Bab 45

1749 Kata

Bab 45 Laksa Akhir-akhir ini istriku banyak berubah. Semakin banyak pendar cinta dari sepasang matanya. Namun, anehnya, seringkali dia mendiamkanku tanpa sebab. Semua itu mengingatkanku pada almarhumah Keysa ketika sedang berbadan dua. Suasana hati Keysa pun naik turun, seperti Humairaku sekarang. Hanya saja, aku tak berani untuk mengatakan kecurigaanku itu. Takutnya dia malah tersinggung dan merasa diburu-buru untuk mendapat momongan. “Mas, laporan bulananya sudah aku susun, ya.” Nindi mengangsurkan berkas yang tadi kuminta. “Makasih, Nindi.” “Sama-sama, Mas.” “Tadi ada siapa? Kayaknya kamu pergi ke luar, ya?” tanyaku. Ingat sekali ketika Topan mencari-cari Nindi tadi. “Oh, tadi … ketemu Mbak Vio, Mas.” “Oh, oke.” Nindi pun berlalu dari ruanganku, menyisakan aku dan Topan yang t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN