Tak terbantahkan, hingga tak bisa berkutik, kedua benalu itu pun terusir dari ruanganku. Masih bisa kudengar umpatan dan makian dari mulut mereka, ketika langkahnya semakin menjauh. Aku meledakan tawa, sambil menutup pintu ruanganku dengan cepat. “Rasakan, kalian! Sok-sokan mau merebut perusahaan, mendiang Mommyku. Jangan mimpi!” seruku di sela tertawa puasku. Tony nampak menggelengkan kepalanya sambil terkekeh lirih, mendengar ucapanku. Aku yang menyadari hal itu pun, langsung menghentikan tawaku. “Thanks, ya, Tony. Terima kasih banyak atas bantuanmu yang tak terduga ini. Berkat dokumen rahasia penting itu, Celine dan Marco tidak akan pernah berani untuk mengusik perusahaan lagi.” “Sama-sama, Nona Areta,” ucapnya lirih dengan anggukan. Namun, senyumannya nampak terlihat menyiratkan ban

