Bab 52 Laksa Kukecup keningnya lama. Perempuan yang namanya kini mulai memenuhi relung hati itu kubaringkan di atas tempat tidur. Wajahnya tampak begitu menggemaskan. “Jangan banyak gerak, ya, Sayang? Kalau butuh apa-apa bisa minta tolong sama Mas.” Bukannya menjawab, sepasang bola bening itu hanya menatapnku sembari berkedip-kedip. Ada senyuman terkulum pada bibir merahnya yang tampak ranum. Kalau sudah begini, rasanya dunia ingin kuperintahkan saja untuk berhenti berputar. Perlahan, aku menunduk, memangkas jarak untuk menyentuh bibir ranumnya. Dia tak menolak, sepasang mata itu berubah menjadi teduh. Amarah dan rasa benci sepertinya sudah berlari. Bahkan, tangannya perlahan mengalung pada leherku. Krieeet! Derit daun pintu membuat aktivitas kami berhenti begitu saja. Bersamaan deng

