Bab 50 Suara obrolan, bau yang tak asing dan genggaman hangat yang kurasakan pada akhirnya membuat kegelapan ini perlahan sirna. Aku membuka mata perlahan. Kepalaku masih terasa sangat berat. “Alhamdulilah. Akhirnya, kamu sadar juga, Sayang.” Suara itu, aku sudah tahu siapa pemiliknya. Hanya saja, memang pandanganku masih kabur dan masih menyesuaikan, hingga senyuman hangat dan tatapan teduh itu terlihat jelas. Dia menatapku dengan lekat. “Nanti Bapak bantu suapi pasien, ya, Pak. Kami tinggal dulu.” Suara seorang perempuan mengalihkan tatapanku. Seorang suster berdiri sambil memegang botol minyak kayu putih. “Baik, Sus. Terima kasih.” Suster itu pun pergi, meninggalkanku dengan dia, hanya berdua di ruangan ini. Dia mengambil gelas berisi air hangat lalu membantuku minum. Setelahnya,

