Ethan berhenti saat kami tiba di sebuah tanah yang cukup lapang, namun bukan tempat yang dulu pernah kami gunakan untuk beristirahat. Di tempat ini hanya ada pepohonan akasia dan semak-semak belukar.
Aku duduk di atas sebatang pohon yang telah roboh. Mengambil botol berisi air dan meneguknya sampai aku merasa puas. Memadang ke seluruh arah, dimana hanya ada pohon-pohon, semak belukar dan serangga-serangga kecil.
Sebenarnya tempat ini sangat menenangkan. Dedaunan bergemerisik karena tertiup angin. Aroma alam yang memberi kedamaian, tapi aku tak punya waktu untuk menikmatinya, jadi aku memutuskan untuk bangkit dan melihat kondisi para werewolf.
Para werewolf juga istirahat setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh dan berjam-jam, padahal mereka berubah menjadi wolf saat melakukan perjalanan ini. Berlari kencang agar bisa tiba sebelum malam tiba.
Setelah memastikan kalau para werewolf baik-baik saja kecuali karena kelelahan, aku kembali duduk ke batang kayu yang roboh sambil tersenyum saat Ethan menghampiriku setelah … entah darimana.
“Makanlah, Mate.” Ethan memberiku segenggam buah beri hitam dan biru.
Aku memakan buah beri itu dengan cepat. Perutku sangat lapar dan mungkin aku bisa makan daging mentah andai saja Ethan memberiku itu.
“Kau mau,” tawarku padanya saat ia mengamatiku menikmati buah itu.
“Aku tidak lapar. Kalau masih lapar, aku akan mencari makanan lagi untukmu,” jawabnya.
Segenggam buah beri dan perhatiannya sudah pasti membuatku kenyang. Aku menggeleng sambil memasukkan empat beri yang tersisa, mengunyahnya dengan cepat lalu menelannya.
“Alpha, silakan makan daging yang baru saya dapat ini.” Hewolf yang merupakan warrior dari Desa Herrai menyerahkan dua potong daging yang darahnya masih menetes.
Bahkan sudut bibir lelaki itu masih terdapat bekas darah dari hasil santapannya. Aku tersenyum untuk menutupi rasa jijik membayangkan bagaimana ia mengoyak binatang untuk dirinya dan sebagian ia serahkan kepada Ethan.
“Terima kasih.” Ethan menerima daging itu dengan sopan, meski aku yakin ia pun takkan bisa memakannya, setidaknya tanpa dicuci dahulu.
Hewolf itu masih berdiri, menunggu sampai Ethan memakan daging itu. Sebagai Alpha yang tak ingin menyakiti ketulusan warriornya, Ethan harus memakan daging itu di depannya. Padahal sebagai werewolf yang terbiasa telah termakan modernisasi, ia selalu makan makanan bersih bahkan meskipun makanan itu masih mentah.
Ethan memandangku dengan dua alis bertaut saat memandang dua potong daging itu. Aku hanya mengedikkan bahu, karena aku pun ingin melihatnya makan dengan cara bar-bar seperti werewolf yang pernah kulihat di televise.
“Anda juga harus memakannya. Itu daging segar dan sangat enak,” pinta hewolf itu padaku.
“Maafkan aku. Tapi aku tidak bisa makan makanan mentah. Kau pasti tahu kalau aku bukan werewolf,” ucapku jujur.
Ada kekecewaan yang tampak di wajahnya, namun ia mengerti kalau kami berbeda. Ia pun memandang Ethan dan benar-benar menunggunya untuk makan daging….
“Daging apakah itu?” tanyaku.
“Rusa. Saya mendapatkannya disana.” Ia menunjuk ke arah belakangku.
Aku mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia kembali sibuk menunggu Ethan menggigit daging pemberiannya. Aku pun melakukan hal yang sama hanya agar tidak kehilangan momen Ethan makan daging mentah yang masih berdarah-darah.
Setelah beberapa saat mengamati daging itu, akhirnya Ethan mewujud menjadi wolfy dan memakannya. Aku menjadi kecewa karena aku berharap ia memakan daging itu saat ia masih menjadi Ethan. Kalau menjadi wolfy, dia bisa makan apapun bahkan bisa berburu sendiri dan memakannya.
Hewolf itu tersenyum lalu meninggalkan kami dengan perasaan puas. Wolfy menghabiskan daging itu dalam sekejap lalu berubah wujud lagi menjadi Ethan.
“Aku tahu kau menungguku makan daging itu.”
“Kau bilang daging mentah itu enak. Anggap saja kau makan sushi atau sashimi,” ledekku.
“Tidak sebanding, kau pasti tahu itu.” Ethan menurunkan bibirnya dan itu membuatku tertawa melihat ekspresi wajahnya.
***
Malam telah datang, keadaan jadi sangat gelap. Seorang hewolf dengan rambut yang dikepang, yang berasal dari Desa Herrai menyalakan api unggun.
Semua werewolf melingkari api unggun. Kami menikmati makan malam,hasil perburuan beberapa werewolf. Beberapa makan daging mentah begitu saja, beberapa lagi lebih memilih untuk memanggangnya lebih dahulu sebelum menyantapnya, termasuk aku.
“Pack kita hanya satu kilometer dari tempat ini. Aku dan beberapa dari kalian akan mengamati keadaan sebelum membuat rencana untuk merebutnya lagi,” kata Ethan sambil menikmati makan malam.
Aku yakin dengan kemampuannya jadi aku makan dengan tenang bahkan saat Ethan pergi bersama beberapa warrior yang telah ia pilih pun aku tak memiliki pikiran apapun karena aku tahu Ethan adalah werewolf yang kuat, ia adalah alpha, pemimpin pack yang telah dipilih bahkan sebelum ia lahir.
Tapi perasaanku jadi tak tenang saat waktu sudah benar-benar lama berlalu dan ia belum juga kembali. Aku mondar-mandir sambil sesekali melempar sinar putih di jalan yang dilaluinya tadi. Menyinarinya sambil berharap Ethan dan semua warrior datang dengan baik-baik saja.
“Alpha kita adalah alpha yang kuat. Saya yakin dia baik-baik saja,” kata seorang warrior perempuan yang memiliki otot sekencang laki-laki.
“Saya Emanuela, mate saya ikut dengan alpha. Saya yakin dia bisa menjaganya,” ujarnya.
“Aku tidak meragukannya. Hanya saja aku tidak bisa tidak khawatir karena mereka pergi sudah terlalu lama,” ujarku.
“Tapi terimakasih, kau sudah mengangkat sedikit kekhawatiranku,” lanjutku.
Hari sudah sangat malam, beberapa werewolf memutuskan untuk tidur sementara aku bahkan tak bisa memejamkan mata. Beberapa werewolf berjaga dan beberapa lagi sibuk berbicara satu sama lainnya.
Seseorang berjalan terseok-seok, ia menyeret satu kakinya yang terluka. Semua perhatian werewolf tertuju padanya.
“Dimana yang lainnya?” tanyaku saat hanya dia yang datang.
“Saya dikirim alpha kembali untuk menyampaikan pesan kalau alpha dan yang lain baik-baik saja.” Ia menunduk dengan wajah murung.
Aku tahu maksudnya, hal buruk telah terjadi dan aku yakin Ethan mengatakannya hanya untuk membuatku tenang. Lagipula kenapa dia tak melalukan mindlink seperti biasanya kalau memang tidak ada sesuatu yang terjadi.
“Aku harus kesana,” ujarku sambil berjalan cepat menuju jalan yang ditempuh Ethan sebelumnya.
Meskipun hari sudah malam, aku bisa dengan mudah mencari jalan berkat kemampuan sihirku dalam membuat sinar putih. Aku bahkan bisa menggunakannya untuk bertempur dan aku bisa menggunakan sihirku untuk melindungi diri, jadi apa yang harus kutakuti.
“Luna, saya mohon untuk tetap di tempat ini. Alpha sudah memerintahkan saya untuk tetap menjaga anda.” Hewolf itu memotong jalanku dengan satu kakinya yang pincang.
“Katakan padaku, bagaimana kau bisa kembali dengan pincang padahal tadi kau tidak seperti itu.” Aku mengamati kakinya yang terluka tanpa ada rasa canggung sekalipun.
“Saya….” Ia mendecak, pasti karena ia tak tahu jawaban apa yang harus ia berikan padaku.
“Aku tahu. Kau tak perlu takut Ethan akan marah. Aku pergi untuk menyelamatkannya dan jangan mencegahku. Bagaimanapun juga aku Ratu.” Lebih tepatnya aku pengganti ibu yang merupakan ratu di tempat ini, di pack yang dipimpin oleh beberapa alpha sebelumnya.
“Tapi….”
Aku membuat sebuah gelembung lapisan pelindung yang sangat besar yang membuat mereka terkurung dalam arti yang aman. Aku bisa melindungi mereka dan aku bisa pergi dengan perasaan tenang, meskipun aku tahu mereka pasti bisa menyelamatkan diri sendiri jika ada serangan tapi lebih baik mencegah daripada hal buruk terjadi.