Perempuan Penggoda

1148 Kata
“Suamiku, kamu membalas dendam kepadaku ya!” ujar Julie sambil mengejar Reynold yang terus berjalan sendirian. Reynold tidak menggubris panggilan Julie. Tentu saja bukan Julie kalau tidak memancing lelaki itu. “Aduh!” Julie mengaduh sambil memegangi pergelangan kakinya yang sengaja dia kaitkan kepada kursi yang khusus untuk penunggu pasien. Reynold pada awalnya tidak meghiraukan suara istrinya yang terus mengaduh. Namun, saat lelaki itu berhenti di depan pintu lift, istrinya belum kunjung menghampirinya. Dengan terpaksa dia kembali ke tempat arah suara Julie mengaduh tadi. Hanya saja dia tidak menemukan keberadaannya di sana. Ada salah satu perawat yang memperhatikan Reynold seperti kebingungan. “Tuan, ada yang bisa saya bantu?” sapa perawat itu sambil memegang arsip pasien. “Saya sedang mencari istri saya. Tadi saya dengan dia mengaduh di sini. Apa Anda melihatnya?” tanya Reynold. “Oh perempuan yang terjatuh, tadi sedang dibawa ke ruang tindakan karena kakinya mengalami lebam terbentur kursi,” jawab perawat tersebut sambil tersenyum. Reynold terkejut. Dia pikir istrinya sedang berbohong. Ternyata dia salah. “Bisa tolong tunjukkan di mana ruangannya?” tanyanya. Perawat itu menunjukkan ruangan tersebut. Setelahnya dia pergi meninggalkan Reynold. Sementara itu, Reynold mengikuti petunjuk arah dan menemukan sebuah pintu bertuliskan ruang perawatn dan Dokter. Ternyata yang diucapkan perawat itu memang benar. Dia melihat kaki Bella sudah dibalut oleh perban. “Bella,” panggil Reynold dengan wajah khawatir. Julie berpura-pura membuang muka. Dia ingin membuat Reynold menyesali perbuatannya. “Anda sudah boleh pulang,” ucap dokter itu. “Terima kasih,” ucap Julie sambil berjalan dengan tertatih. Netranya mendelik ke arah Reynold.tetapi tidak menegurnya sama sekali. “Bella!” panggil Reynold dengan penuh penekanan. Julie mengabaikan Reynold. Namun, kali ini lelaki itu langsung memegang bahunya erat. Lelaki itu merangkul istrinya kemudian berjalan bersama-sama. Reynold tidak bisa menggendong istrinya karena dia pun baru sembuh. “Untuk apa kamu datang setelah mengabaikanku begitu saja?” Julie tidak kalah ketus dari Reynold. “Sudah jangan bahas itu!” Reynold gengsi jika harus mengakui jika dirinya salah. Julie menarik sedikit garis bibirnya. Jebakannya ternyata berhasil. Setidaknya dia sudah berhasil membuat Reynold mencarinya. Melihat Julie yang sampai melukai tubuh Bella demi mendapatkan perhatian Reynold membuat Arwah Bella miris. Dia tidak pernah mau mengundang perhatian orang untuk dikasihani. Mobil jemputan Reynold sudah ada di depan pintu masuk. Brian mengendarai sendiri mobil tersebut. Lelaki itu ke luar dari mobil lalu membukakan pintu untuk bosnya. “Selamat siang Tuan,” sapa Brian. “Siang. Brian kamu harus sudah mengecek semua jadwalku?” tanya Reynold sambil meminta Bella masuk lebih dulu. “Sudah Tuan. Hari ini ada makan siang bersama Pemilik Butik La Rose. Dia ingin melihat contoh bahan yang lainnya. Nanti sore ada pertemuan dengan pemilik brand GLAD untuk membahas kerja sama pembuatan satu model pakaian untuk musim dingin,” jelas Brian. “Bagus,” ucap Reynold. Arwah Bella pun turut masuk, dia duduk di samping kursi pengemudi. Arwah Bella tidak boleh jauh dengan raganya. Dalam perjalanan, Julie terus menggoda Reynold. Dia mengusap kaki Suami Bella dengan telapak tangannya yang lembut. Reynold mulai tidak nyaman. Lelaki itu menepis tangan istrinya berharap untuk tidak memancingnya. Lelaki itu menarik rahang istrinya lalu berbisik, “Jangan kira aku akan diam saja ketika kamu terus memancingku seperti ini. Lihat saja nanti!” Arwah Bella enggan melihat Julie yang terus menggoda suaminya. Dia malu sendiri seakan melihat dirinya berubah menjadi agresif seperti itu. Sesampainya di depan restoran yang menjadi tempat janji temu dengan pemilik butik La Rose. Julie dan Reynold bertemu dengan Francesco De Rossi. Seorang pemilik butik brand terkenal yang cabangnya ada di berbagai negara. “Selamat siang Tuan Reynold. Bagaimana kabar Anda?” tanya Franc. “Selamat siang juga Tuan Francesco, Kabar saya baik. Bagaimana dengan Anda?” sapa balik Reynold. “Saya baik.” Francesco tersenyum. Netranya melihat perempuan di samping Reynold. “Maaf dia siapa?” tanyanya. “Oh perkenalkan dia istri saya, namanya Bella.” Reynold meminta Bella memperkenalkan diri. “Perkenalkan saya Bella Duncan,” ucap Julie sambil mengulurkan tangannya. Francesco mencium tangan Bella. Dia menyukai wanita cantik berambut coklat kemerahan itu. “Nama yang cantik, sesuai dengan wajahnya,” pujinya. “Terima kasih Tuan,” ucap Julie tersipu. Wujud yang terlihat memang raga Bella, tetapi jiwanya seorang nenek yang haus kasih sayang. Reynold sedikit kurang nyaman saat Francesco terus memandangi paras Bella. Mereka kemudian memulai pembicaraan tentang pemilihan bahan untuk koleksi La Rose saat musim dingin nanti. Lama pembicaraan berlangsung sambil menikmati makan siang. Selama proses diskusi pemilihan bahan, Julie bertingkah seperti menggoda Francesco. Perempuan itu menggerakkan jari telunjuknya dari pelipis turun ke leher lalu berhenti di dadanya. Francesco menarik sebelah garis bibirnya. Sebelah matanya memicing penuh menggoda. Sedangkan Julie membetulkan posisi duduknya dengan gaya yang terlihat menantang, memamerkan lehernya dan bongkahan kembar yang menantang. Francesco bahkan sampai menelan salivanya karena Bella terus menggoda imannya. Sementara Reynold sibuk menjelaskan detail bahan. Setelah mencapai kesepakatan, Reynold dan Francesco menanda tangani berkas yang sudah disiapkan oleh Brian. “Senang bekerja sama dengan Anda,” ucap Reynold. “Saya juga senang bekerja sama dengan Anda, Tuan Reynold,” pungkas Francesco sambil tersenyum puas. Untung saja Reynold tidak tahu jika sedari tadi Julie terus menggoda lelaki lain di depan matanya. Jika dia sampai tahu, rusak sudah kerja sama itu. “Sayang, aku lelah,” rengek Julie sambil bermanja dalam pelukan suaminya. “Baru satu, belum sepuluh, Bella. Kamu harus tahan,” ucap Reynold sambil mengusap rambut Bella dengan lembut. “Suamiku,” panggil Julie. “Iya,” jawab Reynold sambil fokus pada notebook yang ada di atas kakinya. “Lihat aku!” rengek Julie. Reynold menoleh dan Julie langsung menyambar bibir suaminya. Nenek tua itu terlihat seperti orang yang tidak bisa menyalurkan keinginannya. Dia haus akan belaian dan sentuhan. Reynold adalah sasaran yang paling tepat untuk menyalurkan hal itu. Julie melingkarkan tangannya ke leher Reynold, mengikatnya dengan erat. Semakin lama, pertautan bibir mereka semakin dalam dan menuntut. Mereka tidak peduli jika ada Brian yang bisa melihat dari balik spion. Suara rintihan manja terdengar ke telinga Brian. Lelaki itu hanya bisa menelan saliva dan tetap fokus mengendarai mobil. “Sudah ya,” ucap Reynold sambil menghentikan kegiatannya. Dia meminta istrinya untuk kembali duduk dan tidak menggodanya. “Iya, Suamiku Sayang,” ucap Julie sambil mengusap pipi Reynold. Julie segera mengambil kaca dan membetulkan riasannya yang sudah hancur karena warna lipstick yang sudah belepotan ke mana-mana. Dalam sekejap Julie kembali cantik. Maksudnya wajah Bella kembali cantik karena Julie sejatinya adalah seorang nenek-nenek. Mobil itu berhenti di depan sebuah gedung yang bernuansa modern. Di sana banyak contoh pakaian dengan berbagai model. Julie ingin sekali mencoba salah satu dari gaun tersebut. Reynold mengajak istrinya untuk ikut masuk ke Gedung GLAD. Mereka disambut oleh pemilik Gedung tersebut dengan ramah. Reynold agak berhati-hati dengan pemilik GLAD karena dia terkenal suka merayu para wanita. Benar saja dalam pertemuan itu, Netra pemilik GLAD langsung tertuju pada istrinya Reynold. Lelaki itu menggosok dagunya sambil menyeringai. “Mangsa Baru!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN