Bab 13

1125 Kata
“Kenapa aku harus menangis di balik bantal?” kata Seva dengan tatapan mengejek. “Ah, dasar ...tadi kan kamu nangis!” Kenzie melipat kedua tangannya di d**a kesal. “Kenapa kamu harus peduli, ini masalahku,”sahut Seva,”bukan berarti karena kamu cucunya pemilik perusahaan ya, lantas kamu bisa mencampuri urusan pribadi karyawannya.” “Tapi, ini kan beda. Urusannya berbeda. Aku di sini sekarang adalah dalam rangka pendekatan,”kata Kenzie sambil memainkan alisnya. “Usia kamu berapa?” “Dua puluh enam,”balas Kenzie dengan senyuman lebar, ia cukup bangga dengan usia yang menurutnya sudah dewasa itu. “Oh...” Seva cukup kaget. Ia tahu Kenzie pasti masih cukup muda, ternyata perkiraannya memang benar. Yang tidak sangka adalah Kenzie berani mendekatinya. Bel pintu berbunyi, Seva terkejut, siapa yang datang malam-malam begini, pikirnya. Ia pun melangkah ke jendela, mengintip siapa yang datang.”Zayn?” Seva langsung menoleh ke arah Kenzie. Pria itu sedang asyik mengupil. Ia segera menarik Kenzie,”sembunyi di kamarku!” “Kenapa harus sembunyi?”tanya Kenzie bingung. “Mantan suamiku datang! Cepat masuk kamarku dan jangan bersuara!”kata Seva dengan penekanan. Kenzie mengangguk seperti anak kecil yang patuh,”iya...” Pria itu duduk di sisi tempat tidur dengan tenang. Seva menutup pintu kamar, jantungnya berdebar keras karena Zayn mengunjungi rumahnya. Ia membuka pintu depan.”Hai...” “Hai,”kata Zayn datar.”Boleh masuk?” “Silakan,”kata Seva, kali ini ia tidak menutup pintu lagi. Zayn duduk di ruang tamu, kemudian menatap ke sekeliling rumah.”Baru ada tamu ya?” “Ah nggak kok,”balas Seva.”Ada apa hujan-hujanan begini datang?” “Kamu masih belum jujur sama orangtua kau soal perceraian kita ya?” Zayn melirik tajam. Seva menggeleng,”belum.” “Mau kamu apa sih, Seva? Kita ini bukan suami istri lagi, aku juga sudah ada istri baru. Kamu harus menghargai perasaannya.” Seva tertunduk sambil meremas tangannya.”Maaf...apa Mama telepon kamu?” “Ya. Dan istriku yang angkat. Gara-gara itu kami bertengkar. Tolong, Seva...jangan menjadikan ini sebagai alasan agar kita masih bisa berkomunikasi selayaknya suami istri. Keluarga kamu harus tahu kalau kita sudah setahun bercerai. Keluargaku sudah cukup baik menerima syarat anehmu itu dengan tetap bersikap baik pada keluargamu. Sekarang kita bukan siapa-siapa lagi, kami tidak bisa terus berpura-pura. Kamu harus jujur pada mereka!” kata Zayn dengan marah. “Aku bakalan bilang nanti,”kata Seva. Ia memang tidak pernah berani bicara soal perceraiannya dengan Zayn. Orangtuanya tidak suka dengan perceraian. Dulu sewaktu akan bercerai, ia sempat menyinggung masalah itu di telepon. Tapi, mereka menolak keras. Apa pun yang terjadi, Seva harus bisa bertahan. Seva tidak ingin memberi tahu masalah pelik yang sedang menimpa mereka. Ini adalah kesalahannya, memilih lelaki yang tidak tepat. Maka ia yang harus menanggung segala resikonya sendiri. “Kalau sampai minggu depan kamu nggak ngomong sama orangtua kamu, aku yang bakalan ngomong.” Zayn berdiri, lalu pergi begitu saja. Seva memejamkan mata, menahan air mata yang sedari tadi ingin tumpah. Satu tahun, ia menahan segala rasa sendirian. Enam bulan yang lalu ia pulang ke Jakarta, libur lebaran. Tentunya Zayn tidak ikut karena mereka sudah bercerai. Tapi, Seva beralasan kalau Zayn hanya dapat cuti sebentar, tidak bisa ikut. Begitu pandai Seva menutupi semuanya, entah untuk apa, tapi ia tetap melakukannya. Kenzie membuka pintu, sudah cukup lama ia mendekam di dalam kamar Seva tetapi wanita itu tidak kunjung muncul. Ia melongo keluar, dilihatnya Seva duduk di ruang tamu.”Seva...” Langkah Kenzie terhenti karena ternyata Seva tertidur di sana. Kenzie tersenyum tipis, ia memindahkan Seva ke dalam kamar, menyelimuti wanita itu dengan perlahan. Kenzie meninggalkan pesan di secarik kertas yang ia letakkan di atas nakas. Setelah itu ia pulang. Ada dua kunci yang tersangkut di lubang pintu. Ia mengambil satu, meletakkannya ke atas meja, setelah itu yang satunya ia bawa dan ia mengunci pintu dari luar. Hujan sudah reda, pria itu mengambil payung dan berjalan ke mobil. Pikirannya melayang pada pria yang datang ke rumah Seva barusan. Tadi, ia mengintip dan mendengarkan pembicaraan mereka. Ternyata mantan suami Seva adalah Zayn, Kepala Divisi GA di kantornya. Pria itu mengarahkan mobilnya kembali ke hotel. Kenzie memencet bel kamarnya karena di dalam ada Devan. Devan membuka pintu, Kenzie masuk saja tanpa berkata apa-apa. “Mas, Mbak Kenni tadi mencari Mas,”kata Devan.”Mas nggak bawa handphone ya?” Kenzie mengangguk saja, ia langsung berbaring dengan wajah sendu. “Apa ada yang menyakiti Mas Kenzie?”tanya Devan hati-hati. “Ada, Mas,”jawab Kenzie sembari memegang hatinya. Devan tertegun, ia menunduk dengan perasaan bersalah. Seharusnya ia tidak membiarkan Kenzie pergi sendiri.”Maafkan saya, Mas, harusnya saya atau Alvin memaksa ikut Mas tadi. Apa yang terluka, mas?” “Yang terluka di sini,”tunjuk Kenzie lemah. Devan melihat ke arah yang ditunjuk, lalu mengingkap kaus Kenzie. Pria itu menyentuh permukaan kulit untuk melihat lukanya.”Tapi, nggak ada luka, Mas. Apa luka di dalam, ya?” “Hooh!” “Wah, kalau begitu kita ke rumah sakit, ya, Mas. Takutnya kenapa-kenapa.” “Memangnya rumah sakit bisa mengobati hati yang terluka karena kecewa, ya?” Devan terperangah, kemudian ia mendengkus.”Ada, Mas. Rumah sakit jiwa.”Dengan kesal ia meninggalkan Kenzie dan khayalannya.   **   Pagi-pagi sekali Seva terbangun. Beberapa detik ia mencoba menyesuaikan diri, lalu ingatannya kembali pada kejadian semalam. Kenzie datang, lalu ia sembunyikan di kamar saat Zayn datang, lalu ia tidak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya. Seva bangkit, melihat ke sekelilingnya. Terakhir kali ia ingat, ia duduk di ruang tamu sambil menangis. Sepertinya ia ketiduran. “Kenzie?” Seva melihat ke tubuhnya, mungkin saja Kenzie mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi, ia masih berpakaian lengkap. Ia melirik ke atas nakas untuk minum air mineral botol yang selalu ia sediakan di sana. Sudah habis setengah, sepertinya Kenzie yang minum. Lalu ia menangkap bayangan secarik kertas dengan tulisan seperti cakar ayam. “Aku pulang. Kunci rumahmu kubawa satu. Kunci sisanya ada di atas meja.” Seva tertawa geli membaca deretan kalimat dari orang yang sepertinya sedang ngambek karena sesang bertamu ditinggal tidur. Wanita itu meletakkan kertasnya kembali di atas nakas, lalu pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Usai melegakan tenggorokannya, Seva segera mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor. Saat sedang melewati pintu pemeriksaan, beberapa karyawan muda tampak berbisik-bisik bahkan memekik histeris. Seva merapikan tasnya sambil melihat ke arah mereka. “Itu siapa, ganteng bener!” “Pasti karyawan baru, masih segar dan muda.” “Aku siap jadi pacarnya...” Seva menggeleng-gelengkan kepalanya. Saat masih muda seperti mereka memanglah sangat menyenangkan. Memulai kehidupan baru dalam pekerjaan dan percintaan. “Sudah baca pesanku?”tanya Kenzie yang tiba-tiba sudah berada dalam lift yang baru saja naik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN