Musim salju benar-benar di penghujung musim, mungkin tunas-tunas baru mulai tumbuh. Sinar matahari di pagi hari memberi awal hari yang hangat. Para peladang mulai bersiap bercocok tanam. Para nelayan mulai menyiapkan perahu-perahu mereka. Tetapi aku tidak bisa melihat semua itu.
Kamar ini mungkin akan menjadi tempat peristirahatan terakhirku, sebelum ibu membunuhku secara perlahan. Aku bertanya-tanya, mengapa ibu tidak melakukannya sesaat setelah ayah meninggal. Aku pewaris utama, pemilik seluruh aset Madamoissale yang jumlahnya tidak terkira. Mengapa ibu malah bertahan menjadi waliku, apa ia hendak membiarkanku menikmati kekayaan itu setelah aku beranjak dua puluh satu tahun, sesuai yang ditulis di dalam wasiat. Kurasa ibu bukanlah orang yang seperti itu.
Lalu mengapa?
Seseorang mengetuk pintu beberapa kali namun kemudian masuk tanpa menunggu jawabanku. Redrick dengan seorang pelayan wanita yang belum pernah kulihat sebelumnya, masuk dengan nampan di tangan wanita itu. Aroma makanan segera menyeruak, aroma sup labu membuat perutku bergejolak.
“Letakkan makanan itu disana.” Redrick menunjuk nakas, pelayan itu meletakkan makanan di tempat yang ditunjuk Redrick. “Keluar,” perintah Redrick. Wanita itu menurut tanpa mengeluarkan suara.
Sesaat mataku bertumbukan dengan mata pelayan itu. Tatapannya seperti sedang menilai, tidak percaya dengan apapun yang ada di pikirannya namun kemudian ada kilatan aneh yang tidak bisa kuartikan maknanya. Wanita itu pergi dengan meninggalkan rasa penasaran di hatiku.
“Nona, bangun dan makanlah sup labu kesukaanmu. Aku sendiri yang membuatnya untukmu.” Redrick membantuku bangun.
Tubuhku terasa berat dan sangat lemah hingga Redrick menumpuk bantal sebelum kugunakan sebagai sandaran. Teringat dengan ayah, apakah seperti ini yang dirasakan ayah dulu. Saat tubuhnya melemah dan harus dilayani setiap saat.
“Terima kasih.”
Redrick tersenyum, dengan telaten ia menyuapiku. Sup labu yang hangat dan lembut, memanjakan lidah dan mengisi perutku yang kosong. Air mata luruh begitu saja, entah mengapa baru kusadari jika Redrick sudah terlihat lebih tua. Kerut-kerut di wajahnya terlihat lebih jelas, rasanya kerutan itu belum terlihat jelas kemarin.
“Redrick, aku ingin kau pergi dari tempat ini. Aku ingin kau habiskan masa tuamu di luar sana yang lebih aman.”
Redrick tersenyum, sekali lagi ia memasukkan sesendok sup labu ke mulutku. Keintiman ini begitu mengharukan, rasanya seperti kembali ke masa kanak-kanak dulu, saat Redrick begitu memanjakanku dan seringkali menyuapiku makanan yang ia buat sendiri di paviliun.
“Aku merindukan masa-masa itu. Rasanya seperti dulu, saat aku mengganggumu makan.” Aku mulai terisak, air mataku meleleh seperti aliran anak sungai.
Redrick kembali tersenyum, kali ini sepasang mata tuanya berkaca-kaca. Aku menghabiskan sisa sup labu dalam diam. Suara tumbukan sendok dengan mangkuk keramik memecahkan keheningan sampai tiba-tiba suara pintu didorong membuat mata kami melihat seseorang yang sangat kubenci masuk.
“Redrick, keluar!”
Redrick menatapku lekat, ada seribu kata tersirat dari tatapannya. Terlihat sekali, Redrick tidak ingin meninggalkanku. Namun aku tahu, jika Redrick tetap bertahan, ibu takkan segan-segan menggelindingkan kepalanya seperti Dolores.
“Pergilah, Redrick. Pergilah.” Aku menahan air mata, rasanya sangat berat berpisah dengan Redrick. Perasaanku mengatakan, tak lama lagi, aku dan Redrick akan berpisah. Aku berharap perpisahan itu adalah perpisahan yang membahagiakan bagi Redrick. Aku tidak bisa lagi melihat orang yang kusayangi mati mengenaskan. “Pergilah Redrick. Pergilah.” Aku mendorongnya lembut dengan kepala tertunduk dan suara isak tangis tidak lagi bisa kutahan.
Redrick bangkit lalu berjalan keluar dengan langkah perlahan dan begitu lemah, tubuhnya bergetar hebat, aku yakin rasa sakit hati yang begitu perih juga sedang ia rasakan.
Ibu mendekatiku dengan langkah tegas, rahang mengeras dan dua tangan terlipat di d**a. Aku bisa merasakan senyum kesenangan yang bahkan tidak tampak di wajahnya. Aku akui, ibu memenangkan pertarungan ini. Tetapi alasan itu masih harus kucari jawabannya.
“Mengapa ibu tidak membunuhku?” Aku menatap ibu, jijik dan penuh kemarahan. “Katakan padaku. Mengapa ibu tidak membunuhku? Seperti ibu membunuh ayahku, Bibi Dorothy dan Dolores.”
Ibu mendecak, ia mondar-mondir di sekitar ranjang. Aku benci kebisuan ini. Entah apa yang sedang di pikirannya sekarang, tetapi aku yakin itu bukan hal baik.
“Aku ingin menjawabnya, tetapi tidak sekarang. Kau harus tetap hidup di tempat ini, sampai aku memutuskan kematianmu.” Ibu menyondongkan badan, wajahnya hanya beberapa centi di depanku. Iris matanya coklat gelap namun sekilas aku bisa melihat sinar sehijau zamrud disana.
Terkejut, aku mengedipkan mata. Hal seperti itu tidak mungkin terjadi, tetapi itu mengingatkanku pada iris mataku sendiri. Jangan-jangan ada yang salah dengan penglihatanku.
“Apa yang kau pikirkan? … apapun itu, tidak penting.” Ibu bertanya namun dijawabnya sendiri dengan sikap angkuh.
“Apa yang kau tunggu dariku? Apa yang kau cari dariku? Apa yang … ingin kau dapatkan dariku?” Rentetan pertanyaan itu membuat mata ibu membulat namun kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
“Sebentar lagi, kau tahu jawabannya. Tunggu saja.” Ibu pergi dengan langkah tegas. Dengan sihirnya ia membuka dan menutup pintu. Sepertinya sekarang ia menunjukkan kekuatan tanpa keraguan, itu bukan hal yang mengagetkan lagi.
Aku kembali berbaring telentang, memandang langit-langit kamar tanpa sesuatu yang menari-nari di kepala. Sesaat segalanya terasa hening, membeku seolah salju masih membungkus seluruh Westville.
Tidak, ini salah. Aku harus berjuang, demi pelayan-pelayan, demi orang-orang yang sudah setia dengan keluarga Madamoissale. Tidak peduli jika kematian menjemputku. Tidak peduli apakah nanti kepalaku menggelinding seperti bola, aku harus tetap berjuang.
Semangat itu mengobarkan keberanianku, membangkitkan tubuhku yang lemah setelah berhari-hari hanya digunakan untuk berbaring. Gloudes masih berdiri di luar jendela. Makhluk apapun itu sudah jelas tidak perlu makan atau ke kamar mandi. Makhluk itu ada disana sepanjang waktu. Tidak ada pergantian jaga seperti yang dilakukan manusia pada umumnya.
Aku harus keluar dari tempat ini hidup-hidup. Tapi bagaimana caranya? Dipikirkan sampai sakit kepala pun, aku tidak menemukan jalannya. Aku menatap jendela untuk waktu yang sangat lama. Gloudes berdiri kaku seperti patung, hanya jubahnya yang bergerak-gerak tertiup angin. Meski gemetar, aku harus memeriksa apakah ada celah untuk keluar. Ini mungkin bodoh, tetapi layak dicoba.
Gloudes memandangku dengan lubang mata berisi bola api yang menyala seterang sinar mentari. Tangan yang menggenggam gagang pintu bergetar hebat, sejalan dengan nyaliku yang menciut sekecil hewan terkecil di dunia ini. Ini tidak akan berhasil. Jalan satu-satunya adalah keluar melalui pintu, namun itu bisa membunuh Redrick dan semua pelayan Madamoissale yang tersisa.
Tidak ada jalan keluar. Aku harus bagaimana. Dengan kesal aku memutar badan dan kembali berbaring di atas ranjang. Ini jalan buntu, apakah ini artinya aku hanya bisa menunggu waktu hingga ibu benar-benar membunuhku.
Suara hantaman keras membangunkanku, belum begitu sadar dengan apa yang terjadi. Redrick menarik tanganku dan menarikku berlari keluar kamar dan menuruni anak tangga.
“Rerdrick. Apa yang sedang kau lakukan?” Aku menarik tanganku dari genggamannya. Aku berhenti di dekat tangga di lantai dasar.
“Tidak ada waktu lagi. Nona harus pergi dari sini.” Redrick kembali menggenggam tanganku namun aku menepisnya. Tatapan tajamku cukup untuk membuatnya menghela napas berat.
“Anda harus pergi dari sini. Nyonya Esperanza tidak boleh berhasil mendapatkan apapun dari anda. Sudah jelas ia menginginkan sesuatu dari anda. Jika ia penyihir, saya rasa ia menginginkan jiwa anda. Mungkin untuk membuatnya kembali muda.”
Penjelasan itu terdengar seperti lelucon, hanya saja Redrick mengungkapkannya dengan sangat serius. Seberapa pun seringnya hal-hal di luar nalar kudengar, tetap saja hal ini sulit kuterima.
“Jangan sia-siakan nyawa wolfy. Nona harus pergi dari sini. Ke rumah Mr. Max dan minta bantuannya. Saya yakin beliau akan menolong anda.”
“Apa kau bilang wolfy?”
Suara keras tadi berasal dari perlawanan wolfy kepada Gloudes untuk membuat makhluk itu sibuk. Wolfy, serigala peliharaanku yang setia sedang menyerahkan nyawanya untuk menyelamatkanku. Kini Redrick sedang mengadu nyawanya untukku.
“Tidak, aku tidak bisa.” Tidak perlu ada pertumpahan darah lagi yang disebabkan olehku.
“Nona, anda tidak boleh seperti ini. Anda harus selamat.”
“Dengan mengorbankanmu? Aku tidak bisa Redrick.”
“Tidak ada waktu lagi. Nona, kumohon. Demi ayah dan ibu anda.”
“Demi orangtuaku, aku tidak bisa.”
“Nona….” Redrick menghela napas berat. Aku tahu apa yang sedang di pikirannya. Seperti yang ingin dilakukan Redrick, aku pun ingin melindungi Redrick. Aku tidak ingin ia mendapat masalah karenaku.
Jika harus ada kematian, maka akulah yang harus mati.
Wajah Redrick tiba-tiba menegang, tatapannya tertuju pada seseorang yang berada di belakangku. Aku memutar badan, kulihat ibu turun dengan Gloudes di belakangnya. Perlahan aku mundur, Redrick menunduk dan kedua tangannya gemetar hebat.
“Singkirkan dia,” perintah ibu ditujukan kepada Gloudes, jelas-jelas artinya ibu ingin menyingkirkan Redrick melalui tangan Gloudes.
“Hentikan. Jangan. Jangan lakukan apapun kepada Redrick, ia tidak bersalah.”
Gloudes berhenti namun perintah ibu membuatnya kembali bergerak. Wajah Redrick memucat seperti kertas. Aku hendak berlari ke arah Redrick, untuk melindunginya saat tiba-tiba sesuatu membuka pintu secara paksa hingga angin mengibas cukup kencang dan debu pekat membumbung beberapa saat.
Sesuatu menggeram dengan suara yang terlalu jelas untuk diabaikan, aku hendak menoleh namun sesuatu menarik kerah bajuku dan membuatku terlempar lalu mendarat pada sesuatu yang berbulu lebat yang hangat dan empuk.