadi sangsi kalau mamanya pernah belajar sejarah. "Ibu ngapain tuh Dek?" Kursi di sebelah Ajeng diseret. Abangnya--Raden Mas Aksara duduk dengan sikap anggun layaknya keturunan bangsawan, cocok sekali dengan penampilannya yang memakai beskap berwarna krem, lengkap beserta jarik, blangkon, dan keris di punggung. Melihat Aksa membuat Ajeng yakin bahwa anak patuh dan berbakti pada oragtua masih eksis sampai sekarang. Berani taruhan, kalau Aksa disuruh lompat ke sumur, pasti akan dia lakukan detik itu juga tanpa banyak tanya. Oh, beruntunglah Mama karena punya anak semacam Aksa! "Tau ah. Mau bikin acara penobatan pakai keris dan kembang melati kali. Jangan lupa cawan emas sama air dari tujuh sumber," balas Ajeng tak peduli. Dilihatnya Sang Mama yang mulai menarik lengan Raden menjauh. Tawa renyah Aksa terdengar. Sorot matanya geli ketika menatap Ajeng. "Kamu tuh. Suka ngaco kalo ngomong." "Biarin." Aksa segera berdiri, sedikit merapikan pakaiannya yang terlipat. "Mas nyusul Ayah dulu ya. Kamu siap-siap gih. Acaranya udah mau mulai sepuluh menit lagi." "Aku udah siap dari tadi keles. Calon tunangannya tuh yang nggak paham hidup," gerutu Ajeng sambil memutar bola mata. "Hus. Nggak boleh ngomong gitu sama calon suami sendiri." "Yelah-yelah. Terserah Mas Aksa sajaaahh. Aku mah apa atuh. Cuma perempuan berdarah blaster yang dipaksa berperilaku sesuai adat jawa." Aksa cuma bisa geleng-geleng kepala, mulai melangkah penuh wibawa menuju ayahnya yang sudah menunggu. Sementara itu, Ajeng termenung. Pandangannya menatap lurus pada dekorasi bernuansa jawa nan kental. Mulai dari vas bunga yang terbuat dari kuningan, harum sedap malam yang memenuhi ruangan, sampai tabuhan gamelan yang menjadi musik pengiring. Rasa-rasanya Ajeng jadi mengantuk dan ingin rebahan di kasur saja. *** "Kenapa batal?" Kata itu yang berhasil keluar dari mulut Ajeng setelah dua menit yang mendebarkan. Para tamu yang semula memenuhi ruangan sudah mulai pergi satu-persatu. Sedangkan ibunda Ajeng tercinta--Mama Ratu, sedang menangis sesenggukan di bahu suaminya. Sementara itu, Raden Sosroaminoto Sudrajat beserta keluarga sudah menghilang sejak tadi. Ajeng sendiri masih tak paham dengan situasi yang tengah ia alami. Pertunangannya... batal? Bagaimana bisa? Bukannya Ratu sendiri yang memilih Raden sebagai calon suaminya? Kenapa Ratu sendiri yang membatalkan acara ini? Bukannya Ajeng merasa patah hati atau bagaimana. Tapi sayang juga budget yang dikeluarkan buat acara ini. Kalau dikumpulkan mungkin bisa buat beli Audi baru buat Ajeng. "Mama jangan cuma nangis dong. Jelasin sama aku," tuntut Ajeng lagi. Tapi tak ada tanggapan, justru isakan mamanya bertambah keras. Ajeng mengusap wajah frustrasi. Pandanganya langsung beralih pada Aksa yang terdiam seperti manekin hidup. "Mas Aksa... jelasin!" Aksa tampak menghela napas. Bahunya melorot. "Raden ternyata bukan keturunan Raja Jawa asli. Keluarganya cuma ngaku-ngaku supaya bisa jadi besannya Ibu dan dapat dukungan dari Ayah buat nyalon jadi bupati." Astaga... Ajeng mendesah, mendudukkan pantatnya di atas kursi dan memijit keningnya yang tiba-tiba berdenyut. Apa lagi sih ini? Ajeng benar-benar tak habis pikir dengan mamanya. Berkali-kali menjodohkan Ajeng dengan 'siapalah yang dianggap pangeran' itu, selalu saja berakhir gagal. Jika Ajeng tak salah ingat, ini adalah calonnya yang ke-empat--sekaligus menjadi calon satu-satunya yang sampai pada tahap pertunangan, karena yang lain sudah gagal pada tahap percobaan. Jika terus seperti ini, Ajeng tak tahu harus bertahan berapa lama lagi untuk mematuhi mamanya? Ajeng benar-benar... capek. Kapan semua ini akan berakhir? Dan kapan pula Ajeng bisa memiliki kehidupan normal seperti teman-temannya yang lain? Obsesi mamanya membuat Ajeng muak. Ajeng mulai membenci semua hal yang berhubungan dengan adat jawa dan segala keribetannya. "Udah ya Ma?" kata Ajeng, lirih. "Bisa kali ini Mama biarin Ajeng nyari calon suami sendiri? Ajeng udah capek jadi kelinci percobaan Mama." Sang Mama hanya terisak. Ajeng melanjutkan ucapannya lagi. "Ajeng malu, Ma. Dan Ajeng benar-benar menyesal karena udah nurutin perintah Mama." Dan, setelahnya, Ajeng berdiri, menatap kedua orangtuanya lama,  sekuat tenaga menahan air mata yang hendak luruh. "Ajeng mau nenangin diri dulu. Jangan nyariin Ajeng." Masih mengenakan kebaya dan rok batik super ribet itu, Ajeng setengah berlari membelah pesta yang sudah berantakan. *** Ajeng melipat lututnya sambil bersandar di batang pohon. Sepatu selop yang ia kenakan di pesta pertunangan tadi sudah tergeletak di samping kirinya. Pandangan Ajeng menerawang pada air danau di depannya, tidak fokus. Bagaimana cara Ajeng menghentikan kegilaan mamanya? Sebab Ajeng yakin, setelah kegagalan ini, pasti mamanya masih akan tetap bersikeras untuk menjodohkannya dengan kandidat calon raja yang lain. Dan Ajeng, tentu saja. Tidak mau nasibnya berakhir seperti ini lagi. Ajeng mendesah. Melempar kerikil-kerikil ke danau untuk meluapkan frustrasi. Jika saja Ajeng punya calon suaminya sendiri, pasti Ajeng tak perlu repot-repot menuruti perintah mamanya lagi. Ajeng cuma harus membujuk ayahnya agar segera menikahkan Ajeng. Dan bebaslah Ajeng dari masalah pelik ini. Hahaha. Ajeng terkekeh ironi. Sayangnya, itu semua cuma mimpi di siang bolong. Ajeng baru akan melempar kerikil lagi sebelum sebuah tangan mengulurkan cokelat batang ke depan wajahnya. Mengerjab, Ajeng menoleh pada Sang Pemilik. Dan, bola matanya seketika membesar. Yang ditatap pun juga sama terkejutnya. "Naren?" "Sashi?" Keduanya berujar bersamaan. Tapi Ajeng yang berhasil mengendalikan diri lebih dulu dan tertawa keras, tak lupa menyambar cokelat yang masih terulur dari tangan Naren. Ajeng berkacak pinggang. Sorotnya menusuk ke arah Naren, dengan bibir setengah mengejek. "Ha-ha-ha. Lima tahun nggak ketemu, ternyata lo sekarang jadi sales cokelat? Mengesankan sekali!" Ajeng masih ingat betul dengan Naren--musuh bebuyutannya ketika SMA. Bahkan, dari segi penampilan pun, Naren masih belum berubah. Mana ada sales yang pakai kaus oblong dan celana jeans belel? Ditambah lagi dengan kacamata cupu yang bertengger di hidungnya. Ya Tuhan, pasti pelanggannya sudah pada kabur sejak tadi. "Kalo tau orang yang kelihatan menyedihkan itu elo, nggak bakalan gue samperin. Buang-buang waktu aja." Naren membalas tak mau kalah. Ia menatap penampilan Ajeng dari atas sampai bawah, lalu tersenyum sinis. "Ngapain lo pake kebaya di siang bolong? Gagal kawin?" Nusuk banget ya cowok ini kalau ngomong? Kalau saja Ajeng tidak bisa mengendalikan diri, pasti sekarang sepatu selopnya sudah nangkring di kepala Naren.  Dan, entah setan mana yang sedang merasukinya, tiba-tiba Ajeng punya ide konyol. Apalagi suasana danau yang sedang ramai seolah sedang mendukung idenya. Anggap saja ini sebagai balasan dari perlakuan Naren lima tahun yang lalu sekaligus bersenang-senang. Maka, ketika Naren masih memandangnya dengan sorot bingung, Ajeng buru-buru menangis dan berteriak kencang, memancing perhatian orang-orang. Ia maju dua langkah dan meninju d**a Naren, dengan air mata buaya yang sukses meluruh. "Kamu tega ya Mas? Aku udah bela-belain kabur dari nikahan aku sendiri cuma biar bisa nikah sama kamu. Tapi apa balasan kamu? Hah? Kenapa kamu nggak mau nikahin aku Mas? Kenapa?" "Sashi! Lo apa-apain sih? Lepasin gue," Naren mendorongnya menjauh, tapi Ajeng buru-buru menarik kausnya cepat. Naren yang tidak siap justru menjatuhkan sekatung cokelat yang ia bawa. "Aku hamil anak kamu Mas! Kenapa kamu malah lari dari tanggung jawab? Jawab aku Mas! Kenapa kamu nggak mau nikahin aku?" raungan Ajeng semakin keras. Diam-diam tertawa dalam hati ketika melihat raut wajah Naren yang berubah panik. Ha-ha. Kapan lagi bisa melihat Naren kalah seperti sekarang? Dari dulu~ cowok sok sempurna ini selalu menang dalam segala bidang, tanpa cela. Dan selalu membuat Ajeng muak. Lagi-lagi, Naren mencoba mendorongnya. "Sashi, malu diliatin orang-orang! Lo kenapa sih? Baru keluar dari rumah sakit jiwa ya?" Dan, kerumunan orang yang dari tadi cuma sebagai penonton, kini sudah berani mendekat. Dan Ajeng memainkan perannya sekali lagi. "Aku udah diusir dari rumah gara-gara kamu Mas! Terus sekarang kamu mau lari gitu aja? Tega kamu Mas!" Yang Ajeng tidak tahu adalah, di antara kerumunan orang itu, ada salah satu anggota satpol pp yang sedang melakukan inpeksi mendadak, sudah menyaksikan drama Ajeng-Naren sejak dua menit yang lalu. "Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" satpol pp itu sudah sampai di depan Ajeng dengan tampang garang, membuat Ajeng terkesiap dan segera melepaskan Naren. Wajahnya berubah pucat pasi. Demi Mas Bejo pake kolor ijo! Kenapa bisa ada anggota Satpol pp nyempil di sini sih? "Kalian berdua ikut saya ke kantor!" Dan Ajeng tahu, setelah ini, hidupnya yang sudah hancur bakal jadi semakin hancur. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN