Kehidupan baru

1096 Kata
Tidak berselang lama setelah pertemuan di malam itu, acara pesta pernikahan Ayah dan Ibu Esperanza dilangsungkan. Menggunakan tema pesta kebun di kediaman keluarga Catilde. Ibu mengundang begitu banyak orang sehingga halaman belakang rumah Ibu menjadi penuh sesak. Halaman belakang rumah Catilde berupa tanah lapang dengan sebuah kolam dengan air mancur di tengahnya. Meja panjang ada di sisi kanan dan kiri, dengan aneka makanan yang dihidangkan disana sehingga para tamu bisa menyantap makanan dengan cara melayani diri mereka sendiri. Sebuah fontaine coklat dengan aneka buah mengitarinya, ada di sebelah kanan, bersebelahan dengan meja panjang. Di tengah-tengah meja panjang, terdapat sebuah gazebo yang digunakan Ayah dan Ibu saat mereka disumpah setia, menjadi pasangan suami istri dalam suka dan duka. Aku berdiri bersama Bianca dan Clara, mengenakan pakaian yang sama berupa gaun berwarna putih gading tanpa lengan, melekat pas di tubuh dari pundak sampai pinggang dan melebar dari pinggang hingga lutut. Aku merasa menjadi tontonan disini, apalagi saat para undangan memerhatikan kami bertiga, berdiri seperti orang bodoh yang harus tersenyum setiap kali mereka memandang kami. Aku merasa tidak nyaman dan ingin segera pulang ke Westville dan aku ingin hibernasi sampai besok pagi. Ayah menoleh ke arahku, melepaskan tangan Ibu lalu mendekatiku. Aku senang karena Ayah masih memerhatikanku di tengah kerumunan orang asing yang tidak satupun kukenal. Syukurlah, di saat aku benar-benar bosan, Ayah akhirnya menolongku. Ayah berdiri dengan satu tangan terulur kepadaku, hanya sebuah senyuman darinya yang artinya ia ingin mengajakku berdansa. Tanpa berpikir panjang, aku segera menggenggam tangannya lalu kami berjalan ke lantai dansa. Satu tanganku melingkar di pinggang Ayah dan satu tangan berada di genggamannya. Bergerak mengikuti alunan musik yang sangat indah, Ayah tersenyum membuatku ikut tersenyum. Kami berdansa tanpa memikirkan orang-orang serta Ibu yang sedang memandang kami berdua. Lantai dansa seolah hanya milik kami, karena tidak ada orang yang berdansa selain kami. "Ayah sangat bahagia.” Dari caranya tersenyum, sudah jelas Ayah sedang sangat bahagia. "Aku tahu.” Aku senang melihat Ayah sebahagia sekarang. Sudah waktunya bagi Ayah menikmati kehidupannya bukan. “Akhirnya aku bisa pergi dan pulang malam tanpa mengkhawatirkan Ayah.” Mendengar ucapanku, Ayah tertawa terbahak-bahak. Baru pertama kali ini aku melihat Ayah tidak berhenti tersenyum dan tertawa. “Tidak bisa seperti itu, gadis muda. Ayah tetap memberimu jam malam.” Aku memutar bola mata, tentu saja aku tahu. Lagipula di Westville, tidak ada yang keluar rumah di malam hari. Aku dan Ayah terus saja berdansa sambil berbincang, sejenak aku melupakan Ibu yang seharusnya sedang menikmati hari bahagianya. Aku hanya bisa menghela napas berat, kasih Ayah kini harus kubagi bersama Ibu dan dua saudari tiriku. "Sebaiknya Ayah kembali berdansa dengan Ibu. Bagaimanapun ... Ini hari bahagia kalian.” Kami berhenti berdansa meskipun sebenarnya aku masih ingin berlama-lama dengan Ayah. Kupeluk Ayah erat, serasa tidak rela jika ia meninggalkanku, tapi sejujurnya aku memang tidak benar-benar rela. "Ibumu sangat cantik, Bukan?" Ayah memandang Ibu yang sedang berdiri bersama dua saudariku dan sedang menatap kami. Dua tangannya bersidekap, entah mengapa aku menjadi benar-benar tidak enak karena telah merebut Ayah darinya. "Dia sangat cantik.” Ibu memang benar-benar cantik, itu tidak bisa kubantah. Tapi meski demikian, Ibu kandungku jauh lebih cantik, tentu saja. Tidak ada wanita manapun yang bisa menggantikan posisinya di hatiku. Sekalipun posisinya di hati Ayah telah tergantikan. *** Kehidupanku kini berubah drastis semenjak Ibu ada dalam keluarga Madamoissale. Wanita itu menempatkan diri pada tempatnya dan menempatkanku pada tempatku. Sebagai nona, hanya nona, bukan lagi merangkap sebagai nyonya karena posisi ini telah terisi. Berjalan menyusuri lorong lantai tiga, tidak ada lagi pelayan yang berlari ke arahku. Tidak ada yang menanyaiku soal menu makanan, meminta daftar belanja atau harus menyiapkan jamuan dan pekerjaan lainnya. Aku sendiri kini tidak perlu berpikir soal menggaji pekerja. Aku pun tidak perlu memeriksa hasil pertanian dan peternakan karena semua pekerjaan itu kini dikerjakan oleh Ibu. Bianca dan Clara baru saja naik ke lantai tiga dengan wajah suka cita, keduanya berjalan sambil mengamati kartu-kartu ATM yang mereka dapatkan dari Ayah. Kartu-kartu yang sama seperti yang aku miliki. "Kita bisa belanja sesuka hati kita.” Carla mencium kartu itu sebelum memasukkannya ke dalam tas tentengnya. "Tentu saja. Tapi lebih baik kita ke Sommerset. Westville sangat kampungan.” Bianca mengibaskan rambut, mulutnya melengkung ke bawah saat mengatakan hal itu. Keduanya melewatiku begitu saja, terlalu asyik bicara hingga tanpa sadar bahwa aku ada di dekat mereka. Sejenak aku berhenti, menatap punggung mereka yang semakin menjauh. Dua orang itu sangat berbeda denganku, mungkin karena mereka terbiasa hidup di kota. Bahkan cara berpakaian kami sangat berbeda. Clara dan Bianca suka memakai gaun mahal sementara aku, lebih suka memakai kaos serta celana jins. Aku berada di dapur bersama Bibi Dorothy. Wanita paruh baya itu sedang membuat kue saat aku datang. Hubungan kami lebih daripada yang bisa dibayangkan. Semenjak kepergian Ibu, Bibi Dorothy sudah tidak ubahnya sebagai seorang ibu bagiku. Sejak mengetahui Ayah akan menikah lagi, aku tahu Bibi Dorothy keberatan dengan keputusan Ayah. Bukan karena Bibi Dorothy suka kepada Ayah karena ia sudah memiliki suami, tetapi Bibi Dorothy cemas jika ibu baruku bukanlah wanita berhati tulus dan kenyataannya Bibi Dorothy merasa Ibu bukanlah wanita yang tulus mencintai Ayah sebagai pria, bukan sebagai pemilik kastil dan peternakan yang luas. Meskipun Bibi Dorothy tidak mengatakannya kepadaku, tapi aku bisa tahu dari cara Bibi Dorothy memandang Ibu serta memandangku dan Ayah. Kedekatan kami selama ini mungkin membuatku bisa memahami isi hati serta isi kepalanya. "Nyonya besar mengatur semuanya dengan baik. Seperti yang Nona lakukan dulu hanya saja..." Bibi Dorothy tidak melanjutkan ucapannya. Ia mengernyitkan dahi, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. "Hanya apa, Bibi Dorothy?” Aku mendesaknya, ingin mendengarkan apapun yang Bibi Dorothy ketahui. "Ia membuat peraturan yang membuat para pelayan kecewa. Dia menambah jam kerja sementara uang gaji kami tetap sama. Belum lagi kami dilarang libur kecuali sakit dan itu pun harus dengan surat keterangan dokter. Bukan maksud saya mengadu, hanya saja … kami juga butuh waktu untuk beristirahat. Nona mengerti kan maksud saya?" Aku sangat terkejut dengan apa yang baru saja kuketahui, bagaimana bisa Ibu melakukan hal seburuk itu kepada para pelayan. "Nanti akan kubicarakan dengan Ayah. Sekarang, saatnya menyiapkan makan malam. Kita adakan pesta seperti biasa.” Pesta bagi pekerja sudah menjadi tradisi dalam kastil Madamoissale. Keluarga Madamoissale menganggap semua pekerja sebagai satu keluarga. Setiap jumat, kami akan menikmati malam santai di halaman depan kastil. Seluruh pekerja makan bersamaku serta Ayah, tak jarang Ayah mengeluarkan brennivin, fermentasi kentang lembek dan biji-biji tanaman yang merupakan minuman tradisional Islandia yang juga merupakan minuman khas pulau ini. "Pesta hanya dilakukan oleh kita. Tidak ada pesta dengan pelayan. Derajat kita berbeda. Ella...." Aku menoleh ke sumber suara, entah sejak kapan Ibu tiba-tiba sudah ada di belakangku. Kehadiran Ibu membuat air muka Bibi Dorothy berubah. Kepalanya tertunduk dan dua tangannya saling tumpang tindih di depan tubuhnya, menyiratkan kegugupan luar biasa. Sementara itu, Ibu memandang Bibi Dorothy dari atas kepala sampai kaki. Seolah Ibu sedang menilai sesuatu dari Bibi Dorothy. Aku menyebutnya, tatapan Ibu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN