8. Balasan Untuk Ayah Jahat

1100 Kata
Kebetulan sekali kali ini arwah Bella tidak berkeliaran di dalam kamar Reynold. Tidak akan menyenangkan jika ada yang mengintip kegiatan mereka. Sementara itu, arwah Bella kini tengah ketakutan saat melihat Jason berdiri di depan pintu masuk. “Papa, jangan pukul aku!” ucap Bella sambil berjongkok di sudut ruang tamu. Jason tidak bisa melihat ataupun mendengar suara arwah Bella. Netranya hanya mengelilingi seantero rumah besar itu. Lelaki tua dengan alis yang selalu menukik membuat Bella selalu merasakan kengerian yang luar biasa. Lelaki hangat yang pernah menyayanginya sudah tidak ada lagi. Terdengar suara pintu terbuka. Jason sudah benar-benar kesal. Sudah seharusnya dia datang dan disambut oleh anak dan menantunya. Kini kejadiannya tidak sesuai harapan. Bella dan Reynold masih belum terlihat batang hidungnya. “Ke mana mereka semua?” gerutu Jason sambil berkacak pinggang. Lelaki itu menengadah dengan napas yang terdengar keras seperti banteng mengamuk. “Siapa yang Anda tunggu Papa mertua?” tanya Reynold yang sedang berjalan menghampiri Jason. Dia menggulung lengan kemeja putihnya. Terlihat satu kancing depan bajunya dibiarkan terbuka. Dia masih sedang bersiap-siap. “Ke mana saja kalian? Bukankah kalian baru pulang dari rumah sakit?” tanya Jason yang sudah mulai pegal karena tidak kunjung masuk. Reynold mengulum senyum. Lelaki itu kemudian melambaikan sedikit tangannya. Tidak lama kemudian Bella datang dan berjalan dengan congkak layaknya tuan rumah. “Istriku ... papa datang mengunjungimu. Ayo sambut dia,” pinta Reynold sambil merangkul bahu Bella dengan erat. Alis Jason semakin menukik tajam. Dia merasa penampilan Bella berubah sangat drastis. Berbeda dengan Bella yang dia kenal. Mata putrinya selalu tertunduk seolah tidak percaya diri. Cara berjalannya yang tidak pernah mendongak apalagi berlenggok bagaikan peragawati. “Halo Papaku tersayang. Apa kabarnya? Gimana Papa di rumah enggak ada aku? Semoga Papa tersiksa, ya. Amiin,” tutur Julie sambil tersenyum licik. Arwah Bella terbelalak ketika melihat Julie bersikap tidak sopan kepada ayahnya. Mana mungkin dia seberani ini. Bahkan lengan kekar dan kasar itu selalu mendarat di wajahnya yang kecil. “Bella? Ini kamu?” Mulut Jason terbuka. Dia tidak percaya dengan perubahan yang dialami oleh Bella. “Kenapa Papa? Merasa lain? Aku juga begitu. Aku seperti hidup kembali setelah bertahun-tahun hidup dalam neraka.” Julie menyeringai puas. Tatapannya tajam seolah tidak membiarkan Jason mengintimidasinya berulang kali. “Apa sopan santun kalian sudah hilang? Kenapa Papa tidak diizinkan masuk, hah?” geram Jason. Reynold tertawa sambil menghampiri mertuanya itu. Dia raih bahu Jason sambil mengajaknya duduk di sofa empuk tepat di samping arwah Bella berada. “Duduk dulu, Papa. Saya akan memanggil asisten rumah untuk menjamu Anda.” Reynold mengambil ponselnya lalu menghubungi Chris untuk menyiapkan minuman dan camilan. Retina Jason terus memperhatikan seantero rumah tersebut. Ukuran rumah Reynold tiga kali lebih besar dari miliknya. Senyum liciknya mengembang. Ini adalah saat yang tepat untuk Jason membujuk menantunya berinvestasi apda perusahaannya. “Gimana kabar kamu sekarang?” tanya Jason sambil menatap lurus putrinya. Julie tidak membalas tatapan ayahnya Bella. Dia hanya melihat kuku jarinya yang terlihat berkilau dan lentik. Rasanya tidak cukup dengan warna alami saja. Dia ingin kukunya dicat dengan warna cantik dan mencolok. “Istriku, kenapa kamu diam saja?” tanya Reynold berusaha untuk terlihat sebagai menantu yang baik. “Untuk apa aku menjawab pertanyaan bodoh seperti itu? Papa sudah lihat aku baik-baik saja. Jadi tidak usah menanyakan hal yang tidak perlu. Cepat saja katakan apa mau Papa ke sini? Mau peras suamiku?” sarkas Julie sambil melemparkan tatapan sinis. Jason tidak terima. Bella mengatakan hal itu di depan menantunya. Seolah dia tidak ada harga dirinya sama sekali. “Seenaknya saja kamu bicara kepada orang tua, hah!” Jason mengangkat tangannya. Dia begitu ingin menampar Bella yang dirasuki Julie. Dengan cepat Reynold menahan pergelangan tangan mertuanya. “Papa, jangan lakukan tindakan rendah seperti itu di rumah ini!” tegur Reynold dengan suara rendah tapi penuh penekanan. Jason menoleh kea rah Reynold. Dia pikir dengan menjadikannya menantu maka hidup Jason akan sempurna. Ternyata lelaki tua itu hanya mendapatkan kejutan menyenangkan. “Apa-apaan kamu, lepas!” tepis Jason penuh emosi. Julie tertawa sambil menengok kepada arwah Bella yang terlihat ketakutan. Mereka melakukan kontak batin kembali. “Bella, sekarang ayahmu sudah kubalas. Apa sekarang kamu mau kembali ke ragamu?” tanya Julie dalam batinnya. “Aku belum siap. Aku enggan melakukan ini. Rasanya aku tidak kuat. Aku lebih baik pergi ke alam berikutnya saja,” tolak Bella pasrah. Dia tidak mau berakhir dalam penderitaan. “Baiklah kalau begitu aku akan kembali ke dunia nyata,” pungkas Julie sambil tersenyum. Bella sendiri tidak merasa bahagia. Dia harus bertahan dalam sepi, menunggu ada jalan untuk pergi ke surga. “Tunggu dulu!” tahan Bella. Julie yang hendak pergi terpaksa kembali lagi. Raut wajahnya terlihat sedikit dingin. “Ada apa, cucuku?” tanyanya. “Kalau aku memilih pergi ke alam berikutnya, apakah ragaku akan ikut mati?” tanya Bella. “Tentu saja. Kita tidak boleh berjauhan. Kamu bisa mati jiwa dan raga kalau terpisah terlalu jauh. Ada banyak arwah gentayangan yang mengingkan tubuhmu,” terang Julie. Bella kembali murung. Dia memang menunggu jalan itu datang, hanya saja tidak pernah dia lihat sedikit pun jalan untuk ke alam berikutnya. Julie terlalu lama berkomunikasi dengan Bella. Sehingga raga Bella tiba-tiba terjatuh dengan mata yang terpejam. Sebuah kilatan cahaya kembali membuat Julie terpental. Arwah Bella tiba-tiba saja tertarik ke sebuah pusaran. Sedangkan Julie masih berada di dimensi kedua. Reynold merasa sangat aneh. Ini ketiga kalinya dalam sehari, Bella pingsan lalu sikapnya berubah. Kali ini dia tidak tahu, Bella akan seperti apa. “Bella, bangun,” panggil Reynold sambil mengguncang tubuhnya. Bella membuka matanya. Ruh Bella kembali masuk ke raganya. Perempuan itu tidak boleh menunjukkan perubahan sikap lagi karena Reynold bisa curiga. “Kepalaku pusing. Tolong antar aku ke kamar,” pinta Bella sambil bersandar di d**a suaminya. “Kenapa lagi denganmu? Apa kamu berobat dengan baik atau tidak?” tanya Jason sambil mendelik tajam kepada Reynold. “Tentu saja sudah. Aku tidak akan pernah membuat kelalaian seperti itu!” “Papa berisik sekali, Bella ingin istirahat!” tegur Bella kepada ayahnya. Reynold kembali merasa aneh. Namun, kali ini masih tidak terlalu berubah. Perempuan itu memilih memejamkan mata dari pada bertatapan langsung dengan ayah kandungnya. Di perjalanan menuju kamar, Reynold seperti menebak alasan Bella seperti ini. “Kalau kamu sudah membenci ayahmu sendiri, kenapa kamu tidak suruh dia cepat pulang? Merepotkan saja!” gerutu Reynold sambil membuka pintu. “Tadi ‘kan sudah kubilang Papa berisik. Jangan terlalu memperbesar masalah kecil!” balas Bella. Perempuan itu pura-pura kuat, padahal lututnya sangat lemas. Dia tidak tahu apa yang akan Reynold lakukan ketika dia merasa terhina oleh sikapnya. “Ini sangat aneh, Apa kamu benar-benar Bella?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN