Di kamar Justin. Sesampainya di kamar Justin, aku langsung diturunkan ke atas ranjang yang biasa aku tempati selama ini. Tatapan Justin yang dalam, namun begitu penuh arti, sangat menusuk sampai ke jantung hatiku. Sejenak, aku tenggelam dalam kerinduan penuh damba. Seperkian detik kemudian, Justin melepaskan dasi yang melingkar di kerah kemejanya dengan gerakan cepat. Setelah itu, dia mengungkungku dengan tubuhnya yang kekar, sambil menerbitkan senyuman khasnya yang memesona. Deg! Jantungku terus berdebar kencang, tak henti-hentinya. Sepertinya, aku memang telah benar-benar jatuh cinta kepada pria yang ada di hadapanku ini. Pria misterius yang menyimpan banyak rahasia, sekaligus banyak musuh di mana-mana. Si4lnya, dia adalah suamiku. Seorang suami yang tak pernah kukenal sebelumnya.

