Bab 48

1308 Kata

Bab 48 Aku memilih menghabiskan hari pertamaku di dalam kamar, tak keluar sama sekali. Untuk makan pun aku membeli dari pedagang yang lewat di depan indekos. Menjauh dari Mas Laksa, kukira bisa membuat hatiku yang berkecamuk menjadi tenang. Namun, justru semakin semrawut dan berantakan. Terlebih, kini ponselku hilang. Aku tak bisa berkomunikasi dengan siapa pun. Pikiranku semakin kacau karena takut Mas Laksa mencariku ke tempat Ibu dan nantinya Ibu jadi khawatir. Bagaimana jika nanti Ibu sakit karena terus memikirkanku? Belum lagi beban memikirkan Mbak Rahma. Aku menangis sesenggukan di dalam kamar. Makanan yang kubeli pun tak tersentuh, tak ada selera. Sialnya lagi, walaupun pikiran ini sepenuhnya membenci Mas Laksa, tetapi hati kecilku merindukannya. “Mas … kenapa harus seperti ini?”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN