Di dalam sebuah kebingungan seorang diri, aku masih tak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupku ini. Kini, aku sedang mematut diri di depan sebuah cermin besar mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading yang begitu indah dan elegant. Sejujurnya aku tak tahu, apakah aku harus sedih atau bahagia. Pasalnya, aku sudah terlalu jauh membohongi seorang kakek yang sangat baik hati itu. Tak hanya baik hati, opah Carlos pun sangat penyayang dan dermawan. Bagaimana mungkin aku tega terus membohonginya seperti ini. Huh, Justin memang seorang cucu lucnut! ‘Mommy, maafkan putrimu yang telah terperangkap dalam sebuah kebohongan yang terus saja memaksaku untuk selalu melakukannya. Ya Tuhan, ampunilah dosaku ini.’ Aku menghapus air mataku yang tanpa sadar sudah menetes saja, ketika

