Bab 8 :
Jatuh Cinta Padanya (2)
******
“LO YANG NAMANYA JOSH, ‘KAN?! SINI LO, IKUT SAMA GUE SEKARANG!! s****n LO!” teriak salah satu dari kakak kelas itu, seseorang yang berdiri paling depan. Dia adalah Gio, salah satu murid Kelas XII jurusan IPS di sekolah itu.
Mendengar teriakan itu, kontan saja mata Josh dan Alvin membulat. Seisi kelas pun langsung menoleh kepada Josh karena kaget sekaligus heran. Mereka semua memikirkan hal yang sama, yaitu: ‘Ada apaan, nih? Si Josh kenapa? Mampus, mana lawannya Kak Gio lagi!’
Sementara itu, dahi Josh berkerut. Bukan anak-anak kelas saja yang heran, dia pun heran bukan main! Mengapa dia tiba-tiba dicari?! Dia ada salah apa?! Rasanya dia tak pernah mencari masalah dengan orang!
Meskipun sangat heran (sampai kerutan di dahinya terlihat kentara), Josh pelan-pelan mulai berdiri. Melihat itu, Alvin jelas terperanjat—tubuhnya tegang—dan dia berkata, “W—Woy, Josh!”
Josh tidak menghiraukan Alvin dan mulai berjalan ke depan kelas. Alvin spontan mengumpat dan mengacak rambutnya dengan frustrasi. Ujung-ujungnya, Alvin jadi ikut berdiri dan langsung mengejar Josh. Mereka berdua pergi mendekati para kakak kelas itu.
Pada akhirnya, Josh dan Alvin berhadapan dengan mereka—kakak-kakak kelas itu—di koridor. Suasana langsung riuh; teman-teman sekelasnya jadi mengintip melalui jendela.
Alvin hanya bisa membatin, ‘s**l! Apaan, sih, ini?! Pagi-pagi udah mau ngajak ribut aja!’
Josh menatap Kak Gio dengan lekat. Rambut ikal Kak Gio terlihat berantakan pagi itu, mungkin karena sangat marah dan frustrasi.
“Sekarang lo jawab gue,” ujar Gio dengan tajam. Mata cowok itu memelototi Josh; dari nada suaranya, terlihat sekali bahwa dia sedang menahan emosinya. “Lo ada apa sama Kayla?”
Alvin lagi-lagi membatin, ‘Ha? Kayla siapa coba?’
“Kayla?” tanya Josh, alisnya menyatu. “Kayla mana?”
Tiba-tiba saja, Gio berteriak, “CEWEK GUE, b*****t!”
Josh, yang benar-benar tak paham, mulai menggeleng. “Maksudnya ap—”
Kata-kata Josh terputus karena Gio tiba-tiba meninjunya. Tinju itu mengenai pipi dan rahang Josh—bunyi debak-debuknya sangat keras—dan tak tanggung-tanggung, Josh sampai hampir tersungkur.
“WOY!” teriak Alvin kepada Gio, matanya langsung melebar melihat Josh ditinju begitu saja. “APA-APAAN, SIH, LO? CEWEK LO YANG MANA AJA DIA NGGAK KENAL!!”
Josh pelan-pelan berdiri tegak meskipun sempat oleng. Dia pun kembali menatap Gio, tetapi kali ini tatapannya begitu tajam. “Maaf, Kak, gue beneran nggak tau Kayla itu siapa.”
“BACOT LO, t*i!” teriak Gio lagi. “NGAPAIN CEWEK GUE TERUS-TERUSAN NGEBAHAS SOAL LO KALO KALIAN NGGAK SALING KENAL?!”
Josh lagi-lagi menyatukan alis; cowok itu lantas memiringkan kepalanya. “Ngebahas gue? Kak, gue nggak kenal sama cewek lo. Mungkin, Josh yang dia maksud itu bukan gue.”
“Nggak usah sok cool lo, b*****t!!!” bentak Gio. “Lo Josh Andriano, ‘kan? XI IPA 2, Josh Andriano. SIAPA LAGI KALO BUKAN LO, ANJING?!”
Mata Josh membulat. Hah? Ini sebenarnya omong kosong macam apa, sih? Mengapa dia tiba-tiba dituduh begini? Ini tak masuk akal!
“Dia bilang, dia ketemu sama lo pas hang out bareng temennya di TIM. Lo motoin mereka, ‘kan? Dia mutusin gue gara-gara dia suka sama lo sejak saat itu, b*****t!! NGAPAIN LO GODAIN CEWEK ORANG, HAH?!”
Sebentar. TIM?
Mata Josh dan Alvin sama-sama melebar; mereka baru ingat sesuatu. Beberapa hari yang lalu, mereka memang jalan-jalan ke TIM dan kebetulan bertemu dengan gengnya Kak Tyas, kenalan Alvin. Karena kebetulan bertemu di sana, mereka pun ngobrol-ngobrol sebentar, lalu foto bersama. Mereka tidak sampai berkenalan dengan semua temannya Kak Tyas karena ngobrolnya tidak terlalu lama juga.
Jangan-jangan…Kayla adalah…salah satu temannya Kak Tyas waktu itu?
Ah, s**l. Mengapa jadi begini, sih? Itu, kan, cuma kebetulan yang tidak berarti! Mengapa mendadak jadi menimbulkan masalah yang besar begini?! Apakah Josh waktu itu pernah memperlakukan seseorang dari geng Kak Tyas dengan istimewa? Rasanya tidak, deh!
Josh pun mencoba untuk berbicara dengan kepala dingin. Dia mulai menghadapi Gio dengan lebih serius; dia sudah mengerti situasinya. “Kak, tolong tenang dulu. Oke, gue dan Alvin waktu itu emang jalan ke TIM dan kita ketemu gengnya Kak Tyas. Tapi kita nggak kepikiran buat kenalan ke semua temennya Kak Tyas karena ketemunya juga nggak lama. Kita cuma sempet foto bareng. Udah, gitu aja. Makanya, gue bahkan nggak tau yang mana yang namanya Kayla. Gue nggak ada nggodain mereka sama sekali.”
Alvin mulai emosi. “Kalo didenger-denger, kayaknya cewek lo sendiri yang tiba-tiba suka sama Josh, Kak. Kok lo malah marahin Josh?! Sana yang naksir kok sini yang dimarahin.”
“DIEM LO! JADI, LO NUDUH CEWEK GUE?! GUE YAKIN PASTI LO YANG NGGODAIN DIA! MATI LO, s****n!” bentak Gio; cowok itu langsung berjalan cepat mendekati Josh. Teman-temannya juga ikut mendekati Josh dan Alvin, langsung bersiap untuk mengeroyok dua orang itu habis-habisan. Teriakan mereka menggema di koridor itu, pukulan nyaris saja dilayangkan, tetapi tiba-tiba saja…
…ada seorang cewek yang berteriak kencang. Sangat kencang.
“BERHENTI!!!!!!”
Semua orang yang ada di koridor itu spontan menoleh ke asal suara. Ke ambang pintu kelas.
Betapa terkejutnya Josh ketika melihat bahwa cewek yang sedang berteriak itu adalah…
…Windy.
Mata Josh melebar sempurna. Dilihatnya Windy yang langsung bergerak menengahi perkelahian itu; Windy berjalan ke tengah-tengah—di antara Josh dan Gio—lalu menghadap ke arah Gio seraya merentangkan tangannya. Dia mengadang Gio (beserta teman-temannya) agar tidak mengeroyok Josh dan Alvin.
Windy memelototi Gio seraya berteriak, “KALIAN SEMUA NGGAK PUNYA OTAK, YA?! INI DI KORIDOR!! BENTAR LAGI BEL JUGA BAKAL BUNYI!! KALO DIPERGOKIN GURU, GIMANA?! DILIAT-LIAT JUGA KAYAKNYA KAKAK-KAKAK INI CUMA ASAL NUDUH DOANG! KALIAN INI b**o ATAU GIMANA, SIH?!”
Josh tercengang. Cowok itu menatap Windy dengan kagum. Sungguh, dia tak menyangka bahwa Windy akan ikut campur untuk membelanya.
Iya, benar.
Windy, gadis yang dia cintai, kini tengah berdiri di depannya untuk melindunginya.
Alhasil, dia langsung menganggap bahwa Windy adalah malaikat penyelamatnya. Bidadari yang turun dari surga hanya untuknya.
Dunia Josh Andriano seakan-akan terhenti. Degupan jantungnya pun…terasa begitu kencang.
Ah. Dia semakin jatuh cinta…
“Jangan ikut campur lo.” Gio memperingati Windy seraya menunjuk wajah cewek itu dengan jari telunjuknya. “Cewek kayak lo gampang aja gue habisin sekarang.”
“JAGA OMONGAN LO!!!” teriak Josh, dia langsung marah ketika mendengar Gio berbicara seperti itu kepada Windy. Kalau saja Alvin tidak menghentikannya, mungkin Josh sudah maju ke depan dan memukul wajah Gio. Hal itu akan memicu kekacauan yang besar, tentunya.
Namun, Windy agaknya tak takut sama sekali.
“Gue nggak ikut campur,” jawab Windy. “Gue wakil ketua kelas. Ketua kelas kami nggak dateng hari ini. Gue nggak bisa ngebiarin ini gitu aja. Pergi sekarang atau gue teriak kenceng-kenceng biar Bu Guru cepet dateng!!!”
“DIEM—”
“NAH!!! Panjang umur!! Ada guru yang dateng!!!” teriak Windy tiba-tiba, membuat Gio dan teman-temannya kontan membulatkan mata mereka. Windy pun berjinjit, melihat guru yang ada di depan sana (di belakang kakak-kakak kelas itu), dan lanjut berteriak, “BU!! INI, BU!!! ADA YANG MAU NGE-BULLY ANAK KELAS KAMI!! ADA YANG MAU NGEROYOK ANAK KELAS KAMI!!!!”
Semua orang jelas langsung membalikkan badan, melihat sang guru yang Windy maksud. Mereka semua pun melihat Bu Endang, guru yang paling killer di sekolah, sedang menuju ke arah mereka semua dengan mata yang memelotot. Bu Endang berjalan dengan sangat cepat; dia membawa sebuah penggaris kayu panjang. Jujur saja, dia terlihat seperti seekor banteng besar yang sedang mengamuk.
“HOI!!! NGAPAIN KALIAN BIKIN RIBUT DI SEKOLAH PAGI-PAGI GINI, HAH?! MASUK KE KELAS SEKARANG ATAU IBU SURUH KALIAN SEMUA BERDIRI DI LAPANGAN!! MASUK!!!”
Teriakan Bu Endang—yang berbadan gemuk dan berkacamata itu—hampir saja memecahkan gendang telinga mereka semua. Alvin sampai refleks menutup telinganya. Sementara itu, Gio dan teman-temannya langsung berlari terbirit-b***t meninggalkan koridor itu karena Bu Endang sudah bersiap untuk memukul mereka satu per satu. Namun, sebelum Gio berlari, cowok itu sempat memelototi Josh, lalu berkata dengan tajam, “Lo tunggu, ya. Masalah kita belum selesai!”
Akhirnya, semua kakak kelas itu berlari kencang demi menghindari Bu Endang meskipun beberapa dari mereka masih sempat terkena pukulan Bu Endang di bagian betis mereka. Mereka betul-betul dihajar habis-habisan!
Di sisi lain, setelah melihat semua kekacauan itu, Josh pun mulai menatap Windy yang tengah membelakanginya. Beruntungnya, Windy juga…berbalik untuk menghadap ke arah Josh.
Windy tersenyum manis kepada Josh. Kedua mata cewek itu nyaris tertutup seakan-akan ikut tersenyum. Di pagi Senin yang cerah itu, dengan indahnya…Windy berdiri di depan Josh, bertatapan dengan Josh, lalu tersenyum kepada Josh.
Hanya untuk Josh.
Mata Josh melebar.
Waktu seolah-olah terhenti. Rasanya seperti berada di dalam mimpi yang begitu indah. Seperti memandang sesuatu yang sangat ia kagumi. Sesuatu yang membuatnya benar-benar jatuh cinta.
Dia semakin merasakan getaran itu.
Seolah-olah…ada banyak simbol hati berwarna pink yang beterbangan di udara. Ah, rasanya, Josh bahagia sekali.
Ditambah lagi, pada suasana yang mendebarkan itu, Windy tiba-tiba berkata, “Yuk, masuk ke kelas. Lain kali, hindarin aja Kak Gio itu.”
Setelah mengatakan itu, Windy pun berjalan masuk ke kelas. Meninggalkan Josh yang tengah tercengang di koridor; mata Josh melebar, mulut Josh sedikit terbuka, dan tubuh Josh mematung di tempat. Josh hanya bisa mengangguk dengan kaku sambil memperhatikan Windy yang masuk ke kelas.
Alvin memperhatikan semua kejadian itu. Alvin pun menghela napas, lalu menepuk pundah Josh dan berkata, “Yok. Jangan berdiri di sini.”
Akhirnya, Josh pun menoleh kepada Alvin dan kembali mengangguk meskipun ‘kesadarannya’ masih belum benar-benar terkumpul. Alvin merangkulnya masuk ke kelas, tetapi pikiran Josh saat itu mulai melayang ke mana-mana.
Ah, gue suka. Gue suka dia.
Gue suka banget…sama Windy Alisha.
******
Josh meletakkan kembali ponsel itu di dalam sakunya. Dia pun berdiri, lalu meletakkan kursi—yang tadi dia duduki—itu kembali ke tempatnya. Merasa hatinya sudah tenang, Josh pun berjalan ke luar. Namun, sebelum mencapai pintu studionya, Josh sempat melihat foto Windy sekali lagi.
Memperhatikan Windy di sana…yang seakan-akan tengah tersenyum kepadanya.
Josh pun ikut tersenyum. Rasa cinta yang tertanam di hatinya sukses membuatnya lega. Sukses membuat seluruh kegelisahannya hilang begitu saja.
Josh akhirnya mulai berjalan kembali. Setelah sampai di luar, dia lantas menutup pintu studio yang ada di belakangnya.
Win, aku sayang banget sama kamu. Aku rasa, aku nggak bakal bisa jatuh cinta sama orang lain selain kamu. Kamu adalah hidupku, Win. []