Bab 54 Pembaca Sembilan bulan kemudian. Sosok yang bertubuh ringkih nan kurus itu menatap dengan air mengembun. Dia tak berani menghampiri kerumunan yang ada di sebuah rumah yang baru saja selesai direnovasi. Dia lebih memilih untuk duduk di tepi jalan dengan sebagian wajah yang tertutup kerudung. Dia pun berpura-pura memunguti botol minuman bekas, supaya tak dicurigai. Segerombolan ibu melewatinya sambil membawa bingkisan dengan wajah semringah. Mereka sibuk mengobrol sambil tertawa. “Gak nyangka, ya, nasib Rara mujur banget? Dulu, kita kira, kalaupun ada yang mau sama dia, paling juga duda tua yang istrinya udah meninggal. Eh, malah dapet duda kaya yang tajir melintir dan tampannya gak ketulungan.” “Iya, bener. Bikin iri aja, ya? Ini bingkisannya juga pasti mahal ini harganya. Udah
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


