Kuhela nafas berulang kali sebelum akhirnya kulanjutkan lagi langkah kakiku menuju ke arah Farhan dan Ainun. Sebisa mungkin kunetralkan gemuruh di dadaku dan berusaha untuk terlihat biasa saja. Aku tak mau tenggang waktu yang Ainun punya sebelum menjalani biopsi menjadi kacau dan menyedihkan. Biar saja aku pura-pura tak tahu tentang catatan menyedihkan yang Ainun buat, tapi yang pasti akan kulakukan apa saja agar Ainun bisa mewujudkan semua keinginannya itu. "Air mineralnya ada, Mas?" tanya Ainun saat menyadari aku telah berada tak jauh darinya. "Iya. Ini airnya." Aku menunjukkan botol air mineral yang kuambil tadi sembari mempercepat langkahku. Sesampainya di hadapan Ainun, Farhan langsung berhambur kearahku. "Ayah, mana minumnya?" tanya bocah itu. Aku tersenyum sambil membukakan tut

